Kunjungan Tim Revalidasi Geopark Bojonegoro (8)

Terkagum di Kedung Lantung, Geosite Langka di Indonesia

KAGUM: Meliawati Ang, salah satu anggota Tim Revalidasi Geopark Bojonegoro saat di Kedung Lantung, Kamis (12/6/2025) pagi. (Foto: Yusab Alfa Ziqin/Bojonegoro Raya)

BOJONEGORORAYA — Sejak bertolak dari Pusat Informasi Geologi (PIG) Bojonegoro, Tim Revalidasi Geopark Bojonegoro butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai di Kedung Lantung, Kamis (12/6/2025) pagi.

Di geosite sungai terletak di tepi hutan Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, Bojonegoro dan berjarak sekitar 40 kilometer dari perkotaan Bojonegoro itu, tim revalidasi menengok banyak hal.

Mereka juga melihat langsung keajaiban Kedung Lantung: rembesan minyak bumi dari sela batu bantaran. Para expert itu bahkan mengambil sedikit minyak bumi masih mentah tersebut.

Meliawati Ang, salah satu anggota tim revalidasi mengatakan, Kedung Lantung sangat unik. Geosite yang ganjil. Sulit ditemui. Langka. Kiranya, hanya satu itu di Indonesia.

“Saya baru sekali menemui fenomena geologi minyak bumi merembes dari bebatuan tebing sungai. Baru di Kedung Lantung ini,” ujarnya.
Meliawati Ang meneruskan, berbagai pihak perlu mengatensi dan menindaklanjuti keajaiban Kedung Lantung itu. Menurut dia, amat sayang jika keajaiban dimaksud tidak digarap maksimal.

“Kedung Lantung sudah terdaftar sebagai CAG (Cagar Alam Geologi, red). Itu modal awal yang berharga untuk pengembangan selanjutnya,” imbuhnya.

Seperti apa model pengembangan yang pas untuk Kedung Lantung, Meliawati Ang mencontohkan beberapa. Salah satunya, melalui orkestrasi pariwisata. Namun, bukan pariwisata umum.

“Melainkan, pariwisata khusus atau tersegmentasi. Istilahnya geowisata. Konsen pada rekreasi–edukasi geologi. Bukan pariwisata biasa,” jelasnya.

Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Nusa Tengga Barat (NTB) itu optimistis, Kedung Lantung akan jadi geowisata yang istimewa jika digarap optimal. Mudah mendapat pengakuan internasional.

Siap Dukung Geowisata Kedung Lantung

Gagasan mencipta geowisata Kedung Lantung disambut baik Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro. Siap mendukung agenda pembangunan pariwisata segmented dimaksud.

Baca Juga :  Ledre Perlu Kemasan Lebih 'Manis' dan Berbahasa Inggris

Hal itu diutarakan Kepala Disbudpar Bojonegoro Welly Fitrama. Menurut dia, gagasan geowisata Kedung Lantung itu bagus dan memiliki daya tarik khusus. Tidak dimiliki daerah lain.
Untuk menyongsong gagasan dimaksud, kata Welly, pihaknya baru-baru ini sukses mendorong adanya Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di Desa Drenges untuk mengeksiskan Kedung Lantung.

“Nantinya, pokdarwis itu yang akan mengelola Kedung Lantung. Kami mendukungnya dengan berbagai cara yang memugkinkan,” jelasnya.

Kendati demikian, Welly menyadari, pokdarwis dan pihaknya mungkin kurang cukup untuk menambah gaung Kedung Lantung. Butuh peran pihak-pihak lain. Mulai akademisi hingga aneka organisasi.

“Optimalisasi geowisata Kedung Lantung butuh sinergi dan kolaborasi. Kami terbuka. Sudah siap untuk itu,” pungkasnya. (sab/kza)

error: Content is protected !!