Lapangan Jambaran Tiung Biru tidak hanya memproduksi gas. Namun, juga memberi energi bagi nyala seni-budaya.
BOJONEGORORAYA – Bunyi gamelan mengalun dari Balai Desa Kaliombo, Kecamatan Purwosari, Bojonegoro. Nang, ning, nong. Nang, ning, nong. Bunyi itu tidak keluar dari gawai atau alat pemutar musik lainnya. Namun, dari tabuhan Widya dan teman-temannya. Mereka sedang latihan karawitan di lantai dua balai desa.
Dengan masih mengenakan seragam merah putih, anak-anak SDN Kaliombo II itu menabuh bonang, saron, demung, kendang, gong, kenong, kempul, slenthem, gender, dan lainnya, di hadapan masing-masing. Betul ritmis, melodis, iramatis. Mereka menguarkan nada pentatonis yang liris. Nang, ning, nong. Nang, ning, nong.
Peristiwa seni-budaya itu berlangsung Senin (27/10/2025) siang. Sepulang sekolah hari itu, Widya dan teman-temannya tidak langsung masuk rumah. Namun, menuju balai desa untuk latihan karawitan. Dibimbing seniman Desa Kaliombo Pitoyo. Kepala Desa Kaliombo Rohmad Edi Suyanto mendengarkan latihan itu dari ruang kerjanya di lantai satu.
Widya mengaku senang berlatih karawitan. Anak perempuan kelas enam SD itu mengemukakan, latihan karawitan di lantai dua Balai Desa Kaliombo tersebut telah membuat hari-harinya terisi dengan lebih positif dan variatif. Tidak melulu bermain game atau scroll media sosial di gawai sambil bertiduran di dalam kamar.
‘’Main gamelan ini juga membuat hati lebih bahagia. Rasanya ayem (tentram, red). Entah bagaimana kok bisa begitu,’’ tuturnya kepada Bojonegoro Raya di sela latihan karawitannya, Senin (27/10/2025) siang.
Widya berharap, latihan karawitan tersebut terus ada hingga dia dewasa. Dia ingin terus mengikutinya. Sampai mahir. Sampai sering pentas di sana-sini. Dia pun punya cita-cita menjadi panjak atau penabuh gamelan yang punya nama. Menjaga dan meneruskan kiprah Desa Kaliombo sebagai desa seni-budaya.
‘’Kalau saya kuliah nanti, ingin juga di bidang seni. Coba di ISI (Institut Seni Indonesia, red) Solo atau Yogya,’’ imbuh anak perempuan yang dilahirkan di Desa Kaliombo, sebelas tahun lalu tersebut.
Pitoyo bersyukur melihat antusias anak-anak Desa Kaliombo dalam berlatih karawitan di bawah bimbingannya. Dia betul lega. Para generasi belia desanya memiliki semangat berkesenian. Dengan demikian, kiprah Desa Kaliombo sebagai desa seni-budaya tidak akan mati. Masih ada harapan besar untuk terus hidup. Tumbuh. Berkembang.
‘’Anak-anak ini yang akan meneruskan kami. Mereka yang akan melestarikan gairah seni-budaya di desa kami,’’ tutur panjak senior Desa Kaliombo tersebut kepada Bojonegoro Raya, Senin (27/10/2025) siang.
Pitoyo mengemukakan, anak-anak Desa Kaliombo itu berlatih karawitan beberapa kali dalam sepekan. Rutinnya satu sampai dua kali. Sedikitnya, lanjut dia, ada 60 anak SD yang aktif mengikuti latihan karawitan di lantai dua balai desa tersebut. Mereka bersekolah di SDN Kaliombo I, SDN Kaliombo II, dan SDN Kaliombo IV.
‘’Pihak sekolah dan orang tua juga senang anak-anaknya latihan karawitan begini. Potensi atau bakat seninya jadi terasah. Yang paling menyenangkan mereka (pihak sekolah dan orang tua, red), anak-anak ini tidak main HP (handphone, red) terus,’’ ujarnya.



Terpisah, Kepala Desa Kaliombo Rohmad Edi Suyanto juga bersyukur melihat para generasi belia di desanya semangat berlatih karawitan. Dia menyebut, anak-anak itu merupakan aset berharga desanya. Bisa menjamin eksistensi seni-budaya di Desa Kaliombo terus bergeliat sampai era mendatang.
Kepala desa akrab disapa Edi itu mengenang, bertahun sebelumnya, seni-budaya di desanya belum sebergeliat seperti saat ini. Di Desa Kaliombo, jumlah panjak memang banyak. Tidak kurang dari 50 orang. Namun, mereka jarang aktif berkesenian di Desa Kaliombo—di dalam desanya sendiri.
‘’Mereka (para panjak Desa Kaliombo, red) lebih aktif berkesenian di desa lain. Diminta bermain untuk grup karawitan dari desa lain,’’ cerita Edi kepada Bojonegoro Raya, Senin (27/10/2025) siang.
Asal pangkalnya, Desa Kaliombo tidak memiliki seperangkat gamelan. Hal itu mengakibatkan tidak adanya grup karawitan aktif di Desa Kaliombo. Jadi, hanya ada para pemainnya. Tapi tidak ada alat-alatnya. Menghadapi kondisi ironi itu, Edi menggelar rembug dengan para panjak pada akhir 2023.
‘’Kami mengumpulkan mereka (para panjak, red). Rembugan (musyawarah, red). Kami mohon kesediaannya bergabung ke dalam satu grup dan bersama-sama menggeliatkan seni-budaya di Desa Kaliombo sini. Alhamdulillah, mereka berkenan,’’ tuturnya.
Hasilnya, pada awal 2024, Pemerintah Desa Kaliombo mewadahi para panjak dalam sebuah paguyuban. Namanya Joyo Tirto Budoyo Laras (JTBL). Pertamina EP Cepu (PEPC) Zona 12 yang mengoperatori Lapangan Gas Jambaran Tiung Biru di Desa Kaliombo dan Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro, sangat mendukung.
PEPC Zona 12 memberikan beragam kontribusi kepada Paguyuban JTBL melalui program bertajuk Pelestarian Seni Budaya Desa Kaliombo (Busambo). Aneka hal dibutuhkan sebuah paguyuban seni baru, diberikan PEPC Zona 12 via program itu. Mulai pembuatan akta legalisasi paguyuban hingga penataan dan penguatan manajemen paguyuban.
‘’Pada Oktober 2024, PEPC Zona 12 membelikan seperangkat gamelan untuk kami. Untuk Paguyuban JTBL. Kami senang sekali. Sungguh bersyukur. Itu jadi seperangkat gamelan pertama di Desa Kaliombo ini,’’ ungkap Edi.
Setelah adanya seperangkat gamelan, Paguyuban JTBL semakin hidup. Para panjak Desa Kaliombo aktif berkesenian di desa sendiri. Pada hari-hari ditentukan, bunyi bonang, saron, demung, kendang, gong, kenong, kempul, slenthem, gender, dan lainnya berpadu satu. Dimainkan pada pagi, siang, atau malam. Dalam rangka latihan maupun pementasan karawitan.
‘’Para panjak juga terus aktif membimbing anak-anak Desa Kaliombo untuk latihan karawitan. Seperti yang dilakukan Pak Pitoyo itu. Jadi, geliat seni-budaya di desa ini insyaallah bisa terus lestari. Karena ada kaderisasi, ada regenerasi,’’ imbuhnya.
Kepala desa kelahiran 1992 itu meneruskan, saat ini Desa Kaliombo sudah benar-benar menjadi desa seni-budaya. Paguyuban JTBL tulang punggungnya. Selain sudah punya legalitas hukum formal, Paguyuban JTBL juga telah dilegitimasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro sebagai grup seni-budaya. Punya Nomor Induk Kesenian (NIK) Bojonegoro.
‘’Pada momen Hari Jadi ke-348 Bojonegoro kemarin, kami deklarasikan Desa Kaliombo ini sebagai ‘Desa Panjak Bojonegoro’. Terjadi dalam sebuah pentas seni-budaya di Kelurahan Ledok Kulon, perkotaan Bojonegoro. Disaksikan dan diakui Disbudpar Bojonegoro,’’ lanjutnya.
Edi merefleksi, semua capaian Desa Kaliombo di bidang seni-budaya tidak lepas dari kontribusi PEPC Zona 12. Lapangan Gas Jambaran Tiung Biru yang dua sumurnya berada di Desa Kaliombo itu tidak hanya menyokong ketahanan energi nasional. Namun, juga sangat berarti bagi daerah dan masyarakat lokal. Berdampak baik di sektor ekonomi hingga seni-budaya.
‘’Energi dari Jambaran Tiung Biru telah menyalakan seni-budaya di desaku, desa kami, Desa Kaliombo ini. Terima kasih PEPC,’’ pungkas pria yang memenangkan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Kaliombo 2020 lalu itu.
Sebagaimana diketahui, Lapangan Gas Jambaran Tiung Biru memiliki enam sumur gas. Dua di Desa Kaliombo, empat di Desa Bandungrejo. Lapangan gas itu merupakan yang terbesar di Jawa. Proyek pembangunannya dimulai pada September 2017. Mulai on stream atau mengalirkan gas perdana pada 20 September 2022.
Pada awal produksinya, Lapangan Gas Jambaran Tiung Biru menghasilkan gas sebanyak 70 Million Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD) atau 70 Juta Standar Kaki Kubik per Hari. Secara bertahap, produksi itu terus meningkat. Beberapa waktu terakhir, produksinya menyentuh 192 MMSCFD.
Adapun, gas diproduksi Lapangan Gas Jambaran Tiung Biru didistribusikan ke sejumlah industri di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Mulai Perusahaan Listrik Negara (PLN), Pertamina Gas Negara (PGN) hingga Petrokimia. Lapangan Gas Jambaran Tiung Biru juga bersiap memasok gas untuk industri bioetanol yang akan berdiri di Bojonegoro.
Manager Communication Relations & CID PEPC Regional 4 Indonesia Timur Rahmat Drajat menegaskan, operasi Lapangan Gas Jambaran Tiung Biru tidak hanya fokus memenuhi kebutuhan energi nasional. Tapi juga punya komitmen kukuh untuk berkontribusi dalam memberdayakan dan mengembangkan masyarakat lokal di sekitar wilayah operasi.
Pemberdayaan dan pengembangan masyarakat lokal di sekitar wilayah operasi Lapangan Gas Jambaran Tiung Biru tersebut, jelas Rahmat Drajat, salah satunya berlaku pada pelestarian seni-budaya. Hal itu sebagaimana direalisasikan melalui Program Busambo di Desa Kaliombo, diterima oleh Paguyuban JTBL.
‘’Kami berkomitmen mendukung pelestarian seni-budaya Jawa melalui Program Busambo itu. Kami ingin memastikan nilai-nilai luhur seni-budaya Jawa tetap hidup di tengah masyarakat. Khususnya generasi muda,” ujarnya kepada Bojonegoro Raya, Rabu (29/10/2025) pagi.
Rahmat sapaannya meneruskan, gamelan sebagai medium untuk menanamkan dan merawat nilai-nilai luhur seni-budaya Jawa sangatlah tepat. Itu mengingat, gamelan sesungguhnya bukan sekadar sekumpulan alat musik. Melainkan seperangkat ansambel yang sarat filosofi. Permainannya mengajarkan harmoni, ketelitian, dan kerja sama.
“Kami berharap, Paguyuban JTBL terus semangat melestarikan seni-budaya di desanya. Kami akan mendukung. Kami juga berharap, dukungan itu dapat memperkuat ekosistem seni-budaya di Bojonegoro,’’ tuturnya. (sab/kza)

