Ledre bukan sekadar jajanan lagi. Inovasi membuatnya bisa diseruput dalam segelas kopi. Hasil eksperimen 84 kali.
ANANG Ma’ruf meninggalkan Bojonegoro pada 2008. Nasib membawanya merantau di berbagai kota. Di antaranya Balikpapan, Bogor, hingga Cepu, Blora. Pria akrab disapa Anang itu kembali ke Bojonegoro belum lama ini. Baru sekitar dua tahun.
Saat ini, pria asal Dusun Sambong, Desa Purwosari, Kecamatan Purwosari itu punya coffeshop atau kedai kopi di Gang Jiken turut Kelurahan Kepatihan, perkotaan Bojonegoro. Namanya Deulleuda Coffe. Menu khasnya: kopi ledre.
‘’Saya mulai membuatnya (kopi ledre, red) akhir 2024. Awal-awal pulang kampung,’’ ujar Anang saat ditemui Bojonegoro Raya di kedai kopinya, Jumat (2/10/2026) sore.
Pria mendalami dunia perkopian mulai 2012 itu meneruskan, kopi ledre lahir karena keresahan hati. Ledre jajanan khas Bojonegoro, identitas Bojonegoro. Namun, ledre jarang digeluti dan tidak menjadi tren bagi generasi muda Bojonegoro.
‘’Dari keresahan itu, terlintas di pikiran untuk memadukan ledre dengan kopi. Sebab, kopi begitu lekat dengan anak-anak muda,’’ imbuh pria kelahiran 1992 ini.
Hal yang mulanya sekadar terlintas di pikiran, syahdan mulai diwujudkan. Anang mulai mempelajari ledre lebih dalam. Meneliti aneka bahan, cara pembuatan, aroma, dan cita rasa ledre. Dari penelitian tersebut, dia menjadi makin paham soal ledre.
‘’Saya beli bahan-bahan ledre. Mengadon dan mengekstraknya menjadi sirup. Nah, sirup ini dicampur ke kopi. Jadilah kopi bercita rasa ledre. Kopi ledre,’’ terangnya.
Menurut Anang, menemukan cara tepat mengekstraksi adonan ledre menjadi sirup tidak mudah. Dia lama mengutak-atik agar cita rasa ledre tidak raib ketika menjadi sirup. Juga, supaya cita rasa ledre dalam sirup, tidak lenyap ketika bercampur kopi.
‘’Butuh 84 kali eksperimen untuk memastikan ekstraksi adonan ledre menjadi sirup itu berhasil. Total, habis 84 adonan. Makan waktu sekitar tiga bulan,’’ ungkapnya.

Pun, keberhasilan tidak dipastikan olehnya saja. Teman-temannya juga demikian. Dan, di awal-awal dulu, dia sempat mengedarkan kopi ledre di Alun-Alun Bojonegoro. Keliilng. Meminta banyak orang di ruang publik tersebut untuk mencicipi dan memberi testimoni.
‘’Waktu itu, orang-orang di alun-alun mengatakan kopi (kopi ledre, red) ini sudah bercita rasa ledre. Tidak terasa pisang atau yang lain,’’ kenangnya.
Berbekal banyak testimoni positif itu, lanjut Anang, kopi ledre diluncurkan. Mula-mula, dia menjual kopi ledre di kedai kopi yang dikelola bersama rekannya di Desa Dander, Kecamatan Dander. Baru pada pertengahan 2025, dia menjual kopi ledre di kedai kopinya sendiri.
‘’Deulleuda Coffe mulai buka 4 Mei 2025. Kopi ledre menjadi menu khas di sini, identitasnya Deulleuda,’’ jelas pria yang dulunya juga aktif di bidang fotografi itu.

Anang merefleksi, mimpinya mendekatkan ledre ke skena anak muda terbilang berhasil. Sejak Deulleuda Coffe buka pada medio 2025 itu, kopi ledre menjadi menu paling laris. Per bulan, rata-rata terjual 100 gelas. Harganya Rp 22.000 per gelas.
‘’Yang beli mayoritas anak muda. Mereka tampaknya tidak sekadar penasaran. Sebab, belinya berulang. Sering pesan kopi ledre setiap datang,’’ terangnya.
Anang berharap, upaya mengeksiskan ledre melalui kopi ledre tidak dipandang sebagai sesuatu yang merusak keaslian atau warisan ledre. Menurutnya, kopi ledre merupakan cara agar ledre bisa diakrabi anak muda. Supaya ledre tidak lekang ditelan ubah zaman.
‘’Dan lagi, kopi ledre selalu disajikan bersama ledre asli. Saya beli di produsen ledre di Desa Gapluk, Kecamatan Purwosari. Namanya Mbak Hartik,’’ ungkapnya.
Dengan demikian, pengusaha muda yang sempat menempuh pendidikan di SMKN Ngraho, Bojonegoro ini menandaskan, kopi ledre bukan saja kopi yang bercita rasa ledre. Tapi juga kopi bercita rasa ledre yang disajikan bersama ledre. Serba ledre.
‘’Kuliner warisan lama tidak bisa sekadar dijaga. Ia juga bisa dikembangkan. Wujudnya boleh berbeda. Namun, nama dan cita rasanya wajib dipertahankan,’’ prinsipnya.

Karena teguh pada prinsip itu, pengusaha muda sedang menempuh pendidikan Paket C ini meneruskan, kiwari dia sedang melakukan diversifikasi produk berbekal sirup hasil ekstraksi adonan ledre. Persisnya, dia ingin juga membuat kue lapis atau brownies ledre.
‘’Saya tidak sendirian. Di Deulleuda Coffe ini punya delapan karyawan. Di luar juga banyak teman. Mereka semua mendukung dan membantu saya,’’ imbuhnya.
Lebih lanjut, Anang mengemukakan, Pemkab Bojonegoro menyambut baik inovasi kopi ledre besutannya. Beberapa kali, dinas terkait mengundangnya menjadi narasumber untuk pelatihan membuat kopi ledre. Audiensnya anak muda hingga emak-emak.
‘’Syukur kopi ledre ini juga diakui birokrasi. Saat ini, kopi ledre tengah saya daftarkan sebagai suatu hak kekayaan intelektual (haki, red). Semoga berhasil,’’ pungkasnya. (sab/kza)

