BOJONEGORORAYA — Pemasangan stiker keluarga miskin di rumah para penerima bantuan sosial (bansos) di Bojonegoro, direspons Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul.
Diwawancara seusai memberikan arahan dalam Sosialisasi Pemutakhiran DTSEN di Pendapa Malawapati Bojonegoro, Rabu (21/1/2026) siang, dia menilai pemasangan stiker itu bagus.
Gus Ipul menyebut, langkah dimaksud merupakan inisiatif Pemkab Bojonegoro dalam rangka mengakuratkan data penerima bansos. Pihaknya mengapresiasi.
‘’Di beberapa daerah, ada juga pemasangan stiker seperti itu. Efektif. Banyak yang mengundurkan diri (sebagai penerima bansos, red),’’ ujarnya.
Yang menjadi pekerjaan ke depan, lanjut mantan Walikota Pasuruan itu, Pemkab Bojonegoro harus mengganti basis data kemiskinan. Jangan lagi menggunakan data kemiskinan daerah.
‘’DTSEN menjadi satu-satunya data untuk memetakan keluarga miskin dan menyalurkan bansos,’’ tegas menteri juga petinggi PBNU tersebut.
Soal peran para pendamping sosial dalam mengungkit kemandirian keluarga miskin, dia mengklaim, sejauh ini sudah bagus. Ada upya pemberdayaan yang periodik dan evaluatif.
‘’Hanya saja, sementara ini baru untuk keluarga miskin penerima PKH (Program Keluarga Harapan, red),’’ jelasnya.
Ke depan, kata dia, keluarga miskin penerima bansos dari program lain akan dipertimbangkan mendapatkan treatment serupa. Supaya, bisa lebih berdaya. Mandiri. Keluar dari kemiskinan.
Sebagaimana diketahui, sejak akhir 2025 lalu hingga awal 2026 ini, Pemkab Bojonegoro menggulirkan pemasangan stiker keluarga miskin di rumah para penerima bansos.
Total, ada 50.987 keluarga miskin di Bojonegoro rumahnya ditempeli stiker keluarga miskin. Basisnya Data Kemiskinan Daerah (Damisda) Bojonegoro.
Pemasangan stiker keluarga miskin dimaksud, bukan tanpa problem. Sebagian masyarakat keberatan pasal tidak tepat sasaran. Pemkab Bojonegoro sampai membuka layanan pengaduan. (sab/kza)

