Sinden Cilik Galuh Mustiko Mumpuni, Pelantun Tembang dari Kasiman

SINDEN CILIK: Galuh Mustiko Mumpuni saat nyinden di Pendapa Kayangan Api, Sabtu (17/1/2026) malam. (Foto: Dwi Nurdiantoro/Bojonegoro Raya)

Galuh Mustiko Mumpuni berdarah seni. Kenal tembang sejak dalam kandungan. Kini menjadi sinden cilik. Merdu suaranya. Mengalun di berbagai kota.

BOJONEGORORAYA – Lantun tembang beriring musik karawitan mengalun di Kayangan Api, Sabtu (17/1/2026) malam. Menguar ke setiap sisi. Juga merambat masuk ke tepi hutan jati melingkungi Kayangan Api.

Lantun tembang dan musik karawitan itu dimainkan grup karawitan Sanggar Rengganis di Pendapa Kayangan Api. Sindennya dua. Satu dewasa, satu anak-anak. Keduanya paesan Jawa. Cantik. Menik-menik. Seperti putri keraton.

Galuh Mustiko Mumpuni merupakan sinden masih anak-anak itu. Usianya 10 tahun. Duduk simpuhnya sudah luwes. Anggun. Bibirnya berkamit melantunkan ragam tembang. Merdu. Menghadirkan syahdu.

‘’Saya senang sekali menjadi sinden seperti ini,’’ ujarnya saat diwawancara Bojonegoro Raya usai penampilannya, Sabtu (17/1/2026) malam.

Sinden cilik asal Desa Ngaglik, Kecamatan Kasiman, Bojonegoro itu menceritakan, dia belajar nembang sejak usia tujuh tahun. Gurunya bukan orang lain. Yakni, kakak kandungnya sendiri.

‘’Kakak dalang wayang. Kakak yang pertama kali mengajari nembang,’’ terang siswi kelas empat MI Islamiyah Batokan tersebut.

Menurut sinden cilik akrab disapa Galuh itu, belajar nembang tidak begitu sulit. Asal rajin saja, pasti bisa. Yang agak sulit, menjadi sindennya. Tampil nembang di depan orang banyak, ada groginya.

‘’Di awal-awal dulu, saya sering nderedeg (grogi, red) kalau sedang nyinden di atas panggung,’’ imbuhnya malu-malu.

Kini, Galuh mengemukakan, dia sudah jarang grogi saat menjadi sinden di atas panggung. Dia mengira, itu karena sudah terbiasa. Dampak dari sekian pengalaman.

‘’Paling sering, saya nyinden di Bojonegoro. Dalam acara desa dan lainnya. Nyinden di luar kota juga pernah. Di Tuban, Blora, Ngawi,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Mutasi Pejabat Pemkab Bojonegoro Segera Bergulir, Dihelat di Kayangan Api

Di masa mendatang, Galuh ingin terus melantunkan tembang, menjadi sinden. Menurut dia, nembang asyik sekali. Bisa menyalurkan hobi sekaligus menentramkan hati.

‘’Saat dewasa, saya ingin menjadi sinden terkenal seperti Ibu Sukesi Rahayu dari Surakarta. Beliau idola saya,’’ lanjutnya.

Namun, Galuh tidak ingin menjadikan sinden sebagai profesi. Cukup sampingan saja. Cita-citanya ialah menjadi dosen seni karawitan atau seni tari. Sebab itu, kelak dia ingin berkuliah di bidang ilmu seni.

‘’Di Unnes (Universitas Negeri Semarang, red), jurusan seni musik atau seni tari. Tidak di ISI (Institut Seni Indonesia, red). Kakak sudah di situ,’’ jelasnya.

Sulistyorini, ibu Galuh, senang anaknya pintar nembang dan menjadi sinden. Dia bangga dan bersyukur. Dia pun merefleksi, memang ada darah seni di dalam tubuh Galuh.

‘’Kakeknya seniman. Pemain karawitan,’’ tuturnya kepada Bojonegoro Raya saat mendampingi anaknya, Sabtu (17/1/2026) malam.

Sulistyorini mengenang, ketika masih dalam perutnya, Galuh sudah kenal tembang. Sebab, selalu diajak ke sana-sini menonton pertunjukan wayang yang didalangi kakaknya.

‘’Kakaknya dalang, selalu saya dampingi saat tampil. Termasuk ketika saya mengandung Galuh ini,’’ ungkapnya.

Ibu tiga anak itu meneruskan, dia akan terus mendukung Galuh dalam menjadi sinden. Sedia mendampingi tampilnya. Dia ingin selalu melihat anaknya menjadi kembang panggung.

‘’Sekolahnya Galuh pun tidak terganggu. Nilai pelajarannya bagus. Alhamdulillah,’’ imbuhnya.

Lebih lanjut, Sulistyorini mengemukakan, Galuh juga mendalami seni tari seiring belajar nembang. Galuh mendalami seni olah tubuh itu di Sanggar Tari Bledheg Branjangan, Cepu, Blora.

‘’Menarinya di sanggar itu. Kalau nyinden, sanggarnya tidak menentu. Ganti-ganti. Sesuai panggilan,’’ pungkasnya.

Tegar Haryo Seno, kakak Galuh pun mengaku senang dan bangga adik bungsunya pintar nembang, menjadi sinden cilik Bojonegoro. Menurutnya, adiknya itu aset keluarga.

Baca Juga :  Kayangan Api Ada Atraksi Reog, Galeri Bengawan Disuguhi Barongsai, Growgoland Ada Campursari

‘’Galuh penerus trah seni keluarga kami,’’ ujarnya kepada Bojonegoro Raya saat mendampingi adiknya, Sabtu (17/1/2026) malam.

Mahasiswa semester empat jurusan karawitan di ISI Surakarta itu menyebut, di sela kuliahnya, dia ingin selalu mendampingi Galuh belajar seni. Berharap adiknya bisa menjadi seniwati ternama.

‘’Seperti Ibu Sukesi Rahayu, idolanya itu,’’ pungkas mahasiswa ISI yang juga dalang tersebut. (sab/kza)

error: Content is protected !!