Jemaah Haji Bojonegoro Mulai Berangkat, Perjalanan Suci dan Ikhtiar Sehat

Oleh: dr. Tomy Oeky Prasiska
Direktur Rumah Sakit Aisyiyah (RSA) Bojonegoro dan Tim Kesehatan Haji Indonesia 2017

——————-

SETIAP tahun, jutaan umat Islam dari seluruh penjuru dunia memadati Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Di Bojonegoro, jemaah haji 2025 mulai berangkat sejak Senin (19/5/25) dan Selasa (20/5/25). Haru, senang, dan doa-doa untuk jemaah haji.

Namun, Haji 2025 hadir dalam lanskap yang jauh lebih menantang. Bukan hanya secara spiritual, tapi juga dari sisi kesehatan jemaah, terutama bagi Indonesia, negara dengan jamaah haji terbesar di dunia.

Dominasi Lansia

Tahun ini, Pemerintah Indonesia mendapatkan kuota haji sebanyak 221.000 jemaah. Terdiri atas 203.320 jemaah reguler dan 17.680 jemaah haji khusus. Dari jumlah tersebut, lebih dari 10.166 jamaah tergolong lansia prioritas.

Dan lebih dari 30 persen total jemaah Indonesia adalah lansia atau termasuk kategori risiko tinggi (risti).
Ini artinya, sekitar 66.000–70.000 jemaah haji memiliki kondisi yang memerlukan perhatian khusus dari sisi medis dan fisik.

Berangkat haji bermakna agregat semangat spiritual dan kemampuan finansial luar biasa. Namun, di balik itu tersembunyi kerentanan fisiologis yang signifikan.

Mulai penurunan daya tahan tubuh, kondisi komorbid seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, gangguan ginjal, serta keterbatasan mobilitas yang menghambat aktivitas ibadah yang intens.

Ibadah haji bagi lansia bukan hanya tentang menempuh perjalanan jauh. Tetapi juga menyangkut daya tahan tubuh dalam suhu ekstrem.

Berjalan jauh antarlokasi ibadah, tidur di tenda saat wukuf di Arafah. Dan mabit di Mina. hingga bertahan di antara kerumunan saat melempar jumrah. Semua ini menjadi ujian tersendiri, bahkan bisa berujung fatal bila tidak diantisipasi.

Ekstremitas Cuaca dan Heat Stroke

Musim haji 2025 berlangsung di tengah suhu ekstrem yang diperkirakan mencapai 48–50 derajat Celsius. Kelembaban rendah.

Baca Juga :  Berbeda Matlak, Berbeda Puasa

Kondisi ini menciptakan risiko besar terhadap penyakit akibat panas (heat-related illness). Mulai dari heat cramps, heat exhaustion, hingga yang paling berbahaya: heat stroke.

Heat stroke adalah kondisi kegawatdaruratan medis yang ditandai dengan peningkatan suhu tubuh melebihi 40 derajat Celsius.

Disertai gangguan sistem saraf pusat seperti kebingungan, penurunan kesadaran, kejang, hingga koma.

Ini merupakan bentuk paling fatal dari gangguan panas dan dapat menyebabkan kerusakan permanen pada organ tubuh bahkan kematian jika tidak ditangani segera.

Mengapa Jemaah Haji Rentan Terkena Heat Stroke?

Setidaknya, paparan sinar matahari langsung saat beraktifitas di luar hotel, berada pada tenda saat wukuf dan mabit di Mina. Hingga prosesi lontar jumrah.

Juga, aktivitas fisik berlebihan dalam kondisi suhu tinggi tanpa hidrasi yang memadai. Termasuk pakaian tertutup dan padat, yang menghambat pengeluaran panas tubuh secara efektif.

Serta, fungsi termoregulasi yang menurun pada lansia, membuat tubuh tidak mampu mempertahankan suhu ideal saat panas ekstrem.

Adapun, gejala awal heat stroke sering tidak dikenali. Mulai tubuh terasa sangat panas, kulit kering atau justru basah karena keringat berlebihan.

Disusul kondisi lemas, mual, sakit kepala hebat, denyut nadi cepat, dan gangguan kesadaran. Pada tahap lanjut, penderita bisa tidak sadar atau mengalami kejang. Ini membutuhkan penanganan cepat: pendinginan tubuh aktif dan resusitasi medis segera.

Tantangan Kesehatan Jemaah

Tingginya kejadian heat-related illness pada musim haji sebelumnya menjadi alarm penting bagi penyelenggara haji Indonesia. Maka mitigasi harus disiapkan dari hulu hingga hilir.

Pertama, pendidikan kesehatan pra-keberangkatan (Pre-hajj preparedness). Edukasi tentang gejala awal heat stroke, pentingnya hidrasi, mengenakan pakaian yang menyerap keringat, dan strategi manajemen energi ibadah.

Pemeriksaan kesehatan bukan hanya administratif, tapi harus bersifat prediktif. Termasuk screening komorbid, evaluasi mental-kognitif, dan kesiapan fisik menyeluruh.

Baca Juga :  Pameran Bonsai, Serut Khas Bojonegoro Curi Perhatian

Kedua, monitoring suhu tubuh dan pemanfaatan teknologi wearable. Bisa memakai alat pemantau suhu dan denyut jantung dapat memberikan peringatan dini pada jemaah yang mulai mengalami kelelahan panas.

Ketiga, health escorting system untuk jemaah haji lansia dan risti.

Keempat, perlu penempatan tenaga medis yang strategis, khususnya untuk jamaah lansia. Pendampingan spiritual dan psikologis pun penting agar semangat ibadah tetap kuat.

Kelima, tenaga kesehatan responsif. Meskipun  ibadah haji tahun 2025 terdapat pengurangan jumlah tenaga kesehatan (baik kloter maupun non-kloter), tim kesehatan haji harus memiliki protokol tanggap darurat heat stroke dan permasalahan kesehatan lain yang cepat dan terstandar.

Haji Sehat, Haji Mabrur

Ibadah haji adalah perjalanan keimanan sekaligus ujian ketahanan diri. Kesehatan jemaah bukan urusan pribadi, melainkan tanggung jawab kolektif.

Maka, paradigma kesehatan haji harus terus bertransformasi: dari kuratif ke preventif, dari responsif ke prediktif, dari reaktif menjadi proaktif.

Jika jemaah kita mayoritas lansia, maka strategi kita pun harus penuh empati dan antisipatif. Haji yang mabrur tidak hanya dari kesempurnaan rukun, tapi juga dari keselamatan jiwa yang menjalaninya.

Mari kita wujudkan Haji 2025 sebagai momentum ibadah yang khusyuk, sehat, bahagia, makmur, dan membanggakan. (*)

error: Content is protected !!