BOJONEGORORAYA — Puluhan orang duduk lesehan. Beralas terpal. Meramaikan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) 3R di Desa/Kecamatan Trucuk, Bojonegoro.
Para jurnalis, aktivis, mahasiswa, aparatur desa, hingga warga Desa Trucuk itu mengikuti diskusi bertajuk Merawat Kemerdekaan Pers untuk Publik. Kepala Desa Trucuk Sunoko turut pula.
Diskusi Senin (4/5/2026) siang itu, diinisiasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bojonegoro. Dalam rangka memperingati World Press Freedom Day (WPFD) atau Hari Kemerdekaan Pers Sedunia.
Ketua AJI Bojonegoro M. Suaeb dan Sekretaris AJI Bojonegoro Bhagas Dani menjadi narasumber diskusi tersebut. Moderatornya anggota AJI Bojonegoro Yusab Alfa Ziqin.
Dalam paparannya, M. Suaeb menegaskan, pers merupakan pilar penting dalam berdemokrasi. Maka, harus bebas. Namun, tetap beretika dan bertanggung jawab.
“Pers juga harus berpihak pada kepentingan publik,” imbuhnya.

Sementara itu, Bhagas Dani Purwoko menyoroti berbagai tantangan pers saat ini. Mulai banyaknya disinformasi, lancangnya akal imitasi (AI), represi digital, hingga independensi.
‘’Kita tentu perlu menghadapi dan menyesuaikan diri,’’ tuturnya.
Baik M. Sueb dan Bhagas mengajak, semua pihak–terutama jurnalis–merefleksi dan menjaga esensi pers. Yakni, pers harus berpihak pada publik. Bukan yang lain. (sab/kza)

