Keluarga Suparno hidup kekurangan. Penghasilan hanya cukup untuk makan. Pasang meteran listrik tidak bisa. Terpaksa minta aliran listrik tetangga.
BOJONEGORORAYA – Selama ini Suparno sungkan dengan tetangganya. Rumah berdinding papan kayu-beralas tanah yang dia huni, meminta listrik dari rumah tetangga itu. Pilu.
Buruh tani dan buruh serabutan tinggal di Desa Penganten, Kecamatan Balen, Bojonegoro tersebut mengaku tidak mampu memasang meteran listrik untuk rumahnya sendiri.
Sekian penghasilan pria 47 tahun tinggal bersama istri dan dua anak serta orang tuanya itu, habis hanya untuk makan sehari-hari. Untuk pasang meteran listrik, tidak terpikirkan.
Namun, apa yang dialpakan Suparno itu menyata, Sabtu (28/12/2024) siang. Sebuah meteran listrik terpasang-berfungsi di rumahnya. Kini, listrik rumahnya pun mandiri. Tidak minta tetangga lagi.
“Saya bersyukur. Alhamdulillah. Semoga ini bisa membuat keluarga saya lebih baik lagi,” tuturnya, Kamis (28/12/2024) siang.
Apa dialami Suparno dengan meteran listrik baru di rumahnya itu, merupakan buah program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) diotoritasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Adapun, keluarga Suparno hanya salah satu dari ratusan keluarga atau rumah tangga kurang mampu penerima manfaat program sosial yang diprakarsai kementerian mitra Komisi XII DPR RI tersebut.
Selain keluarga Suparno, tercatat ada 907 keluarga kurang mampu di Bojonegoro menerima manfaat program BPBL dalam tempo realisasi serupa. Jadi, totalnya 908. Tersebar di 17 kecamatan.
Hal itu dikemukakan Koordinator Perlindungan Konsumen dan Usaha Ketenagalistrikan Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Ainul Wafa dalam acara Penyalaan Pertama Program BPBL, Sabtu (28/12/2024) siang.
Dalam seremoni di Desa Penganten, Kecamatan Balen, Bojonegoro tersebut, Ainul sapaannya mengatakan, pada 2024 progam BPBL ditetapkan untuk 26.840 rumah tangga di Jawa Timur.
“Dan, itu akan terus ditingkatkan secara bertahap. Hingga sesuai target sebanyak 27.120 rumah tangga,” lanjutnya.
Ainul sapaannya meneruskan, hingga kini masih cukup banyak ditemui rumah di bawah atau di dekat tiang listrik. Tapi rumah tersebut tidak punya listrik sendiri. Alias, listriknya masih numpang. Miris.
“Untuk itu, pemerintah hadir melistriki setiap rumah tangga yang tidak mampu memasang listrik sendiri karena keterbatasan biaya,” tandasnya.
Dia optimistis program sosial digulirkan Kementerian ESDM sejak 2022 itu benar-benar bermanfaat. Para penerima bisa mengakses listrik secara mandiri. Tidak bergantung pada tetangga lagi.
Anggota Komisi XII DPR RI Ratna Juwita Sari yang hadir dalam seremoni itu mengatakan, pihaknya mengapresiasi program BPBL. Program dimaksud inisiasi dan aksi yang bagus.
Selain menggratiskan masyarakat kurang mampu dalam memperoleh akses listrik secara mandiri, program BPBL tentu juga turut berperan dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Lihat postingan ini di Instagram
Ratna Juwita Sari berharap, para warga penerima manfaat program BPBL itu ke depan membuka usaha produktif di rumahnya. Sehingga, punya potensi lebih untuk benar-benar mandiri.
“Saya memotivasi para warga yang sudah memiliki listrik itu. Buka usaha produktif di rumah. Selanjutnya, bisa membeli token listrik sendiri,” tuturnya.
Pj Sekretaris Daerah (Sekda) Bojonegoro Djoko Lukito yang juga hadir dalam acara Penyalaan Pertama Program BPBL itu mengatakan, pihaknya sangat mengapresiasi program BPBL.
Djoko sapaannya mengimbau, para penerima manfaat BPBL memanfaatkan listrik dengan baik dan wajar. Jangan sampai listrik dipergunakan untuk hal-hal membahayakan hingga merugikan.
“Misalnya, jangan sampai listrik itu dipakai untuk membuat jebakan tikus. Itu sangat berbahaya,” pesannya.

Dalam kesempatan sama, Staf Ahli Direksi Direktur Retail dan Niaga PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Priyo Wurianto menyampaikan, pihaknya berkomitmen mendukung program BPBL.
Pihaknya juga berharap, para penerima manfaat BPBL bisa menggali manfaat lebih dari aliran listrik yang dipasang secara mandiri dan gratis melalui program BPBL Kementerian ESDM itu.
“Semoga program BPBL ini bisa membantu (penerima manfaat, red),” pungkas staf ahli akrab disapa Priyo tersebut. (sab/kza)


