BOJONEGORORAYA – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Bojonegoro membuka lembaran baru. Sebanyak 387 siswa baru akan memulai perjalanan menempuh sekolah di MAN 1 Bojonegoro. Mulai Senin (14/7/2025).
Apel pagi akan menjadi penanda tahun ajaran baru. Siswa baru bersama orang tua atau wali murid akan ikut apel pagi. Melebur menjadi satu. Membersamai. Apel bersama siswa baru, orang tua, dan guru.
‘’Apel bareng. Siswa baru, wali murid, guru. Memulai Matsama (masa ta’aruf siswa madrasah. Momentum orang tua menyerahkan pembelajaran kepada pihak madarasah,’’ kata Kepala MAN 1 Bojonegoro Eko Supriyanto.

Siswa MAN 1 Bojonegoro ini menyebar. Berbagai kecamatan. Bahkan, MAN berada di Jalan Monginsidi, Bojonegoro, tersebut menjadi satu-satunya sekolah dengan siswa dari berbagai kota/kabupaten.
Dari 387 siswa baru, selain dari Bojonegoro, ternyata ada pelajar dari Kecamatan Jatirogo, Singgahan, Kabupaten Tuban. Ada juga dari Lamongan. Bahkan, banyak juga dari Blora, Jawa Tengah.
‘’MAN ini tidak mengenal zonasi dalam penerimaan siswa baru. Adanya siswa dari luar kabupaten menunjukkan MAN 1 Bojonegoro, memiliki karakter,’’ tutur Eko sapaannya.
View this post on Instagram
Miliki Kelas SKS, Bahasa, dan Taruna
MAN 1 Bojonegoro dengan tagline madrasah tahfidz, riset, dan literasi ini sudah menutup lama penerimaan peserta didik baru (PPDB). Kuota sudah terpenuhi. Siswa baru 387 pelajar dengan 11 kelas.
Menurut Eko, MAN 1 Bojonegoro terdapat kelas khusus peserta didik cerdas istimewa (PDCI). Kelas ini program percepatan. Akselerasi. Kelas ini menerapkan sistem kredit semester (SKS).
‘’Siswa di program PDCI ini dengan menerapkan SKS ternyata bisa lulus salama dua tahun. Percepatan,’’ turut mantan guru MAN 2 Bojonegoro tersebut.
Siswa nantinya juga ada tes IQ. Selain itu ada program kelas bahasa. Menerapkan bahasa inggris dan bahasa arab. Siswa bisa mahir berbahasa internasional.
‘’Satu lagi program kelas taruna,’’ beber Eko.
Mansabo sebutan MAN 1 Bojonegoro ini juga memiliki asrama. Megah. Bertingkat. Bersih. Asrama ada tiga. Yakni, makhad putra dan putri. Asrama kelas taruna. Serta, asrama kelas PDCI.
‘’Siswa dari luar kabupaten ada yang ikut pondok pesantren sekitar sekolah. Ada yang ngekos,’’ jelasnya. (sab/kza)

