Wisata Perahu dan Nyangkruk dalam Semangkuk Waduk Sonorejo, Akhir Pekan Kian Ramai

WISATA DESA: Perahu-perahu bersandar di Waduk Sonorejo, Kecamatan Padangan, Bojonegoro. Ada juga wisata perahu bebek. Berkeliling waduk. Akhir pekan atau tanggal merah, kerap kali ramai. (Foto: Khorij Zaenal Assrori/ Bojonegoro Raya)

BOJONEGORORAYA – Belasan perahu bersandar di dermaga Waduk Sonorejo. Tertata. Tertaut dengan tampar agar tidak berlayar. Perahu-perahu kecil itu menunggu penumpang datang.

Sebagian perahu sudah bergerak, membawa para penumpang. Berkeliling merasakan semilir angin dan air di waduk berada di Desa Sonorejo, Kecamatan Padangan, Bojonegoro.

Sekitar pukul 10.30, pengunjung semakin ramai berdatangan. Rombongan. Parkir motor mulai berhimpitan. Mobil mulai berjejer. Yang meramaikan justru pengunjung memakai mobil tayo atau kereta kelinci.

Tiba berjamaah. Wajah-wajah riang ingin merasakan Pesona Waduk Sonorejo (PWS). Wisata air dan panorama alam ini berada di kawasan barat Bojonegoro. Dekat perbatasan Jawa Tengah.

‘’Kalau hari libur, pengunjung semakin ramai,’’ tutur Rukhin, salah satu petugas jaga perahu Waduk Sonorejo ditemui di lokasi, Sabtu (24/5/2026) siang.

Menurut Rukhin, pengelolaan wisata ini merupakan kolaborasi. Akar rumput. Warga, karang taruna, hingga badan usaha milik desa (bumdes). Wisata yang jauh dari perkotaan, justru menjadi magnet menangkup pengunjung barat Bojonegoro dan sekitarnya.

KELILING WADUK: Pengunjung merasakan pesona naik perahu di Waduk Sonorejo, Kecamatan Padangan, Bojonegoro. (Foto: Khorij Zaenal Assrori/ Bojonegoro Raya)
NYAMAN: Pengunjung saat bersantai di tepi Waduk Sonorejo. Nikmati langgam panorama alam. (Foto: M. Lukman Hakim/Bojonegoro Raya)

Waduk Kembar atau Sarangan versi Bojonegoro

Waduk Sonorejo ini mulai populer dengan sebutan Sarangan versi Bojonegoro. Menunya dengan wisata perahu. Ada juga perahu bebek. Sederhana. Dikayuh manual. Menyenangkan.

Ada juga menyebut Waduk Kembar. Unik. Ada dua waduk. Dipisah jalan desa. Sisi barat, Waduk Sonorejo. Timur jalan, Waduk Prangi. Sama-sama waduk sebagai kanal irigasi warga.

Yang mengasyikkan, adalah nyangkruk istilah bersantai di tepi Waduk Sonorejo. Kebetulan ada banyak spot kursi-kursi berderet di antara jalan desa dengan waduk. Kursi nyangkruk dari kayu. Banyak pengunjung betah duduk bersantai di tepi waduk.

Es degan, es teh, hingga kopi kothok, menjadi suguhan peneguk dahaga saat berwisata di Waduk Sonorejo. Banyak kudapan. Camilan. Hingga jajan-jajanan.

Kebetulan, sekitar jalan desa berhimpit waduk tersebut terdapat sekitar 30 UMKM. Beragam menu. Pelaku UMKM warga setempat.

Baca Juga :  Pemkab Bojonegoro Siapkan Program e-Bakul, Wajibkan ASN Belanja di UMKM Lokal

Ada cerita menarik dengan pesona lampu hias. Kala senja hingga temaram, lampu-lampu itu bercahaya di atas spot kursi-kursi nyangkruk.

‘’Kalau perahu ini tutup hingga sore. Tapi, kalau UMKM sampai malam,’’ tutur Rukhin.

Pengunjung hingga Ngawi dan Blora

Pesona Waduk Sonorejo ini semakin populer. Menurut Rukhin, pengunjung tidak sekadar dari warga Kecamatan Padangan, dan sekitarnya. Namun, ada juga dari Cepu hingga Blora, Jawa Tengah.

‘’Ada juga dari Ngawi hingga Jombang,’’ tuturnya kepada Bojonegoro Raya.

Rukhin mengatakan, pengunjung Waduk Sonorejo ini semakin ramai ketika akhir pekan (weekend). Terutama saat tanggal merah atau libur. Seperti di akhir Mei ini ada beberapa tanggal merah.

Nasya, salah satu pengunjung dari Kecamatan Bojonegoro Kota mengatakan, cukup senang menikmati wisata perahu di Waduk Sonorejo. Di kawasan barat Bojonegoro, ternyata ada potensi wisata yang menyenangkan.

‘’Terlebih sekitar lokasi ada beragam kafe dan rumah makan,’’ jelasnya.

WAHANA ANAK: Selain perahu, ada juga wahana permainan anak. Mulai kereta mini berputar hingga dermulen. Wisata Waduk Sonorejo, semakin ramai ketika akhir pekan. (Foto: Khorij Zaenal Assrori/ Bojonegoro Raya)

Selain wisata perahu, sekitar lokasi juga ada wahana permainan anak. Mulai kereta mini berputar. Dermulen, dengan warna-warninya.

Hamparan pertanian padi terlihat luas. Utara dan barat waduk tampak tanaman padi menghijau. Domba-domba milik petani setempat ikut meramaikan. Rerumputan hijau menjadi altar sekitar waduk.

Pesona Waduk Wonorejo ini turut Kecamatan Padangan. Tidak jauh dari koneksi tiga kabupaten. Yakni, Bojonegoro, Blora, dan Ngawi.

Berdasar Google Maps, dari Cepu atau perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, hanya tertaut 6,1 kilometer. Sedangkan, dengan perkotaan Blora, jarak tempuh 58 menit. Tertaut jarak 39,5 kilometer.

Hanya, dari kawasan perkotaan Bojonegoro, perjalanan dengan roda empat menempuh sekitar 50 menit. Jaraknya sekitar 34 kilometer. Dengan Kabupaten Ngawi, perjalanan butuh 1 jam. Setara 42 kilometer. (kza)

Baca Juga :  Bojonegoro Miliki Museum Baru, Selangkah dari Alun-Alun
error: Content is protected !!