Oleh: Khorij Zaenal Assrori
Jurnalis dan Periset Bojonegoro Raya
——————
BRIDA di Bojonegoro masih gris. Kinyis-kinyis. Brida lahir dan terbentuk di Bojonegoro, awal tahun. Seiring mengudaranya Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 82 Tahun 2025. Personilnya mulai bekerja 28 Januari 2026. Puncaknya pada 12 Maret 2026. Saat puasa Ramadan. Atau H-8 Idulfitri 2026.
Kinerja Brida belum ada satu bulan. Bentar lagi selapan. Masih balita. Semoga ada upacara syukuran atau selamatan. Tradisi Jawa, ketika anak sudah selapan, akan ada bancakan.
Pemkab Bojonegoro mencetak legasi baru 2026 ini. Membentuk Brida. Brida akronim dari badan riset dan inovasi daerah. Brida itu “think thank” daerah. Memberi rekomendasi berbasis data bagi perencanaan daerah.
Brida itu membantu bupati dan wakil bupati (Wabup) menunjang pemerintahan urusan penelitian dan pengembangan. Berbasis data. Bukan omon-omon. Keren, kan.
Bupati Bojonegoro Setyo Wahono dan Wabup Nurul Azizah belum mengangkat kepala brida. Masih kosong. Pelantikan pada 12 Maret 2026 lalu di Kahyangan Api, baru menunjuk Ardian Orianto.
Ardian Orianto bukan kepala brida. Masih sekretaris brida. Namun, seakan munyeng. Ardian harus babat alas. Pejabat kelahiran Kediri itu, harus menata organisasi brida. Menata nomenklatur. Utak-atik tata kerja, budgeting, hingga perencanaan.
Sehari baru menjabat sekretaris Brida, sudah mendapat undangan ke Jakarta. Mendatangi diskusi di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Saat itu, membahas tentang tembakau.
Kebetulan Bojonegoro, sebagai kabupaten terpanjang dialiri Sungai Bengawan, merupakan penghasil “emas hijau” sebutan tembakau. Mengupas hulu-hilir tembakau, dari kacamata penelitian.
Ardian pun japri Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Zaenal Fanani. Mantan Camat Padangan ini pun dikirimi ragam data tentang tembakau di Bumi Rajekwesi, sebutan Bojonegoro.
Ardian bisa gaya sedikit. Bisa bicara di kalangan peneliti BRIN dan beberapa brida tentang tembakau Bojonegoro. Keluar dari kantor BRIN, bisa nyebat sebatang tembakau. Lega.
Rambut Ardian kelimis, seakan bukan tipe orang pesimistis. Tapi, hari-harinya kini harus memutar otak. Brida baru seumur jagung sudah memiliki peran dan tugas. Hanya memiliki enam personel ASN.
Belum memiliki ASN yang basic peneliti. Belum punya periset. Idealnya Brida harus memiliki periset muda atau madya. Kantornya saja, belum ada plakat brida. Masih kosongan. Ruangannya masih melompong.
Tentu, bakal sulit mencari di mana kantor brida. Namun, sekali lagi brida itu mentereng, ternyata kantornya bersebelahan dengan asisten daerah (asda). Di belakangnya ruangan sekretaris daerah (sekda). Tapi, Ardian masih eselon tiga.
Brida Think-Thank Kepala Daerah
Brida menjadi tungku pemerintahan. Menjadi katalisator. Agregator perencanaan dan inovasi daerah. Menjadi analis strategis daerah sebelum menetapkan kebijakan dan anggaran.
Apalagi, brida punya korelasi dengan BRIN. Kepanjangan tangan BRIN. Oleh-oleh riset BRIN bisa diolah dan bisa diterapkan di Bojonegoro.
‘’Misalnya tentang pertanian, ada temuan penelitian dari BRIN tentang mengusir hama tikus dengan teknologi tepat guna (TTG). Memakai frekuensi. Ramah lingkungan. Tidak berbahaya, seperti penggunaan aliran listrik di sawah,’’ tutur Ardian dengan santai sesekali menyeruput secangkir kopi.
Brida cukup urgen. Selain think-thank, brida harus menjadi dapur menentukan kebijakan. Brida dengan “amunisi data” tentu yang menjawab tentang ilmu kira-kira.
Nah, brida harus bisa menjawab kompleksitas tantangan Bojonegoro di tengah badai efisiensi anggaran. Menjawab keresahan Bojonegoro dengan memiliki hampir 1,4 juta jiwa dengan persoalan kemiskinan, indeks pembangunan manusia (IPM), lapangan kerja, dan stunting.
Namun, Bojonegoro memiliki potensi. Sebagai kabupaten lumbung pertanian dan energi. Memiliki hamparan hutan luas. Sebesar 40 persen wilayah Bojonegoro, merupakan hutan. Menyimpan pakan untuk pertanian.
Kota Surabaya Juga Baru Membentuk Brida
Meski belum selapan, personel Brida Bojonegoro tidak perlu pesimistis. Kota Surabaya, ternyata juga baru membentuk brida. Persisnya Januari 2026 lalu, atau tiga bulan lalu, Wali Kota Surabaya Ery Cahyadi membentuk brida.
Hanya, Brida Kota Surabaya, juga dipasrahi mengelola UPT Kebun Raya Mangrove. Tidak hanya sebagai tempat wisata, Kebun Raya Mangrove di bawah kendali Brida Surabaya, menjadi rujukan riset konservasi berstandar internasional.
Bojonegoro, punya geopark. Dan, geoparknya sebentar lagi berstandar internasional. Layak menjadi bahan brida, bahwa geopark Bojonegoro layak menjadi pusat riset berstandar internasional tentang geosite, biosite, dan cultural site.
Namun, brida belum populer di Bojonegoro. Masih asing. Belum ada jejak. Masih merangkak.
Semoga brida bukan sekadar lembaga formalitas. Namun, lembaga berkualitas. Sekali lagi, Brida bukan badan ribet inovasi daerah. Bahkan, ada yang memplesetkan, brida itu: bank BRI daerah. Hehehe. (*)


