Usai Sekolah Ayo Kuliah: Beasiswa Melimpah, Bayarnya Mudah

Oleh: Yogi Prana Izza
Wakil Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro

——————

KULIAH, kerja, atau berwirausaha. Opsi itu sudah tentu menjadi bayang-bayang sekitar 16.000 lebih lulusan SMA, SMK, dan MA di Bojonegoro yang diumumkan lulus pada 6 Mei 2025 lalu.

Dag-dig-dug, siap-siap menentukan pilihan. Wajah-wajah alumni SMA sederajat di Bojonegoro mesti siap menatap masa depan. Memutuskan berkuliah, kerja, atau berwirausaha.

Adapun, sebanyak 16.000 lebih lulusan itu terdiri dari 5.841 lulusan SMA negeri/swasta, 7.373 lulusan SMK negeri/swasta, serta 3.000 lebih lulusan madrasah aliyah (MA) negeri/swasta.

Masa depan masih panjang. Arah tujuan harus disiapkan. Dipikir matang. Lebih baik konsultasi dengan orang tua dan guru. Lulusan SMA sederajat merupakan Generasi Z, dihimpit teknologi.

Kuliah bisa menjadi pilihan tepat. Kuliah mengejar strata satu (S-1) bisa ditempuh dengan tempo pendidikan empat tahun. Berarti ketika lulus kuliah, usia masih 22–23 tahun.

Fresh graduate, itu usia tepat mengejar mimpi usai lulus kuliah: bekerja meniti karir dengan keilmuannya. Atau semakin matang berwirausaha dengan keilmuan yang didapat di perkuliahan.

Kuliah Jadi Bekal Masa Depan

Kuliah penting untuk membekali Generasi Z dalam berkarir. Tanpa kuliah, bisa jadi berat. Dengan berkuliah, Generasi Z Bojonegoro akan berilmu. Ketika memiliki ilmu, mudah menentukan pilihan.

Berdasarkan kalam Al-Qur’an surat Al-Mujadilah ayat 11, Allah akan mengangkat derajat orang yang berilmu ke derajat yang luhur. Keren, kan. Maka dari itu, yuk, kuliah biar berilmu.

Nelson Mandela, tokoh dunia terkemuka menyatakan: “Pendidikan merupakan sebuah senjata paling mematikan di dunia. Karena, dengan pendidikan, anda dapat mudah mengubah dunia.”

Bojonegoro memiliki 15 kampus lokal. Semuanya swasta, memiliki segmentasi berbeda. Mulai kampus pendidikan, sains, teknologi, teknik, hingga kesehatan. Punya kelebihan masing-masing.

Baca Juga :  Sastra dan Pramoedya Ananta Toer Bisa Masuk Kurikulum Sekolah-Kampus Bojonegoro

Lantas, berapa biaya kuliah? Ini pertanyaan klasik dan selalu muncul di masa pendaftaran mahasiswa baru. Kami memahami, itu pertanyaan yang membayangi.

Sekali lagi, itu pertanyaan klasik yang selalu muncul setiap tahun. Padahal, selama sudah mendaftar, mahasiswa tidak mampu tetap bisa merampungkan studi S-1 sampai lulus. Ada saja solusinya.

Banyak beasiswa telah disediakan. Tinggal kemauan mahasiswa mengejar beasiswa tersebut. Karena, selama di kampus, mahasiswa akan menemukan koneksi. Menjelajah sana-sini beragam beasiswa.

Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro misalnya, menyediakan aneka beasiswa. Termasuk beasiswa dari Pemkab Bojonegoro. Bisa menjadi ghirah untuk berkuliah.

Perihal membayar UKT, Unugiri memberi kompensasi dengan bisa mencicil. Mengangsur. Tidak sak klek atau saat itu juga harus membayar. Skema ini kan tentu memudahkan.

Kampus sudah menyadari, mahasiswa di Bojonegoro rerata dari keluarga petani. Agraris. Ketika hendak membayar, kadang menunggu usai panen. Bisa tiga bulan atau empat bulan.

Unugiri memberi ruang untuk membayar. Tidak memaksa. Ada kanal komunikasi pihak kampus dengan mahasiswa. Hasrat berkuliah itu sudah keberanian dan kemuliaan. Patut dapat dukungan.

Kampus Harus Berbenah, Akreditasi hingga SDM

Generasi muda Bojonegoro harus berkuliah. Tren kuliah terus meningkat. Terlebih Bojonegoro memiliki 15 kampus lokal. Dibanding kabupaten sekitar, jumlah kampus di Bojonegoro ini terbanyak.

Eksistensi 15 kampus ini menunjukkan bahwa Bojonegoro bisa menjadi ikhwal sebagai kabupaten pendidikan. Sebanyak 15 kampus ini, memiliki karakter dan kelebihan masing-masing.

Terlebih, tidak hanya dihuni mahasiswa asal Bojonegoro saja. Saat ini, 15 kampus di Bojonegoro juga terus dihuni mahasiswa dari luar Bojonegoro. Misalnya, Tuban, Blora, Lamongan.

Unugiri dengan aneka jurusan atau program studi yang baru, adalah salah satu buktinya. Banyak mahasiswa luar Bojonegoro berkuliah di Unugiri. Bahkan, dari luar provinsi juga ada.

Baca Juga :  Wajib Wisata ASN, Gagasan Urip-Urip Pariwisata Bojonegoro

Menyadari keinginan berkuliah semakin bertambah, tentu kampus juga mesti ikut berbenah. Kampus-kampus harus bisa mementingkan akreditasi agar setara dengan kampus negeri.

Akreditasi adalah kunci. Tanpa berbenah untuk kepentingan akreditasi, kampus-kampus di Bojonegoro akan tertinggal. Tidak diminati calon-calon mahasiswa Bojonegoro.

Generasi muda Bojonegoro, usai sekolah, ayo berkuliah. (*/kza)

error: Content is protected !!