Jipang Provinsi Baru: Makmur dari Minyak Bumi, Penyatu Padangan—Cepu

Oleh: Yusab Alfa Ziqin
Jurnalis Bojonegoro Raya

———————

Kota Padangan dan Cepu mestinya tumbuh dalam satu. Menjadi episentrum Jipang, provinsi baru. Minyak bumi tetap fondasi.

——————————-

JIPANG bukan nama kemarin sore. Sudah muncul sebagai nama daerah otoritatif pada 1264—tujuh setengah abad yang lalu. Hal itu sebagaimana isi Prasasti Maribong baris kelima. Dirilis Kerajaan Singasari. Di bawah kuasa Raja Jaya Wisnuwardhana.

Di imperium berikutnya, Jipang juga terekam. Salah satunya, dalam Prasasti Canggu rilisan Kerajaan Majapahit pada 1358. Dalam prasasti itu, Raja Hayam Wuruk menobatkan Jipang sebagai salah satu pewenang pelabuhan sungai Majapahit. Bergelar Naditira Pradeca.

Sepanjang Kesultanan Demak, Pajang, hingga awal Mataram, Jipang berstatus kadipaten. Saat kuasa elit Jawa kian sengkarut karena dicemari hegemoni Pemerintah Kolonial (Pemko) Belanda dan sedikit Inggris, otoritas Jipang timbul tenggelam. Diutak-atik, disempal, diekorkan, mengecil. Nyaris hilang.

Di bawah jajahan bangsa Eropa, Jipang hanya sekali berkaliber lagi. Terjadi saat Jawa dicekal Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles 1811—1816. Pada kurun waktu tersebut, Jipang menjadi keresidenan. Menaungi afdeeling Panolan, Padangan, Tinawun, Sekaran, Rajekwesi, Bowerno.

Pencacahan daerah dilakukan PPKI secara tergesa pada 19 Agustus 1945, tidak memulihkan otoritas Jipang. Mereka merujuk besluit Pemko Belanda. Sampai Indonesia berusia 80 tahun pada Agustus ini, nasib Jipang tidak berganti. Hanya menjadi desa di tepi Bengawan Cepu, Blora, Jawa Tengah.

Tidak jelas apa yang menyebabkan bangsa Eropa melungsurkan otoritas Jipang. Motifnya mungkin politik, sosial, sampai ekonomi. Mengingat, Jipang bukan daerah sembarangan. Lintasan terpanjang Bengawan. Kaya jati, gas, dan minyak bumi. Diam-diam, masyarakatnya pemikir, penspiritual, tangguh, egaliter.

Saya mengusulkan Jipang dinobatkan sebagai provinsi baru. Penengah Jawa Timur dengan Jawa Tengah. Menaungi Blora, Tuban, Rembang, Bojonegoro atau Ratubangnegoro—Ratu Kembang Negoro. Dengan menjadi provinsi, Jipang punya potensi lebih untuk memakmurkan masyarakatnya sendiri.

Baca Juga :  Para Pelanggar Lalu Lintas di Bojonegoro Setor Cuan Rp 1 Miliar untuk Negara

Sebab, ragam kekayaan Jipang akan didominasi untuk Jipang sendiri. Cap miskin yang selama ini menempel di dahi Ratubangnegoro bisa dipagas. Antropologinya pun tidak medioker dan ambigu lagi. Tidak separuh Jawa Timur, setengah Jawa Tengah. Bias. Membingungkan.

Makmur dari Minyak Bumi

Sebagaimana diketahui, minyak bumi merupakan kekayaan Jipang yang paling seksi. Sejak awal abad 18, masyarakat Jipang sudah kenal dan menambang minyak bumi. Mengejutkan Pemko Belanda, para industrialis, dan akademisinya. Mereka pun menindaklanjuti keterkejutan tersebut dengan penelitian pada 1864.

Setahun berselang. Laporan penelitian itu dirilis. Titik-titik pertambangan minyak bumi oleh masyarakat Jipang di antaranya ditemukan di Desa Tahunan, Distrik Sedan, Rembang; Desa Pahingan, Distrik Panolan, Blora; Desa Dagangan, Distrik Singgahan, Tuban; dan Desa Dandangilo, Distrik Tinawun, Bojonegoro.

Rilis tentang lokus pertambangan minyak bumi dilakukan masyarakat Jipang tersebut mengemuka dalam laporan berjudul Tijdschrift Voor Nijverheid en Landbouw in Nederlandsch-Indië. Dikutip dan diterangkan Totok Supriyanto dalam bukunya berjudul Janjang: Saksi Bisu Minyak Bumi Blora.

Sejak rilis penelitian dipimpin kimiawan Von Baumhauer itu terbit, minyak bumi di Jipang menjadi mutiara bagi Pemko Belanda dan para industrialisnya. Mulai saat itu hingga saat ini, minyak bumi di Jipang dieksplorasi—dieksploitasi. Merata. Di setiap wilayah Ratubangnegoro, ada.

Kiwari, eksplorasi—eksploitasi minyak bumi di Jipang digarap Pertamina EP Cepu (PEPC), Pertamina Hulu Energi (PHE), serta ExxonMobil Cepu Limited (EMCL). Masyarakat yang tergantikan, sebagian masih melangsungkan pertambangan minyak bumi. Sonder korporasi. Skalanya mini.

Sebagian masyarakat sedang melanjutkan takdir moyang-moyangnya itu menambang minyak bumi dari sumur-sumur tua yang ada. Mengakali sumur-sumur minyak bumi sisa peninggalan perusahaan Belanda di Konsesi Panolan, Blora dan Konsesi Tinawun, Bojonegoro.

Baca Juga :  Mereka Berbicara dengan Pohon

Dengan minyak bumi, Jipang sangat mungkin bisa makmur. Minimal, birokrasinya tidak kekurangan uang. DBH minyak bumi bisa diandalkan. Desus minyak bumi di Jipang segera habis, mesti disangsikan. Eksploitator minyak bumi di Jipang tentu akan jungkir balik agar bisa terus menambang. Menolak gulung tikar.

Padangan—Cepu Tumbuh dalam Satu

Kota Padangan, Bojonegoro dan Cepu, Blora saat ini sedang menjadi kecamatan. Belakangan, Pemkab Bojonegoro dan Blora punya agenda yang sama. Yakni, mengembalikan Kecamatan Padangan dan Cepu menjadi kota. Padangan berbasis kesehatan. Cepu beresensi industri, tajuknya Cepu Raya.

Jika agenda kedua pemkab itu sukses terealisasi, maka akan ada kota ganda. Sendiri-sendiri. Mengapit demarkasi Jawa Timur—Jawa Tengah yang berwujud aliran Bengawan. Hal itu kurang ideal. Alangkah lebih baik jika kota ganda Padangan dan Cepu tumbuh dalam satu.

Satu dalam hal ini ialah hirarki birokrasi dan administrasi. Merambat ke soal-soal lain seperti politik, ekonomi, hingga antropologi. Sebuah implikasi, Kota Padangan dan Cepu bisa tumbuh maju jika keduanya dinaungi satu provinsi baru: Jipang. Salah satu kota, nantinya menjadi ibu kota.

Selama ini, banyak kerugian muncul dari keterpisahan Padangan dan Cepu. Pendeknya, Padangan dan Cepu kelimpungan untuk maju. Keduanya berjalan sendiri-sendiri, terbelah antarprovinsi. Sejumlah mitos yang memicu skeptis hingga disharmonis antarmasyarakat Padangan dan Cepu pun ada. Betapa.

Betul-betul. Jipang provinsi baru adalah solusi. Wadah Padangan dan Cepu untuk bersatu. Keduanya tidak apa berbeda. Namun, mesti diasuh oleh ibu yang sama: Provinsi Jipang. Keduanya biar tumbuh mengepisentrum. Menjadi pusat pemerintahan, poros perdagangan, kesehatan, pendidikan, industri, seni-budaya, juga simpul agama.

Lebih lanjut, siapa pernah mempertanyakan, mengapa demarkasi Jawa Timur—Jawa Tengah berada di antara Padangan—Cepu? Yang mana, demarkasi itu membelah Jipang, mengepras segitiga peradaban Kalang, dan menyempal konsesi-konsesi pertambangan minyak bumi. Apa untungnya atau siapa diuntungkan?

Baca Juga :  Bojonegoro Wastra Batik Festival, Jembatan Budaya Jawa Timur--Jawa Tengah

Kalau ada yang pernah bertanya demikian dan menerima jawabannya, tolong ceritakan jawaban itu melalui tulisan. Silakan. Hendak terbit atau rilis melalui medium apa dan di mana. Tidak harus di Bojonegoro Raya. Saya akan berusaha menemukan link atau pranalanya. (*)

error: Content is protected !!