Logo HJB ke-348 yang kini beredar di mana-mana, lahir dari proses tidak sederhana. Bowo Sulistyo sukses membalik paradigma.
BOJONEGORORAYA – Lomba Desain Logo Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-348 yang dibuka Pemkab Bojonegoro pada Juli 2025 lalu, menjadi kabar baik bagi Bowo Sulistyo.
Pemuda asal Desa Sumberagung, Kecamatan Ngraho, Bojonegoro itu bertekad mengikuti. Dia ingin duduk di kursi juara satu. Bukan juara dua sebagaimana Lomba Desain Logo HJB sebelumnya.
Syahdan, pemuda berusia 25 tahun itu membuat angen-angen untuk merancang Logo HJB ke-348. Lalu, melakukan riset, menyusun narasi deskripsi logo, dan merancang bentuk logo.
‘’Butuh waktu sekitar satu bulan untuk semua itu,’’ ujarnya saat dihubungi Bojonegoro Raya, Kamis (16/10/2025) malam.
Bowo mengemukakan, proses kreatif merancang logo HJB ke-348 merupakan pembalikan paradigma. Pada Lomba Desain Logo HJB sebelumnya, dia merancang bentuk logo lebih dulu. Baru menyusun narasi.
‘’Tahun ini menyusun narasi dulu. Baru merancang bentuk. Begitu perubahannya. Alhamdulillah, hasilnya memuaskan. Juara satu,’’ tuturnya.


Dengan membalik paradigma, logo HJB ke-348 karyanya tidak hanya nyeni. Tapi betul kuat dalam narasi dan filosofi. Frasa tema pun berima: Bersinergi untuk Bojonegoro Mandiri. Seperti larik puisi.
‘’Selain itu, dengan menyusun narasi lebih dulu, saya ternyata menjadi lebih lancar saat menyajikan presentasi,’’ imbuh desainer yang kini sibuk di Yogyakarta tersebut.
Alumnus SMKN Ngraho itu mengaku bersyukur atas prestasi yang diraihnya. Betapa pun dia ingin menyembunyikan, rasa bangga atas prestasi tersebut tidak bisa ditekan. Dia pun merayakan.
Lebih lanjut, Bowo merefleksi, ada dua motivasi mengapa dia mengikuti Lomba Desain HJB tahun ini maupun tahun sebelumnya. Pertama, dia ingin memperjelas identitas sebagai perancang desain grafis.
‘’Saya menekuni desain grafis sejak 2018. Kurang dikenal. Jarang orang tahu. Dengan ikut lomba dan menjadi juara, banyak orang jadi tahu,’’ tuturnya.
Kedua, Bowo ingin punya bakti untuk Bojonegoro—tanah kelahirannya. Kebetulan, bidang yang dia mumpuni ialah desain grafis. Maka, melalui bidang itulah dia berupaya berkontribusi.
‘’Saya lahir dan besar di Bojonegoro. Jadi, harus ikut andil dengan skill yang saya miliki,’’ pungkas desainer lulusan Universitas Amikom Yogyakarta itu. (sab/kza)







