Kirab Delapan Pusaka Ki Andong Sari, Antara Budaya dan Bak Karnaval Tlatah Ledok

MEMBUDAYA: Delapan pusaka Ki Andong Sari diarak berkeliling Kelurahan Ledok Kulon, Ledok Wetan, dan Pasar Kota Bojonegoro, Minggu (20/7/2025). Warga antusias melihat perayaan budaya bertepatan bulan Sura atau Muharram. Foto: Khorij Zaenal A-Bojonegoro Raya.

BOJONEGORORAYA – Pusaka Ki Andong Sari memancarkan aura. Mentas dari pertapaan untuk jamasan dan rangkaian Haul Ki Andong Sari. Kirab. Mengelilingi kampung Kelurahan Ledok Kulon, Ledok Wetan, dan Pasar Tradisional Kota Bojonegoro. Tlatah Ledok.

Minggu (20/7/2025) proses haul berlangsung. Pagi hingga siang. Semarak. Warga macak (berhias) dengan langgam kostum zaman dahulu. Kebaya. Udeng obor sewu. Penghormatan. Mengikuti arak-arakan pusaka Ki Andong Sari. Membudaya.

Haul Ki Andong Sari berlangsung setiap bulan Sura (kalender Jawa) atau Muharam (kalender Hijriah). Jamasan pusaka secara khidmat. Upacara adat. Tetabuhan. Salawatan.

Delapan pusaka meliputi tombak godong andong. Tombak gagak cemani, tongkat galih kelor, dan tongkat menjalin bang. Tongkat menjalin porong, tombak singo barong, pedang cungkrik, kutang ontokusumo, dan kentrung.

Sekitar pukul 09.00, angin semilir mengalun di area makam Ki Andong Sari di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Ledok Kulon. Teduh berpayung pohon beringin yang besar. Berdekatan dengan Sungai Bengawan.

Suwono juru kunci makam Ki Andong Sari memimpin jamasan. Kakek tinggal tidak jauh dari bengawan ini mengecek satu per satu pusaka. Lalu, delapan pusaka itu diangkat. Dengan delapan pengiring membawa satu per satu pusaka.

Dari makam, pengiring para lelaki ini membawa pusaka menuju Balai Kelurahan Ledok Kulon. Berjalan. Beriringan. Dekat. Delapan pusaka yang dijaga sudah berada di balai kelurahan.

‘’Jamasan pusaka Minggu pagi. Kirab siangnya,’’ tutur Budi salah satu panitia Kirab Pusaka Ki Andong Sari.

RAMAH: Wabup Nurul Azizah bersama Budi Djatmiko, suaminya naik andong turut ikut Kirab Pusaka Ki Andong Sari.

Kirab Pusaka Berkeliling Kampung Tlatah Ledok

Kirab delapan pusaka Ki Andong Sari berjalan dengan semarak. Siang yang terik terasa bersemangat para pengiring membawa delapan benda pusaka mengelilingi Kelurahan Ledok Kulon, Ledok Wetan, dan Pasar Kota Bojonegoro.

Baca Juga :  Pelatihan Jurnalistik di SMPN 1 Ngraho: Memahami Berita, Opini, hingga Fotografi

Tlatah Ledok. Diikuti para tokoh. Naik andong. Berkuda. Dihias dengan rapi. Wakil Bupati (Wabup) Bojonegoro Nurul Azizah bersama suami, Budi Djatmiko ikut mengawal. Menyapa warga. Menebar senyum. Ramah.

Bahkan, ada warga memberinya semangka irisan. Segar. Bu Nurul sapaannya pun tersenyum makan semangka. Pelepas dahaga kala terik.

Kapolsek AKP Agus Elfauzi tersenyum juga ikut makan semangka. Danramil Kota Bojonegoro Kapten CBM Moch Ridhon juga naik andong. Menyapa warga.

Camat Bojonegoro Kota Muhlisin Andi Irawan. Lurah Ledok Kulon Siti Zumrotin Najiyati, Lurah Ledok Wetan. Naik andong beriringan.

RAGAM TEMA: Pesona warga mengikuti Kirab Pusaka Ki Andong Sari.

Layaknya Karnaval, Setiap RT Usung Tema Berbeda

Antusiasme warga cukup tinggi mengikuti perayaan budaya Kirab Pusaka Ki Andong Sari. Hampir merata, setiap rukun tetangga (RT) di Kelurahan Ledok Kulon, ikut tampil. Beragam

Warga menganggap pesona perayaan budaya warga tepi Sungai Bengawan ini layaknya karnaval. Setiap RT tampil dengan tema dan budaya. Anak-anak, pemuda, bahkan orang tua pun larut dalam Kirab Pusaka Ki Andong Sari ini.

‘’Seperti karnaval. Setiap RT tampil dengan gayanya sendiri. Bersemangat meski terik,’’ tutur Joko salah satu warga kepada Bojonegoro Raya.

Start pawai sekitar pukul 13.00. Dan pukul 15.30, peserta mulai berdatangan di garis finish. Yang tampil banyak. Yang menonton juga membeludak. Maklum, warga Kelurahan Ledok Kulon dan Ledok Wetan, merupakan kampung padat penduduk.

Jalannya kirab penuh pesona. Ada RT yang tampil dalam karnaval tersebut mengusung tema sosok Ki Andong Sari. Ada yang tampil buaya putih. Rerata membawa gunungan.

Siswa SDN Ledok Kulon membawa semangat budaya. Tampil dengan seni oklik. Tetabuhan dari bambu. Rancak. Orisinil.

Orang-orang Bengawan, sebutan warga Ledok Kulon ini memiliki beragam sentra perdagangan. Mulai sentra tahu ledok. Tempe ledok, jagal ayam (penjual daging ayam, hingga batu bata.

Baca Juga :  Setyo Wahono--Nurul Azizah Halalbihalal dengan Khofifah

Namun, mayoritas ibu-ibu berkebaya dengan alunan tangan dan kaki enerjik mengikuti sound. Menggelegar.

Sore beranjak. Warga yang membaur di sepanjang jalan kelurahan Ledok Kulon berangsur bubar. Senang. (kza)

error: Content is protected !!