Ledok Kulon Kampung Ternak Sapi, Kandang Berdekatan Rumah, Perputaran Miliaran saat Iduladha

KAMPUNG TERNAK: Salah satu kandang sapi di tepi jalan. Sapi nyaman dan dekat dengan aktivitas warga. Ledok Kulon sejak dulu jadi kampung ternak sapi.

BOJONEGORORAYA – Kandang sapi berdekatan dengan rumah-rumah warga. Dekat dengan kamar. Bersebelahan dengan dapur. Sapi-sapi itu pun seakan akrab dengan warga setempat.

Itulah potret kampung ternak sapi di Kelurahan Ledok Kulon, Kecamatan Kota, Bojonegoro. Sebuah kampung di kawasan perkotaan Bojonegoro, justru menjadi hunian nyaman ratusan sapi.

Kelurahan Ledok Kulon, ini perkampungan tidak luas. Tapi, padat penduduk. Kelurahan berada di bantaran Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan, Bojonegoro.

Dari kampung tepi bengawan, tampak kandang-kandang sapi berdiri. Perkiraan sementara, Ledok Kulon dengan luas wilayah 1,06 kilometer persegi atau 106 hektare itu terdapat sekitar 250 ekor sapi. Sebuah angka sapi yang besar mengingat berada di sebuah perkampungan sempit.

‘’Iya kandang sapi dekat dengan rumah warga. Sudah biasa. Rerata juga peternak sapi,’’ tutur Mbah To salah satu warga setempat.

Kandang Dekat Rumah, Samping Dapur

Pantauan Bojonegoro Raya, kandang sapi berada di tepi jalan perkampungan. Berhimpitan. Ada tujuh ekor sapi. Berjarak 150 meter lagi, terdapat kandang sapi dekat rumah. Berada di depan rumah.

Menengok ke kanan, terlihat kandang sapi lagi bersebelahan dengan rumah penduduk. Dekat dengan ruang tamu. Bertetangga dengan kamar tidur dan dapur. Tapi, tidak semua se kampung Ledok Kulon, berternak sapi. Hanya di kawasan tepi Bengawan.

Kandangnya juga terbuka. Tidak ada pagar yang memutari sapi-sapi tersebut. Sehingga, sapi-sapi ini begitu akrab dengan manusia. Seakan tidak ada jarak. Sejauh mata memandang ada kandang sapi. Sejauh sapi melihat ada warga beraktivitas.

‘’Rerata satu kandang ada 5 ekor sapi. Ada juga minimal tiga sapi,’’ tutur Zainudin salah satu peternak kepada Bojonegoro Raya.

Menurut Zainudin, perkiraan dalam satu kampung ada sekitar 250 ekor sapi. Semua peternak memilih penggemukan sapi. Membesarkan bobot sapi menjadi gendut alias gemuk. Berdaging.

Baca Juga :  Setyo Wahono Komitmen Pakai Dana Abadi Migas untuk Pendidikan

Jarang ada peternak memilih pengembangbiakan sapi. Sebaliknya, lebih membesarkan sapi. Beli sapi lalu merawatnya hingga gendut berdaging. Selanjutnya, menjualnya lagi.

Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) Bojonegoro luas wilayah Ledok Kulon sekitar 1,06 kilometer persegi atau 106 hektare. Sebuah kampung di perkotaan yang padat penduduk. Tapi, akrab dengan kandang sapi.

Bandingkan dengan wilayah desa lainnya. Misalnya, Desa Pacul, Kecamatan Kota, Bojonegoro, luas wilayahnya sekitar 217 hektare. Masih jauh luas dengan Desa Baureno dengan luas 198 hektare. Padahal, Baureno berada di kawasan desa.

BERI PAKAN RUMPUT: Salah satu kandang di Kelurahan Ledok Kulon. Lokasinya dekat bengawan. Tidak jauh dari rumah-rumah warga. (Foto: Khorij Zaenal Assrori)

Tidak Ada Sawah dan Rerumputan, Andalkan Ampas Tahu

Penggemukan sapi di Kelurahan Ledok Kulon, cukup unik. Kampung di tepi Bengawan ini tidak ada sejengkal pun sawah. Sehingga tidak ada jerami untuk pakan. Tidak ada kebun ataupun hutan. Padahal, sapi sebagai hewan ruminansia memakan rerumputan.

Penggemukan sapi di Ledok Kulon ini mengandalkan pakan ampas tahu. Ampas ini berupa sisa serapan kedelai sebagai bahan baku tahu. Sapi pun games atau lahap. Cepat berbobot.

Hampir merata semua warga yang beternak sapi ini merupakan produsen tahu. Kebetulan Ledok Kulon ini sentra produsen tahu. Produsen dan menjual tahu ke pasar-pasar tradisional hingga Gresik, Lamongan, Tuban, dan Blora.

‘’Pakannya ya ampas tahu ini. Kami tidak beli, karena sisa hasil memproduksi tahu milik sendiri,’’ tutur Zainuddin.

Meski begitu, peternak tetap membeli jerami atau rerumputan. Ada penyuplai jerami. Sapi sebagai hewan pemamah biak dengan rerumputan sebagai pakan utama.

Sehingga, berternak sapi ini merupakan celengan para produsen tahu. Istilahnya menabung. Dalam penggemukan ini rerata sekitar 6 bulan sampai setahun lalu menjualnya.

Perputaran Uang Miliaran saat Iduladha

Jumlah peternak sapi di Kelurahan Ledok Kulon, mengalami pasang surut. Ada yang beternak 5 sapi. Ada juga yang 2-3 sapi dalam satu kandang. Namun, ada juga yang lebih dari 10 ekor.

Baca Juga :  2.025 Penari Jalani Gladi Bersih, Siap Sambut Gubernur Jatim dan Pecahkan Rekor Muri

Tara salah satu peternak sapi mencontohkan, membeli pedet atau sapi anakan. Lalu, menggemukkannya. Setiap pagi dan sore, selalu nyombor atau memberi pakan jerami dan ampas tahu. Lalu, membersihkan kotoran hewan (kohe). Rutinitas.

Zainudin, peternak lainnya mengatakan, saat ini memiliki sekitar 40 ekor sapi. Semua jantan. Dan, sistem penggemukan. Asupan pakan dan gizi sapi menjadi pilihan dalam penggemukan ini.

Bahkan, semua sapinya sudah laku. Sudah pesanan berbagai warga untuk Hari Raya Iduladha. Sapinya laris untuk pemotongan hewan kurban.

‘’Rerata sapi harga Rp 23 juta ke atas,’’ jelasnya kepada Bojonegoro Raya.

Menurut Zainudin, kampung ternak sapi Ledok Kulon ini menjadi jujugan untuk memilih hewan kurban. Datang dari berbagai daerah untuk memantau sapi untuk penyediaan Iduladha.

Selain takmir musala dan masjid, Udin sapaannya juga menerima pesanan sapi dari berbagai kabupaten untuk Iduladha. Misalnya sampai mengirim ke Kabupaten Lamongan. Bahkan, ada juga sekolah di Surabaya.

‘’Biasanya sampai mengirim ke Gresik dan Surabaya,’’ lanjut peternak sekaligus produsen tahu.

Tentu, saat Iduladha berlangsung, perputaran uang jual beli sapi miliaran. Bayangkan, satu sapi rerata Rp 23 juta sampai 25 juta. Sedangkan, perkiraan sapi di Ledok Kulon, sebanyak 250 ekor.

Populasi Sapi di Bojonegoro Tren Menurun

Berdasar laman Satu Data Bojonegoro, populasi sapi potong jumlahnya tren menurun. Pada 2025 populasi sapi sebanyak 195.655 ekor. Menurun jauh dibanding 2024 sebanyak 240.519 ekor. Dan, 2023 sebanyak 274.926 ekor.

Adapun wilayah Bojonegoro menjadi sentra peternakan sapi. Menyebar di seluruh kecamatan. Hewan ruminansia atau pemamah biak ini menjadi andalan peternakan di Bumi Rajekwesi, sebutan Bojonegoro.

Potensi ini seiring wilayah Bojonegoro memiliki potensi besar ketersediaan pakan. Sekitar 40 persen dari total wilayah Bojonegoro, merupakan hutan. Di sinilah hutan menyediakan pakan rerumputan.

Baca Juga :  PLN UP3 Bojonegoro Gelar Talkshow Kado Listrik Ceria di Prameswara FM Lamongan

Beternak sapi, warga menyebutnya rojo koyo. Sapi menjadi aset. Menjadi investasi masyarakat setempat. Namun, ternyata populasi sapi di Bojonegoro dari tahun ke tahun tren menurun.

Terutama sejak badai penyakit mulut dan kuku (PMK) melanda peternakan sapi. Hingga saat ini, PMK masih menghantui. Sehingga, peternak ada rasa takut dan cemas beternak sapi. Takut sapi kena PMK. Bisa berujung mati hingga sapi harganya jatuh. Merugi.

‘’Jumlah produsen tahu yang beternak sapi mengalami penurunan. Rerata masih takut sapi kena PMK. Ada sapi yang sudah ditawar Rp 35 juta. Gegara kena PMK, hanya laku Rp 6 juta,’’ tutur Zainudin.

Beternak sapi itu perlu ilmu. Mengendalikan sapi doyan makan. Punya strategi apabila sapi terserang penyakit. ‘’Kalau bayi biasanya sakit tandanya menangis terus menerus, nah kalau sapi coba bagaimana tandanya?,’’ tutur Udin sapaan akrabnya.

Kepala Bidang Peternakan Disnakkan Bojonegoro Indra Firmansyah mengatakan, sejumlah titik sentra penggemukan sapi terdapat intervesi, salah satunya bibit pakan. Seperti di Tambakrejo dan Ledok Kulon.

‘’Kami mempunyai demplot pakan ternak. Membagikan pengadaan bibit pakan ke wilayah kelompok memiliki lahan,” jelasnya.

Indra melanjutkan, pengadaan bibit pakan berkualitas menyasar kelompok peternak yang bisa menyedikan lahan untuk bertanam. Selain itu, pihaknya mengambil sampel kesehatan ternak di sentra penggemukan sapi.

Pihaknya juga megaku membantu pemasaran hewan, baik melalui offline mapun online. Sebagai kabupaten penghasil sapi PO, pemberdayaan peternak harus intens. (man/kza)

error: Content is protected !!