Kilau Cuan Ratusan Juta di Balik Bisnis Barbershop Bojonegoro

BISNIS ANAK MUDA: Putra memangkas rambut salah satu pelanggan di barbershop di Jalan MH Thamrin, Bojonegoro. Bisnis ini berkilau. Potensi bisnis terbuka lebar. (Foto: Lukman Hakim/ Bojonegoro Raya).

BOJONEGORORAYA – Putra mengambil gunting dan sisir di meja mungil. Jari-jemarinya cekatan. Kanan memegang gunting, kiri sisir. Rambut seseorang yang duduk di kursi empuk pun mulai diracik.

Sesekali menatap cermin di depan. Melirik helai rambut. Memulai memangkas. Seksama. Putra salah satu barber atau kapster. Sosok mendesain rambut yang membuka barbershop di bilangan Jalan Thamrin, Bojonegoro.

’’Saya dan teman-teman mulai membuka barbershop sekitar lima bulan. Desember 2025 hingga sekarang,” tutur Putra ditemui di outlet barbershop miliknya di Jalan Thamrin, Minggu (12/4/2026).

Barbershop semakin menjamur di sudut dan tepi jalan perkotaan Bojonegoro. Hampir di setiap jalan di perkotaan, ada outlet barbershop. Bahkan, satu jalan ada tiga sampai empat barbershop.

Misalnya, di Jalan Pemuda, Bojonegoro, dalam satu deret jalan memanjang timur barat tersebut terdapat tiga barbershop. Jalan MH. Thamrin, ada empat barbershop.

Ciri khasnya, ruangan sederhana. Mungil. Namun, elegan. Ruangan tertutup berkaca. Terang. Bisa dilihat dari luar. Bersih. Nyaman, dengan mesin pendingin (AC).

Bahkan, gerai rias rambut khusus lelaki ini sudah merambah di kecamatan. Menjelajah sampai di desa-desa. Gesekan gunting dan deru mesin cukur modern mewarnai gaya hidup muda-mudi Bojonegoro.

Saat anggaran dari pusat untuk daerah dipangkas, pelaku usaha pangkas rambut modern justru semakin trengginas. Dalam satu dekade atau 10 tahun terakhir, usaha barbershop mulai menjamur. Mewabah.

Menjadi ladang cuan, yang memanen rupiah dari helai-helai rambut. Jadi jalan usaha baru di tengah lifestyle muda-mudi terkini.

Putra mengatakan, kali pertama barbershop bercokol di Bojonegoro sekitar 2016 lalu. Pistop jadi satu usaha barbershop mengisi ruang kreatif pangkas rambut modern satu-satunya. Lambat laun, mulai bermunculan barbershop.

‘’Awalnya ikut bekerja di barbershop. Selanjutnya resign dan membuka barbershop sendiri,’’ tutur kapster tinggal di Kelurahan Mojokampung, Bojonegoro.

Rambut Adalah Mahkota, Pelanggan Kian Terbuka

Bagi anak muda, rambut adalah mahkota. Sementara, pelanggan barbershop mayoritas anak muda. Tentu, kualitas pelayanan, menurut Putra, menjadi aspek terpenting. Bercakap. Nyaman dan bersih.

Meski perlu mengeluarkan modal lebih besar daripada rias atau potong rambut konvensional, babershop masih menjadi pilihan. Punya magnet.

‘’Barbershop memberikan sesi konsultasi gaya rambut sesuai dengan anatomi wajah pelanggan,’’ tutur lelaki sudah 9 tahun bergelut seni rias rambut.

Baca Juga :  16 Geosite Geopark Bojonegoro yang Perlu Diketahui, Tersebar di 10 Kecamatan

Gaya hidup muda-mudi selalu ingin mengikuti tren terkini jadi peluang bisnis barbershop. Kualitas pelayanan jadi strategi bertahan di tengah persaingan.

Putra membeberkan, dari jumlah customer yang datang, setidaknya harus ada sekitar 70 persen pelanggan tetap. Artinya, puas dengan pelayanan para kapster. Sementara 30 persen sisanya bisa pelanggan random.

‘’(Bisnis barbershop) mengedepankan kenyamanan. Kualitas dan kepercayaan. Orang akan datang kembali,” tuturnya kepada Bojonegoro Raya.

Geliat bisnis barbershop masih berpotensi. Terus melanggeng di bursa bisnis lifestyle anak muda. Uniknya, para kapster atau pekerja barbershop mempunyai sebuah komunitas di Bojonegoro.

Sebagai ajang berkumpul. Diskusi dan sharing tentang perkembangan barbershop di daerah. Bahkan, menggelar kegiatan sosial bersama.

‘’Ada grup WA (WhatsApp) yang menampung banyak anggota barbershop se-Bojonegoro,” tambahnya.

MERACIK RAMBUT: Ilham menunjukkan kepiawaiannya dalam memotong rambut. Bisnis barbershop terus tumbuh. Kini, merambah di desa dan kecamatan di Bojonegoro. (Foto: Lukman Hakim/ Bojonegoro Raya).

Anak Muda Kreatif, Buka Usaha Barbershop

Barbershop berasal dari bahasa latin barba. Artinya, janggut atau jenggot. Tentu, barbershop juga seni menata rambut, jenggot, hingga kumis. Gaya hidup anak muda. Semua kalangan.

Bojonegoro Raya bercakap dengan seorang kapster anak muda. Usia belum ada 20 tahun sudah membuka barbershop di Jalan MH. Thamrin. Menyewa sebuah toko mungil ukuran sekitar 2,5×4 meter.

Outlet-nya sederhana tapi mentereng. Tertutup kaca, menunjukkan bersih. Dinding putih. Minim debu. Memasukinya nyes, adem dari mesin pendingin (AC).

‘’Belajar potong rambut saat bekerja (barbershop) di kota lain. Lalu, membuka sendiri di Bojonegoro,’’ tutur pemuda hendak menuntaskan kejar paket C.

Pemuda asal Kecamatan Malo tersebut mengatakan, bekerja sendiri lebih nyaman. Lebih enjoy. Dan, menemukan basic-nya sebagai kapster rambut. Cuan mengalir. Pendapatan terjaga.

Dia kini punya obsesi. Membuka barbershop lalu ingin kuliah di Bojonegoro. Pagi kuliah, siang sampai malam bisa membuka barbershop. Ya, kerja, juga kuliah.

Ruangan Nyaman, Bersih dan Ber-AC

Terpisah, Rere salah satu kapster di Jalan Pemuda mengatakan, bisnis rias rambut lelaki ini masih terbuka lebar. Peminat cukur di barbershop semakin tinggi membuatnya tertarik.

Ia pun ingin membuka usaha barbershop sendiri mendatang. Masih menunggu momen dan mengumpulkan amunisi.

Baca Juga :  Harapkan Galeri Seni dan Papan Pertunjukan di Kampung Thengul

‘’Kalau untuk yang minat saat ini cukup banyak, yang membuka barbershop juga semakin bertambah,” tuturnya kepada Bojonegoro Raya.

Rere menghitung setidaknya lebih dari tiga usaha barbershop di bilangan Jalan Pemuda. Tentu dirinya menyadari, semakin banyak barbershop, persaingan akan semakin ketat. Butuh inovasi dan pelayanan berkualitas.

‘’Terpenting mengedepankan pelayanan dan mempunyai pelanggan tetap,” ujarnya dengan santai usai merias rambut.

Menurut Rere, untuk menjadi barber profesional ada training atau pelatihan mencukur. Menguasai banyak model rambut. Terdapat sertifikat mendukung keahlian.

Meski begitu, tidak menjadi keharusan. Karena mencukur adalah salah satu pekerjaan seni menata rambut. Ada kepuasan tersendiri, ketika pelanggan berdiri, menatap cermin. Tengok kanan-kiri menatap rambut. Sudah ganteng.

MEMOLES MAHKOTA: Nyaman dan fasilitas memadai. Itulah ciri khas barbershop yang lagi menggejala di Bojonegoro. Berdasar survei, rerata setiap orang, potong rambut sebulan sekali.

Merambah Kecamatan Pinggiran, Menyapa Desa

Peta bisnis menjadi pijakan menambah gerai barbershop. Dan, barbershop menjamur di desa dan kecamatan. Kini, anak muda semakin dekat dengan barbershop. Sudah biasa memasuki gerai pusat kegantengan lelaki.

Ilham Musyafa salah satu pemilik barbershop mengatakan, mempunyai dua usaha rias rambut. Sudah berjalan 2,5 tahun lalu. Mengambil lokasi di Kecamatan Sukosewu. Segmentasi pasar menengah ke bawah.

‘’Kalau sebelumnya mengambil segmen menengah ke atas, ternyata lebih menguntungkan segmen menengah ke bawah,’’ tuturnya.

Menurut Ilham, bisnis barbershop beberapa tahun terakhir berkembang. Merambah di kecamatan, karena barbershop mengedepankan kenyamanan.

Fasilitas ruangan lebih lengkap. Free wifi. Ada alunan musik. Televisi dan ruang ber-AC. Kapster bersepatu. Berkaus kasual. Modis.

Berdasar Survei, Sebulan Sekali Pelanggan Cukur Rambut

Bisnis barbershop memiliki potensi. Usaha mendatangkan cuan dari helai rambut. Dalam satu bulan, bisnis ini rerata mengantongi omzet bersih sekitar Rp 3 juta.

Dengan estimasi pelanggan 10 hingga 15 pelanggan dalam satu hari. Sementara, untuk weekend lebih banyak. Lebih bersemangat.

‘’Kalau hari libur bisa sampai 25 pelanggan,” tutur Ilham Musyafa.

Menurut Ilham, biaya operasional barbershop dengan segmen pasar menengah ke bawah lebih ringan. Perbandinganya tiga kali lipat daripada segmen menengah ke atas. Hal itu, memengaruhi pilihannya membuka usaha di kecamatan.

Tim Bojonegoro Raya, melakukan survei terkait bisnis barbershop ini. Riset sederhana ini menyasar 50 responden. Rerata setiap orang butuh cukur rambut sekali dalam satu bulan.

Baca Juga :  Tiga Calon Sekda Bojonegoro Sudah Mengemuka, Tinggal Dipilih Bupati

Sisanya mencukur rambut sekali dalam 1,5 bulan. Bahkan, ada beberapa profesi khusus, butuh cukur setiap dua minggu. Misalnya, satpam, tantara, hingga polisi.

Sebulan, Perputaran Uang Ratusan Juta

Pelanggan barbershop biasanya ramai, ketika minggu. Pas hari libur, biasanya anak sekolah memangkas rambut. pelanggan membeludak ketika ada momen hari besar dan menjelang tahun ajaran baru sekolah.

Angka ini, tentu menjadi modal. Menjadi bekal, bahwa potensi bisnis barbershop ini cukup terbuka. Ladang mendatangkan cuan.

Biaya atau ongkos cukur rambut di barbershop bervariasi. Ada yang Rp 20.000. Namun, rerata Rp 25.000 hingga Rp 30.000. Biaya yang memasyarakat.

Tim Bojonegoro Raya juga berkeliling perkotaan mendata bisnis barbershop. Serta, melakukan analitik dari aplikasi Google Maps. Berdasar data, di kawasan perkotaan saja, saat ini tercatat lebih 20 barbershop.

Perputaran uang dari bisnis barbershop ini cukup besar. Sebulan ratusan juta. Pundi rupiah dari gerai helai rambut atau gerai pusat kegantengan lelaki.

Misalnya barbershop di perkotaan, jika rata-rata satu barbershop asumsi mendapat 15 pelanggan dalam sehari dengan biaya Rp 30.000 per pelanggan, tentu perputaran uang sektor tersebut berjumlah Rp 256,5 juta. Jumlah itu dalam satu bulan.

Butuh Recycle Limbah Rambut

UNTUK saat ini limbah rambut barbershop rerata masih menuju tempat pembuangan akhir (TPA). Belum ada pemanfaatan helai-helai rambut.

Ada peluang pengelolaan dan mendatangkan cuan. Namun, ada spesifikasi. Yakni, hanya rambut dengan panjang 5-10 sentimer (cm). Rambut dimanfaatkan pembuatan wig (rambut palsu) dan pembuatan alis.

‘’Beberapa orang biasanya datang ke tempat cukur menanyakan rambut panjang. Kalau tempat khusus di Bojonegoro (untuk recycle, Red) belum ada,” tegasnya.

Ilham mengatakan, dalam dunia barbershop terdapat dua kategori tukang cukur. Yakni kapster khusus potong rambut dan hair stylis untuk potong rambut dan perawatan, layaknya di salon.

Barber pun terdapat pelatihan resmi dan mendapatkan sertifikat. Bisa melalui komunitas. Maupun lembaga resmi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) provinsi maupun nasional.

Bagi lelaki, rambut adalah mahkota. Rambut bukan sekadar helai yang tumbuh di pucuk kepala. Rambut menjadi mahkota tanpa tahta yang merangkai wibawa. (man/kza)

error: Content is protected !!