Kisah Pendidikan dari Pedalaman Gondang (5)

Mayoritas Naik Motor, BAB Masih di Sungai

TERPAKSA: Siswi SMPN 2 Gondang pulang sekolah mengendarai motornya. (Foto: Yusab Alfa Ziqin/Bojonegoro Raya)

TIDAK ada angkutan pelajar. Tanpa ada angkutan umum. Siswa-siswi SMP di pedalaman Kecamatan Gondang terpaksa berkendara motor. Reng-reng-reng, berangkat sekolah dengan kuda besi.

Pun demikian siswa-siswi SMPN 2 Gondang. Mereka tidak mudah mencapai sekolah. Medannya berat. Jalannya naik-turun bukit. Melelahkan jika menempuhnya bersepeda. Menguras tenaga.

Kondisi itu membuat siswa-siswi SMPN 2 Gondang yang berasal dari Desa Krondonan, Pragelan, Klino, dan Deling, sama naik motor dalam pulang-pergi bersekolah.

Adrian Aziz Dwi Pradana siswa SMPN 2 Gondang mengatakan, tidak punya pilihan. Memang harus naik motor untuk pulang-pergi sekolah .

‘’Jarak rumah dengan sekolah, jauh. Jalan naik-turun,’’ ujarnya saat diwawancara Bojonegoro Raya, Senin (27/4/2026) siang.

Remaja tinggal di Dusun Gayam, Desa Klino itu meneruskan, orang tuanya juga mempersilakan bahkan menganjurkan. Asal, tetap hati-hati selama perjalanan.

‘’Tidak boleh ngebut. Dilarang bonceng tiga,’’ imbuh remaja 14 tahun bermotor Vario itu.

Mobil angkutan umum tidak ada. Puluhan mobil angkutan Program Angkutan Pelajar Gratis Pemkab Bojonegoro, juga tidak menjangkau wilayah tersebut.

Selain itu, para orang tua siswa-siswi SMPN 2 Gondang rerata berhalangan mengantarkan anak-anaknya. Pagi-pagi, sudah sama sibuk bekerja di sawah, kebun, atau hutan.

Waka Kesiswaaan SMPN 2 Gondang Joko Wicaksono mengatakan, seolah memang tidak ada pilihan bagi para anak didiknya. Pulang-pergi sekolah harus naik motor.

‘’Kami terpaksa mengizinkan. Hampir semuanya naik motor. Kelas 7, 8, 9,’’ ungkapnya kepada Bojonegoro Raya, Rabu (22/4/2026) pagi.

Kendati demikian, pendidik alumnus IKIP PGRI Bojonegoro itu mengatakan, pihaknya aktif melakukan pengawasan. Memastikan siswa-siswi tertib dan hati-hati selama perjalanan.

‘’Tentu kami mengkhawatirkan mereka. Namun, bagaimana lagi. Sejauh ini, tidak ada pilihan lain yang memudahkan,’’ pasrahnya.

Joko Wicaksono berharap, ke depan, Program Angkutan Pelajar Gratis Pemkab Bojonegoro dapat melebarkan jangkauan rutenya sampai ke Kecamatan Gondang.

Baca Juga :  Investor Pabrik Bioetanol Bojonegoro Tunggu Kepastian, Walhi Ingatkan Dampak Lingkungan

Pria yang menjadi guru sejak 2003 itu memperkirakan, program diotoritasi Dishub Bojonegoro tersebut akan mengubah kebiasaan siswa -siswi SMPN 2 Gondang.

‘’Mereka tidak akan naik motor lagi dalam pulang-pergi ke sekolah. Kalau masih, mung­kin tidak banyak,’’ imbuhnya.

Selain kebiasaan naik motor, siswa-siswi SMPN 2 Gondang juga memiliki satu kebiasaan mengkhawatirkan lainnya. Namun, minoritas. Tidak banyak. Hanya beberapa siswa saja.

Kebiasaan itu, saat bersekolah, masih ada siswa SMPN 2 Gondang izin buang air besar (BAB) di sungai. Dari sekolah, sungai tersebut berjarak sekitar 500 meter. Namanya Sungai Gandong.

‘’Kami tidak bisa tidak mengizinkan. Karena, itu kebiasaan mereka di rumah, dibawa ke sekolah,’’ keluh Joko Wicaksono.

Atas kebiasaan dimaksud, dia menandakan, para guru SMPN 2 Gondang sudah meng­upayakan perubahan. Ada yang berhasil dalam waktu singkat, ada yang sangat perlahan.

‘’Kami pernah memaksa agar siswa bersangkutan BAB di toilet sekolah. Dia benar-benar tidak bisa,’’ herannya.

Joko Wicaksono memastikan, toilet di SMPN 2 Gondang sangat layak. Ada lima. Semuanya berfungsi dan selalu bersih. Namun, mengubah kebiasaan memang butuh waktu.

Adrian Aziz Dwi Pradana mengemukakan, memang nyata ada beberapa temannya masih BAB di sungai saat bersekolah.

‘’Karena kebiasaan mungkin, ya. Atau karena hal lain, saya juga tidak tahu,’’ ucapnya ragu-ragu.

Fulan salah satu siswa SMPN 2 Gondang yang beberapa kali izin BAB di sungai saat bersekolah. Dia beralasan, air di toilet sekolah sering habis atau mati.

‘’Jadinya tidak nyaman (untuk BAB, red),’’ ujarnya kepada Bojonegoro Raya, Senin (27/4/2026) siang.

Fulan melanjutkan, aliran Sungai Gandong yang menjadi tempatnya BAB memang agak jauh dari sekolah. Untuk itu, dia mengendarai motor guna menjangkaunya.

‘’Setelah BAB, saya kembali ke sekolah. Masuk kelas. Ikut pelajaran lagi,’’ ungkapnya. (sab/kza)

Baca Juga :  Suka Olahraga, Terampil Berkebun Bawang Merah

— Artikel ini bagian dari Majalah Pintar yang diterbitkan Bojonegoro Raya, Sabtu (2/5/2026) lalu. Menepati Hari Pendidikan. Beredar digital, dalam format pdf dan flipbook.

error: Content is protected !!