BOJONEGORORAYA – Program Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri (Gayatri) mendapat evaluasi. Komisi B DPRD Bojonegoro memberikan saran dan masukan untuk berbenah. Tahun ini penerapan program ayam petelur agar lebih baik. Berdampak.
Meski berhasil menekan ketergantungan kebutuhan telur dari luar daerah, Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bojonegoro masih mempunyai pekerjaan rumah.
Yakni, menekan biaya produksi pakan. Memberikan pendampingan intensif kepada keluarga penerima manfaat (KPM). Menghindari penjualan bantuan ayam petelur.
‘’Kami dengan komisi B DPRD melakukan evaluasi program gayatri tahun 2025. Tadi pembahasannya agar keberhasilan tahun ini lebih bagus lagi,” tutur Sekretaris Disnakkan Bojonegoro Elfia Nuraini usai rapat dengan Komisi B DPRD, Senin (4/5/2026).
Sebagai evaluasi mendasar, disnakkan setempat diminta validkan data jumlah kandang dan ayam petelur yang dijual oleh KPM. Sekaligus mendata ayam gayatri yang mati.
Disnakkan: Data KPM Jual Ayam Jumlahnya Kecil
Menurut Elfia, secara umum jika mengacu pada rencana strategis (renstra) program Gayatri sudah bisa memenuhi target kinerja. Yakni, mengurangi angka ketergantuan telur dari luar daerah.
Elfia tidak menampik temuan DPRD jika ada beberapa keluhan dan keadaan di lapangan. Seperti KPM menjual kandang dan ayam bantuan. Sehingga tidak bisa melanjutkan program pemberdayaan ayam petelur tersebut.
‘’Namun jumlahnya relatif kecil sekitar 1 persen. Juga kematian ayam dari evaluasi kami masih di bawah 5 persen,” tutur alumnus Universitas Brawijaya Malang tersebut.
Tetapi, persentase tersebut belum sepenuhnya final. Petugas masih pendataan. Targetnya akhir Mei, data tersebut bisa terekap keseluruhan.
‘’Ini masih verifikasi sesuai arahan pimpinan, merata semua desa. Kami membentuk tim verifikasi, sekaligus untuk monev,” tambahnya.
Tawarkan Pakan Alternatif, Campuran Magot
Menekan harga pakan ternak juga menjadi fokus pembahasan. Jika peternak mengandalkan pakan pabrikan tentu terbebani. Harga pakan semakin tinggi. Upaya saat ini dengan melatih KPM membuat pakan ternak mandiri.
‘’Kami telah melakukan bimtek. Memberikan pengetahuan cara beternak yang bagus. Sampai membuat pakan alternatif, misalnya biar ngirit itu diberi campuran magot,” jelasnya.
Pendampingan harus semakin intensif. Terutama, menurut Elfia, setelah jumlah KPM Gayatri semakin banyak. Sementara tenaga pendamping masih perlu sokongan anggaran.
“Kendalanya tahun ini yang namanya petugas perlu bensin. Kami berharap ada semacam insentif seperti honor para pendata DTSEN,” harapnya.

DPRD: Pertimbangkan Bangun Pabrik Pakan
Wakil Ketua Komisi B DPRD Lasuri mengungkapkan, dewan mendapatkan keluhan dari warga penerima program Gayatri. Biaya pakan yang tinggi dan harga telur cenderung rendah.
Fenomena tersebut menjadi problem dihadapi penerima program ayam Gayatri. Belum lagi laporan penjualan kandang dan ayam bantuan.
“Jadi penerima program mengeluh, mereka terbebani karena harga pakan tinggi dan harga telur turun,” ungkapya saat rapat.
Lasuri menegaskan, permasalahan tersebut harus diurai oleh pemerintah daerah jika ingin program Gayatri berhasil dan bisa memangkas kemiskinan.
DPRD mendorong pemkab mempertimbangkan membuat pembangunan pabrik pakan ternak untuk jangka panjang.
“Pabrik pakan ternak bisa jadi pertimbangan untuk menekan biaya produksi. Sekaligus menjaga harga telur,” tutur politikus tinggal di Kecamatan Baureno tersebut.
Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut juga mengingatkan pentingnya pendampingan. Tanpa skema pendampingan jelas, program bisa menimbulkan masalah baru di lapangan.
“Jika anggaran diambil dari pemerintah desa misalnya DD/ADD (dana desa/ alokasi dana desa), mereka akan terbebani dengan situasi keuangan desa saat ini,” keluhnya. (man/kza)

