Catatan dari Vietnam (1)

Perjalanan Membangun Pertanian, dari Vietnam ke Bojonegoro

18/01/2025

Oleh: A. Shodiqurrosyad
Kader Sinau Bareng Ademos

——————-

TIDAK mudah menjadi negara memiliki kedaulatan pangan. Tentu, pemerintah negara setempat perlu menyusun kebijakan untuk mengupayakan kedaulatan pangan itu secara rigid dan komprehensif. Lalu, melaksanakannya secara partisipatif, konsisten, dan evaluatif.

Setidaknya, begitu pelajaran yang saya dapat kala berkunjung ke Vietnam medio 2024 lalu. Dalam kegiatan Summer Course Program 2024 yang dilaksanakan Institut Pertanian Bogor (IPB). Diikuti dosen dan mahasiswa IPB, Universitas Jenderal Soedirman, Universiti Putra Malaysia, dan Nong Lam University.

Vietnam, negara berdaulat pangan. Menjadi eksportir beras terbesar nomor tiga dunia. Setelah India dan Thailand. Menukil Nikke Asia, pada 2023 Vietnam memproduksi lebih dari 43 juta ton beras. Meningkat 1-2 persen ketimbang 2022. Padahal, kala itu sedang direbus panas ekstrem akibat El Nino.

Jika ditarik pada konteks lokal Bojonegoro, apa yang diraih negeri Ho Chi Minh itu tentu menarik. Secara substansi, Vietnam dan Bojonegoro punya kesamaan soal kedigdayaan produksi beras. Bahkan, Bojonegoro mahsyur dikenal sebagai lumbung pangan nasional karena produksi beras yang melimpah.

Vietnam dan Bojonegoro, juga sama-sama memiliki sungai penopang utama pertaniannya. Jika Vietnam punya Sungai Mekong yang mengalir di selatan Kota Ho Chi Minh (eks Kota Saigon), maka Bojonegoro punya Bengawan Solo yang membentang dari Bojonegoro barat hingga Bojonegoro timur.


Adapun, keberhasilan Vietnam membangun sektor pangan tidak lepas dari peristiwa Doi Moi 1986–sebuah revolusi ekonomi Vietnam. Sebelum Doi Moi itu, hasil produksi beras Vietnam terstagnasi selama 1976-1980 sebagai dampak perang perang Vietnam Utara kontra Vietnam Selatan.

Bahkan, pada rentang waktu 1976-1980 itu, Vietnam sempat kekurangan pangan hingga timbul kelaparan dan pelbagai dampak buruk di bidang ekonomi, sosial, politik. Sejak peristiwa Doi Moi, Vietnam perlahan bangkit. Berupaya meloloskan diri dari lumpur keterpurukan.

Baca Juga :  Muhammadiyah Mulai Pilot Project Pesantren di Bojonegoro, Diresmikan Bupati Wahono

Entah bagaimana teknisnya. Doi Moi berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas dan kualitas produksi pangan Vietnam. Yang jelas, pemerintah yang peka terhadap kedaulatan pangan, sukses menyusun dan merealisasikan aneka kebijakan. Beberapa tahun belakangan ini, Vietnam memetik hasilnya.

Namun, capaian tersebut tidak lantas membuat Vietnam berpuas. Mereka terus berupaya meningkatkan nilai tambah hasil pertanian mereka. Caranya, melibatkan akademisi, pengusaha, serta tentu saja petani. Mereka mengembangkan agroindustri untuk mengolah hasil pertanian Vietnam.

Chanh Viet (Chavi) Company dan Green Food Company adalah dua dari banyaknya korporasi di Vietnam yang bergerak di bidang agroindustri. Dalam beberapa tahun belakangan, Chavi Company menyuburkan lahan tidak subur dengan keasaman (pH tanah) rendah di distrik Ben Luc, Provinsi Long An.

Lahan tidak subur seluas lebih dari 150 ha itu, disulap Chavi Company menjadi perkebunan jeruk nipis tanpa biji terbesar di Vietnam. Model pertaniannya organik pula. Mereka menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian termutakhir. Kualitas produksinya mengikuti standar Eropa.

Jeruk nipis yang dipetik dari pertanian itu kemudian diolah Chavi Company menjadi aneka produk. Mulai minuman lime juice, lime powder, hingga lime essential oil. Dikemas. Lantas diekspor ke berbagai negara di Eropa, Jepang, India serta sejumlah negara lain.

Begitu juga dengan Green Food Company yang terletak di Distrik Cu Chi, Kota Ho Chi Minh. Tangan dingin Dang Thị Yen selaku CEO Green Food Company, berhasil memproses hasil pertanian dan perkebuhan Vietnam menjadi lebih dari 32 jenis produk minuman alami. Fantastis.

Salah satu poin penting Green Food Company yakni ogah mengolah hasil pertanian dari luar Vietnam. Mereka betul-betul arif. Mengapa bisa konsisten? Ya, sebab hasil pertanian mereka olah beragam. Tidak bergantung pada satu jenis komoditas yang rawan langka dan harganya dipatok tinggi.

Baca Juga :  Jemaah Haji Bojonegoro Bersiap Puncak Haji, Termasuk yang Memakai Kursi Roda

Teknisnya, hasil pertanian diolah Green Food Company disesuaikan dengan musim panen yang berlangsung di Vietnam. Jika musim panen nanas, mengolah nanas. Jika musim panen markisa, mengolah markisa. Jika musim panen lidah buaya, mengolah lidah buaya. Begitu seterusnya.

Strategi adaptif Green Food Company terhadap ketersediaan komoditas pertanian lokal tersebut sungguh bijak sekaligus menantang. Namun, kenyataannya Green Food Company berhasil. Komiten mereka meningkatkan nilai tambah hasil pertanian lokal, telah terpenuhi secara variatif.

Selain dua perusahaan tersebut, saya bersama profesor dan mahasiswa Indonesia diajak bersinggungan dengan Konsulat jenderal Indonesia di Kota Ho Chi Minh. Lalu berkunjung bersama ke Mylan Group di Provinsi Tra Vinh yang berjarak sekitar 142,5 km dari Kota Ho Chi Minh.


Di Mylan Group, kami dipandu langsung oleh Founder dan Owner Mylan Gorup Dr. Nguyen Thanh My. Selama lebih dari lima jam, kami diperlihatkan teknologi aquaculture dan pertanian yang sedang dikembangkan-diintegrasikan dengan ilmu saintek termutakhir di dalamnya.

Kata Dr. Nguyen Thang My, pengembangan-pengintegrasian teknologi aquaculture dan pertanian dimaksud wajib dilakukan Mylan Group. Sebagai bentuk implementasi komitmen Vietnam dalam menyongsong pertanian bersih atau nol emisi pada 2050.

Vietnam sangat tegas memegang komitmen menjadi negara dengan pertanian yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Selain korporat, Dr Nguyen Thanh My juga ilmuan. Dia mengembangkan teknologi TOMGOXYTM Intensive Shrimp Farm yang lebih efisien dari teknologi roda kayuh (paddle wheel).

Arsyad Ademos - Bojonegoro Raya (1)
Founder Mylan Group Dr. Nguyen Thanh My mendemostrasikan cara kerja inovasi teknologinya kepada rombongan asal Indonesia, medio 2024 lalu. (Foto: Dok. Pribadi A. Shodiqurrosyad)

Menurut ilmuwan pemilik lebih dari 700 hak paten dari Vietnam tersebut,  TOMGOXYTM Intensive Shrimp Farm juga lebih ramah lingkungan. Pengoperasiannya cukup melalui aplikasi smartphone saja. Ringkas. Mudah. Minim tenaga.

Sungguh. Sederet penampakan di Chevy Company, Green Food Company, hingga Mylan Group itu pengalaman berharga bagi saya. Kiranya, bisakah hal-hal keren di Vietnam tersebut dapat terimplementasi di Bojonegoro yang berjuluk lumbung pangan nasional ini? (*/sab/kza)

Baca Juga :  Air Bengawan Bojonegoro Memerah Kehitaman, Diduga Tercemar
error: Content is protected !!