Menjaga ‘Mama’ dengan Ekowisata

PEMBICARA: Menase Fami (berdiri) saat Sharing Session dalam Media Gathering yang digelar Pertamina EP Cepu Regional 4 Indonesia Timur, Senin (23/6/2025). (Foto: Yusab Alfa Ziqin/Bojonegoro Raya)

Masyarakat Kampung Adat Malasigi menasbihkan hutan sebagai mama. Mereka menjaganya dengan ekowisata. Didukung Pertamina.

BOJONEGORORAYA — Kampung Adat Malasigi di Distrik Klayili, Sorong, Papua Barat, dijauhkan dari petaka. Masyarakat adat setempat kukuh melestarikan hutan dan keanekaragaman hayati di wilayahnya dengan ekowisata.

Hal itu diutarakan Kepala Kampung Adat Malasigi Menase Fami saat mengisi Sharing Sessions dalam Media Gathering yang digelar Pertamina EP Cepu Regional 4 Indonesia Timur di Hotel Claro Makassar, Senin (23/6/2025) siang.

“Hutan adalah mama. Hutan memberi kami makan sehari-hari. Maka, hutan wajib kami jaga,” ujar Menase Fami, Senin (23/6/2025) siang itu.

Menase Fami menyebut, hanya ekowisata yang ideal untuk menjaga hutan di wilayah adat Malasigi. Ekowisata mengawinkan kepentingan pelestarian ekologi dengan pariwisata. Sehingga, ekologi terjaga. Dampak ekonomi pun ada.

“Ekowisata menambah penghasilan kami dari hutan. Penghasilan kami tidak dari sekadar berburu atau berkebun di hutan lagi,” imbuhnya.

Menase Fami tidak mengemukakan berapa nominal pendapatan dari geliat ekowisata di Kampung Adat Malasigi. Yang jelas, pundi cuan dari pariwisata segmented itu lebih dari cukup. Mampu mengubah taraf hidup masyarakat setempat.

“Berkat pendapatan dari ekowisata, kami sampai bisa memberikan beasiswa untuk anak-anak kami di Kampung Adat Malasigi,” ungkapnya.

Menase Fami mengenang, banyak tantangan untuk merintis ekowisata di Kampung Adat Malasigi itu—sejak 2016 silam. Mulai resistensi dari beberapa pemimpin marga setempat, hingga kebuntuan soal permodalan.

“Dengan komitmen, kerja sama, dan bukti, semua tantangan itu kami lewati,” imbuh pria yang juga Ketua Lembaga Pengelola Hutan Kampung (LPHK) Malasigi itu.

Salah satu pihak yang bekerja sama atau mendukung ekowisata di Kampung Adat Malasigi, kata Menase Fami, yakni Pertamina EP Cepu Regional 4 Indonesia Timur. Korporasi hulu migas itu betul aktif membantu.

Baca Juga :  Pagi di Pasar Kota: Ikan Segar, Parkir Bebas Bayar

“Pertamina membantu kami dalam memperoleh akses listrik dan air bersih yang efisien serta memadai. Juga membantu dalam hal lain. Banyak,” terangnya.

Terkhusus perihal bantuan akses listrik, Pertamina EP Cepu Regional 4 Indonesia Timur menghadirkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Kampung Adat Malasigi. Berkapasitas 8,72 kilowatt peak (kWp).

PLTS tersebut hadir melalui program Desa Energi Berdikari (DEB) Papua Community Mata Hati Malasigi. Diinisiasi Pertamina EP Papua Field, entitas industri hulu migas di bawah Pertamina EP Cepu Regional 4 Indonesia Timur.

“Sebelumnya kami sulit mengakses listrik. Ada genset tapi operasionalnya mahal. Beli solar harus jauh di Sorong. Ongkosnya mahal,” imbuh Menase Fami.

Meski sudah banyak membantu, Menase Fami melanjutkan, Pertamina EP Cepu Regional 4 Indonesia Timur tidak pernah mencampuri urusan domestik masyarakat adat Malasigi. Betul nyaman atas kehadiran korporasi hulu migas itu.

“Yang merisaukan kami adalah perusahaan sawit. Beberapa bulan lalu, mereka coba masuk kampung kami. Terang, kami pun menolak. Khawatir hutan rusak,” imbuhnya.

Lebih lanjut, dia berharap, ekowisata di Kampung Adat Malasigi terus eksis. Senantiasa didukung Pertamina EP Cepu Regional 4 Indonesia Timur, pemerintah setempat, komunitas atau organisasi, hingga para akademisi.

“Kami ingin terus menjaga mama dengan ekowisata. Ingin hutan kami tetap baik dan lestari, punya manfaat secara ekonomi,” pungkasnya.

Untuk diketahui, ekowisata di Kampung Adat Malasigi menyuguhkan kekayaan ekologi, flora-fauna, hingga kearifan lokal tradisi budaya. Beberapa lokus unggulan di antaranya Hutan Balempe, Mata Air Panas Balempe, dan Goa Wo’batiwala.

Di ekowisata Kampung Adat Malasigi, hidup lima jenis burung Cendrawasih dilindungi regulasi negara. Meliputi Cendrawasih Kecil, Cendrawasih Raja, Cendrawasih Mati-kawat, Cendrawasih Belah-rotan, dan Toowa Cemerlang.

Baca Juga :  Tiga Calon Sekda Bojonegoro Sudah Mengemuka, Tinggal Dipilih Bupati

Pada 17 November 2024, ekowisata itu mengantarkan Kampung Adat Malasigi menjadi Juara 1 Desa Wisata Rintisan dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024 di Teater Tanah Airku, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. (sab/kza)

error: Content is protected !!