Kabilah Perahu: Transmisi Kultural Danyang Kinter Bojonegoro

Ilustrasi Kabilah Perahu. (Foto: Dok. KITLV)

Danyang Kinter leluhur di tepi Bengawan. Jaringan intelektual masa silam. Mewariskan harmoni manusia dengan alam.

—————–

GUYANGAN, Sranak, Tulung, Pagerwesi, Klangon, dan Ledok Kulon, letaknya berdekatan. Sama di tepi Bengawan. Namun, enam desa/kelurahan di Kecamatan Trucuk dan Bojonegoro itu tidak sekadar dekat secara geografis.

Masyarakat di enam titik itu memiliki akar budaya yang sama: maritim sungai. Berwatak kosmopolitan. Memiliki kedekatan pada alam. Akrab dengan kebanjiran. Tidak kagokan. Selalu bisa merekonstruksi harapan.

Mereka juga memiliki identitas kolektif dan legitimasi tradisi yang punya kemiripan historis. Yakni, keberadaan Danyang Kinter. Entitas leluhur, penjaga, sekaligus penyeimbang kosmologis antara kemajuan dan kearifan wilayah.

Secara semantis, kata Danyang merujuk pada penyebutan leluhur yang memiliki relasi genealogis dan spiritual. Sementara, diksi Kinter adalah variabelnya. Merujuk pada cara kedatangan Danyang yang nginter atau menghanyut arus air.

‎Jadi, Danyang Kinter ialah leluhur yang datang dari suatu tempat melalui sungai. Menghanyut terbawa arus air. Kemudian terhenti untuk membangun peradaban di tempat perhentian. Melancarkan transmisi kultural.

Enam Titik, Tujuh Danyang Kinter

‎Pada paruh kedua abad 18 (periode tahun 1755), Islam telah berkembang di Guyangan, Sranak, Tulung, Pagerwesi, Klangon, dan Ledok Kulon. Sudah menjadi ageman masyarakat. Buah transmisi kultural Danyang Kinter itu.

Di Guyangan, ada Danyang Kinter bernama Kiai Januddin. Di Sranak, Kiai Sadipo. Di Tulung, Nyai Nadifah. Di Pagerwesi, Kiai Ngali. Di Klangon, Kiai Yahya. Sementara, di Ledok Kulon (Pengkol), ada Nyai Ireng dan Kiai Singoleksono.

Di tempat perhentiannya masing-masing, mereka membangun pesantren. Mohon tidak membayangkan pesantren itu megah atau besar sebagaimana pesantren-pesantren populer masa kini. Tentu, tidak seperti itu.

Pesantren didirikan para Danyang Kinter tentu saja lebih sederhana. Cukup memenuhi substansi ruang pendidikan dan peribadatan. Menjadi rujukan belajar dan ibadah masyarakat sekitar yang jumlahnya belum seberapa.

Baca Juga :  Medhayoh Haji dan Asa Penggerak Mengentas Kemiskinan

Kiwari, jejak fisik mengenai itu sudah tinggal sisa. Tidak utuh lagi. Rerata, hanya tinggal nisan dan kompleks pemakaman. Menjadi lokus Sedekah Bumi atau Manganan. Abadi dalam lanskap tradisi. Dari generasi ke generasi.

Namun, tidak semua Danyang Kinter bernasib terang. Sedikit masyarakat mengetahui cerita atau asal usul mereka. Sejumlah Danyang Kinter hanya diketahui nama dan dongengnya. Dari tuturan lisan.

Manuskrip Padangan (Abad 18-19) mencatat, Kiai Januddin, Kiai Sadipo, Nyai Nadifah, Kiai Ngali, Kiai Yahya, Kiai Singoleksono, dan Nyai Ireng berasal dari Padangan. Mereka safar dari Padangan ke Rajekwesi (Bojonegoro) via Bengawan, satu perahu. Nginter.

Rombongan mereka dikenal dengan istilah Kabilah Perahu. Pemakaian kata kabilah untuk rombongan ini suatu penegasan bahwa antarmereka punya ikatan darah. Tidak memakai kata kafilah yang berarti sekadar rombongan pejalan.

Secara persis, Kiai Januddin, Kiai Sadipo, Nyai Nadifah, Kiai Ngali, Kiai Yahya, Kiai Singoleksono, dan Nyai Ireng merupakan bagian dari Kasepuhan Padangan. Nasab mereka bersambung dengan para Sidi Padangan.

Kasepuhan Padangan

Kasepuhan Padangan merupakan otoritas kultural yang berakar pada ajaran ideologis. Sebuah sistem nilai yang menyublim dalam kehidupan masyarakat. Norma acap tidak tampak di permukaan. Tapi hidup dalam laku, tradisi, dan cara pandang kolektif.

Pada abad 14, leluhur Kasepuhan Padangan atau pendahulu para Sidi Padangan yakni Sidi Jamaluddin Husain, tidak hanya memperkenalkan syariat Islam. Namun juga menanamkan sikap wasatiyah atau bermoderat terhadap alam.

Abad 17, Sidi Sabil Padangan, Sidi Sambu Lasem, dan Sidi Jabbar Singgahan—penerus genealogis dari Sidi Jamaluddin Husain—memperluas ajaran dan sistem nilai dari para pendahulunya, menjadi ekosistem pelajaran.

Sidi Sabil, Sidi Sambu, dan Sidi Jabbar tidak hanya membangun jaringan ideologis melalui rantai sanad keilmuan. Namun, juga rantai keluarga. Ketiga sidi tersebut menurunkan kabilah di Tuban, Bojonegoro, Rembang, Blora, Gresik, sampai Nganjuk.

Baca Juga :  Padi Gogo, Alternatif Menyulap Lahan Kering Bojonegoro Tumbuh Beras

Ajaran ideologis Sidi Jamaluddin, lantas menjadi norma tidak tertulis yang terus dijaga dan dikembangkan para sidi di Padangan, Lasem, dan Singgahan era setelahnya. Termasuk Kabilah Perahu ke Rajekwesi yang dipimpin Kiai Januddin.

Sebagai bagian dari Kasepuhan Padangan dan penerus ajaran Sidi Jamaluddin Husain, Manuskrip Padangan mencatat nasab Kiai Januddin demikian: Januddin Guyangan bin Kiai Kedong bin Kiai Saban bin Sidi Sabil Padangan.

Kaidah Bajul Destoroto

Kasepuhan Padangan sangat lekat dengan sungai. Menengarai kasepuhan itu tumbuh dan berkembang di tepi Bengawan. Dalam konteks ini, Kasepuhan Padangan melihat ayat “jannatin tajri min tahtihal anhar” bukan sekadar teks.

Para Sidi Padangan menjadikan ayat tersebut sebagai pijakan membangun kaidah mengenai keutamaan sungai beserta ekosistemnya. Sehingga menjaga dan membangun peradaban di dekat sungai adalah misi hidup.

Prinsip tasawuf lingkungan seperti Bajul Destoroto telah menjadi ajaran ekosufistik yang identik dengan Kasepuhan Padangan. Lahir dari penghayatan ayat ‘’jannatin tajri min tahtihal anhar’’, memandang sungai sebagai berkah dari Tuhan.

Seperti bajul atau buaya yang bisa mengambil berkah dari sungai dan daratan, Bajul Destoroto adalah spirit mengelola sungai sebagai sumber manfaat bagi manusia. Para Sidi Padangan masyhur melakukan itu. Membangun peradaban berbasis sungai.

Sampai saat ini, masyarakat di Guyangan, Sranak, Tulung, Pagerwesi, Klangon, dan Ledok Kulon, masih memiliki kedekatan dengan Bengawan beserta ekosistem alamnya. Mentalitas itu bagian dari spirit masa lalu yang bekerja di luar kesadaran.

Secara sadar atau tidak, masyarakat di enam titik itu telah ngugemi kaidah Bajul Destoroto yang dibawa Kiai Januddin, Kiai Sadipo, Nyai Nadifah, Kiai Ngali, Kiai Yahya, Kiai Singoleksono, dan Nyai Ireng sebagai Danyang Kinter. (*)

Baca Juga :  Jipang Provinsi Baru: Makmur dari Minyak Bumi, Penyatu Padangan—Cepu
error: Content is protected !!