Sebanyak 375 Anak Tidak Sekolah di Bojonegoro Memilih Belajar di PKBM

BACA BUKU: Anak-anak belajar dan membaca buku di PKBM Karya Muda Kecamatan Sukosewu. Disdik Bojonegoro terus mengurangi anak tidak sekolah (ATS). Salah satunya opsi belajar di PKBM. (Foto: Istimewa/Bojonegoro Raya).

BOJONEGORORAYA – Pengentasan jumlah anak tidak sekolah (ATS) di Bojonegoro menjadi prioritas. Semua pihak, terutama Dinas Pendidikan (Disdik) Bojonegoro terlibat untuk mengurangi ATS.

Ada progres ATS berkurang. Tercatat sebanyak 375 ATS kembali mengenyam pendidikan nonformal. Skema ini salah satu opsi Disdik Bojonegoro dalam pengentasan melalui alternatif di pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM).

Dari 375 ATS tersebut, rentang usianya di bawah 18 tahun. Meliputi jenjang pendidikan kesetaraan sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA).

Sebanyak 375 ATS tersebut berusaha memperoleh ijazah kesetaraan paket A setara SD. Serta, ijazah paket B setara SMP, hingga paket C setara SMA.

Kepala Bidang (Kabid) Peningkatan Mutu PAUD dan Pendidikan Nonformal Disdik Bojonegoro Rasmadi mengatakan, upaya pengentasan ATS terus berlangsung mengajak kembali sekolah di lembaga pendidikan formal.

Namun, ATS bisa memilih pendidikan alternatif di PKBM. Lokasi PKBM pun menyebar.

‘’PKBM ini sebagai salah satu alternatif, karena ada sesuatu hal yang membuat ATS tidak ingin sekolah di pendidikan formal,’’ ujarnya kepada Bojonegoro Raya.

Belajar PKBM karena Sudah Bekerja

Rasmadi menegaskan, secara usia mereka di bawah 18 tahun. Usia wajib belajar, masih bisa masuk di sekolah formal. Namun, memilih PKBM karena beberapa alasan. Misalnya, malu, disabilitas, sudah bekerja, dan membantu ekonomi orang tua.

‘’Berupaya tetap kembali ke sekolah formal. Namun, jika sudah tidak berkenan kami tampung di PKBM. Langkah ini agar tetap bisa mendapatkan hak mengenyam pendidikan,” tutur mantan kepala SMPN 1 Padangan tersebut.

Menurut Rasmadi, jumlah ATS yang mengikuti PKBM tahun ini tercatat 375 warga belajar. Tersebar di 21 PKBM. Sebanyak 31 warga belajar di jenjang pendidikan SD. Jenjang SMP 201 warga belajar, dan jenjang SMA ada 143 warga belajar.

Baca Juga :  Srikandi PLN UP3 Bojonegoro Salurkan Paket Sembako untuk Ponpes Darut Tawwabin

‘’Kalau secara keseluruhan yang belajar di PKBM jumlahnya ribuan. Tapi, data ini sesuai ruang lingkup khusus pengentasan ATS,” tutur mantan guru SMPN 2 Bojonegoro tersebut.

PKBM Tetap Berdasar Kurikulum dan Berjenjang

Rasmadi mengatakan, ATS di jenjang SD tahun ini menempuh di empat PKBM. Terbanyak di PKBM Wana Bhakti, Kecamatan Ngasem. Sementara, jenjang SMP dan SMA menempuh belajar tersebar di 17 PKBM.

Warga belajar menjadi istilah siswa yang mengenyam pendidikan di PKBM. Sistem pembelajaran fleksibel. Namun, dengan catatan harus menyelesaikan kurikulum.

Pendidikan nonformal pun tetap berjenjang. Misalkan tingkat SD harus tuntas hingga kelas enam. Begitu juga dengan SMP dan SMA.

‘’Karena ini nonformal, mereka sistem pembelajaran lebih fleksibel,’’ jelasnya.

Adapun, PKBM tidak hanya membawa ruang harap bagi pelajar yang tidak menghendaki pendidikan formal. Serta, warga binaan mempunyai keterbatasan.

PKBM juga menjadi ruang literasi anak-anak di desa. Beberapa PKBM mendirikan perpustakaan. Literasi dan edukasi pun terisi. (man/kza)

error: Content is protected !!