Membanggakan, Wening Pawestri Dosen UT Bojonegoro Lulus S-3 Sastra Jawa Unpad, Teliti Naskah Kuno di Benua Asia  

TOKOH MUDA: Wening Pawesti sesaat usai menjalani sidang doktor di Universitas Padjajaran, Jumat (24/7/2025). Wening menambah daftar orang hebat Bojonegoro yang lulus S-3.

BOJONEGORORAYA – Wening Pawestri menambah daftar orang hebat Bojonegoro yang sukses meraih doktor bidang sastra. Sidang promosi doktor berlangsung Jumat (25/7/2025). Membanggakan.

Lulus dengan disertasi mengangkat naskah-naskah kuno kajian filologi. Serius menempuh program doktor (strata tiga/ S-3) Prodi Ilmu Sastra Konsentrasi Filologi di Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Padjajaran (Unpad).

Sidang promosi doktor berlangsung di Aula Pusat Studi Bahasa Unpad. Berjalan lancar. Dosen Universitas Terbuka (UT) Bojonegoro tersebut mengangkat penelitian sastra tentang filologi. Judul penelitian, yakni Serat Ngelmu Bumi Asia: Catatan tentang Topografi Negara-Negara di Benua Asia 1960.

Wening menambah deretan orang-orang hebat Bojonegoro yang merengkuh S-3. Terlebih, tidak banyak orang Bojonegoro menuntaskan program doktor bidang sastra.

Disertasi yang mengagumkan. Menambah khazanah penelitian sastra lingkup filologi. Disertasi karya Wening Pawestri ini tentu akan menjadi pijakan penelian lain mendatang. Naskah disertasi ini menjadi gerbang kajian ilmu lain.

‘’Memang sedikit yang konsetrasi pada filologi sastra Jawa. Dan, naskah disertasi ini menjadi gerbang awal membuka penelitian yang lain. Multidisiplin ilmu lainnya seperti geografi, sejarah, linguistik, sastra,’’ tutur Wening sapaannya.

Mengkaji Naskah-Naskah Kuno Asia pada 1860

Penyelamatan naskah kuno. Meneguhkan sastra Jawa dan kebudayaan. Menggairahkan anak muda peduli sejarah. Itulah alasan Wening mengangkat disertasi berjudul Serat Ngelmu Bumi Asia: Catatan tentang Topografi Negara-Negara di Benua Asia 1960.

‘’Filologi penelitian ini lebih menyelamatkan naskah-naskah kuno dan mengerti kandungannya. Terlebih masih jarang yang menekiti tentang ilmu bumi,’’ tutur Wening.

Dari penelitian karya Wening ini, seakan terbongkar “harta karun” ilmu bumi dan topografi kental kebudayaan. Bahwa, pada 1860 masa sastra Jawa baru.

Sastra Jawa mulai bangkit dengan langgam yang khas. Pada masa sastra Jawa baru itu, misalnya muncul pujangga Ronggowarsito. Masa keemasan periode sastra Jawa.

Baca Juga :  Kampus Kesehatan di Bojonegoro Beragam, Stikes Maboro Ilmu Gizi, Unugiri Farmasi

Wening mengatakan, buku, literatur, dan perpustakaan, menjadi menu dalam meracik disertasinya. Lembaran-lembaran buku bergerak. Ragam literatur. Menelaah beragam naskah di Pura Mangkunegaran Surakarta.

‘’Dari situlah tertuang kenapa ada sebutan Hindia Belanda. Ada penyebutan Turki Asia, Balochistan,’’ tutur lulusan S-1 Sastra Jawa UNS Surakarta tersebut.

Wening sengaja meneliti Benua Asis pada 1860 karena ada rentetan. Seperti episode-episode yang bersambung. Misalnya, mulai dari Turki, India, hingga negara-negara di Semenanjung Malaka. Seperti Indonesia, Malaysia, dan Brunei.

‘’Dulu kolonial menganggap penghasil rempah merupakan India. Ternyata justru penghasil rempah terbesar dari negara di belakang Semenanjung Malaka, terutama Indonesia,’’ tutur dosen tinggal di Kelurahan Ledok Kulon, tersebut.

Dari situlah, para kolonial menyebut negara-negara tersebut atau Hindia Belanda sebagai Asia Mburi atau Asia Belakang. Penyebutan itu pun sesuai dengan temuan-temuan naskah kuno.

Menurut Wening, dari penelitian tersebut menandakan bahwa pada masa keeamasan sastra Jawa tersebut, orang jawa sudah maju. Bisa menulis. Berkarya. Berbudaya.

Wening Pawestri usai sidang promosi doktor Sastra Unpad, Jumat (24/7/2025). Berfoto bersama dengan penguji, profesor, dan guru besar Unpad.

Lulusan ke 312 Doktor Sastra di Unpad

Wening terlihat tersenyum. Memakai gaun kebaya merah marun, cukup tenang menjalani sidang promosi doktor di Unpad. Menjadi lulusan ke 312 doktor sastra Unpad.

Sidang doktor dengan sederet akademisi hebat. Guru besar. Wening pun mampu menuntaskan sidang promosi doktor dengan tenang. Lancar.

Menurut Wening, masih sedikit para akademisi dan ilmuwan yang tertarik pada sastra bidang filologi. Namun, karena dukungan suami dan orang tuanya, Wening mampu menuntaskan disertasi dengan membanggakan.

Peraih juara satu desain batik Bojonegoro 2024 mengatakan, bahwa karya disertasina tidak sekadar sejarah dari Indonesia, namun mampu membuka jendela dalam lingkup negara-negara Benua Asia. Tahun 1960.

Sastra dan Anak Muda Bojonegoro

Wening menaruh harapan besar atas Bojonegoro. Tanah kelahirannya pun menyimpan “harta karun” sejarah dan budaya masa lampau. Ada naskah kuno. Ada jejak dan literatur.

Baca Juga :  Medhayoh Haji dan Asa Penggerak Mengentas Kemiskinan

Misalnya, Bojonegoro memiliki Bengawan yang menawan. Ada jejak sejarah dan budaya. Begitu pun, wilayah Padangan juga kental dengan ragam sejarah dan budaya.

Wening mengajak anak muda, terutama di Bojonegoro, untuk mencintai sejarah dan sastra budayanya. Sekaligus memberi pesan bahwa peninggalan sejarah tidak sekadar bangunan. Namun, juga sebuah karya sastra dan ilmu pengetahuan.

Naskah kuno memang “harta karun” untuk masa depan. Begitu pun anak muda peduli sejarah, sastra, dan budaya, merupakan aset masa depan. (kza)

error: Content is protected !!