Harga Tembakau Bojonegoro Anjlok, Terperosok Rantai Pasok

DITERIK MATAHARI: Teguh saat menjemur tembakau hasil panennya. Manfaatkan tepi jalan. (Foto: M. Lukman Hakim/Bojonegoro Raya)

BOJONEGORORAYA — Teguh menjemur tembakau di tepi jalan. Caping di kepalanya menangkis terik matahari. Namun, tidak bisa mengadang harga tembakau yang tergelincir saat ini. Jatuh.

‘’Sekarang harganya Rp 32 ribu per kilogram. Biasanya bisa Rp 40-45 ribu,” ungkapnya saat ditemui Bojonegoro Raya, Rabu (23/9/2026).

Petani tembakau di Desa Bulu, Kecamatan Suguhwaras ini mengatakan, belum ada perusahaan pengolah tembakau bertransaksi langsung dengannya maupun sejawatnya.

Selama ini, Teguh dan petani tembakau lain di Desa Bulu selalu menjual hasil panen mereka ke para pengepul. Tidak langsung ke gudang, pabrik, atau perusahaan.

‘’Setor piyambak (sendiri, red) ke pengepul,”  imbuh Teguh.

Renggang relasi antara petani tembakau dan perusahaan, tidak saja dialami Teguh dan sejawatnya di Desa Bulu. Di daerah lain di Bojonegoro, sama halnya.

Kerenggangan tersebut menciptakan rentang harga tembakau di tingkat pengepul. Juga membuka kerawanan: kualitas tembakau hasil panen petani, tidak asli lagi ketika masuk perusahaan.

Hal ini diutarakan Kastari. Dia petani tembakau, salah satu ketua gapoktan di Kecamatan Baureno. Kastari mengklaim, tidak ada petani tembakau curang. Khususnya, di Kecamatan Baureno.

Persisnya, tidak ada petani di Kecamatan Baureno mengoplos tembakau bagus dengan remukan. Jika terjadi demikian masuk ke perusahaan, pengawasan perlu diperketat di tingkat pengepul.

‘’Saya khawatir, yang bermain malah di tengkulak (pengepul, red). Tembakau di-remeki, ditaruh tengah,” jelasnya.

Kastari berharap, harga tembakau tidak lagi dipermainkan. Menurut dia, harga tembakau pada September 2026 ini semestinya masih bagus. Bukan sebaliknya. Anjlok. Murah.

Senada, Pengurus Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Bojonegoro Jito meminta Pemkab Bojonegoro campur tangan memantau harga tembakau di lapangan.

‘’Dinas terkait (DKPP Bojonegoro, red) harus ikut campur mengatur suplly chain (rantai pasok, red) tembakau,” pintanya.

Baca Juga :  Pariwisata Bojonegoro 2025 Mengekor Agenda Geopark, Swastanisasi Wisata Temui Kendala

Pemkab Bojonegoro, kata Jito, seyogianya mampu bersinergi dengan perusahaan. Serap tembakau dari petani langsung, tanpa perantara pengepul. Sehingga, rantai pasok bisa lebih pendek.

‘’Saya kira (Pemkab Bojonegoro, red) mampu. Bisa bersinergi dengan perusahaan soal suplly chain tembakau ini,” ungkapnya.

Jito juga berharap, Pemkab Bojonegoro menyediakan Pendamping Pertanian Lapangan (PPL) di bidang perkebunan. Sebab PPL yang ada saat ini hanya menguasai bidang petanian padi.

Kepala DKPP atau Dinas Ketahan Pangan dan Pertanian Bojonegoro Zainal Fanani membenarkan bahwa harga tembakau di Bojonegoro sedang turun pada September 2026 ini.

‘’Memang terjadi penurunan harga tembakau di tingkat petani. Bukan di tingkat gudang (pabrik atau perusahaan, red),” ujarnya.

Merespons itu, DKPP Bojonegoro telah mengumpulkan berbagai stakeholder untuk mengurai permasalahan. Salah satu usulan yang bakal dilakukan ialah membentuk skema kemitraan.

Dengan skema tersebut, lanjut Zaenal sapaannya, perusahaan dan petani akan lebih tersinergi. Transaksinya bisa langsung. Sonder perantara. Tembakau petani tidak diragukan kualitasnya.

‘’Yang menjadi masalah (hargnya anjlok, red) ini tembakau virginia. Kalau tembakau Jawa, tidak begitu masalah,” imbuhnya.

Memperbaiki Rantai Pasok, Jajaki Kemitraan dengan Gudang Garam

Skema kemitraan yang akan dirancang DKPP Bojonegoro, membentang dari hulu hingga hilir. Tersistem. Sehingga, rantai pasok tembakau bisa lebih transparan. PPL bakal dikerahkan.

Zaenal Fanani menyebut, PPL akan menjadi pendamping sekaligus pengawas. DKPP Bojonegoro juga akan melibatkan Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro (DisdagkopUM)Bojonegoro.

‘’Kami akan memperbaiki beberapa hal (masalah, red) di petani, tengkulak, dan gudang (pabrik atau perusahaan, red). Diklirkan semuanya,” komitmennya.

Sementara ini, DKPP Bojonegoro berencana menggandeng Gudang Garam. Perusahaan rokok berskala besar ini akan diminta lebih aktif menyerap tembakau Bojonegoro.

Baca Juga :  Jimpitan Telur Gayatri Menetas Gizi, ASN Kecamatan Margomulyo Ramai Membeli

‘’Kami akan mulai dengan Gudang Garam dahulu. Penyerapannya tahun ini sudah cukup besar. Sekitar 3.000 ton,” katanya.

Perwakilan Gudang Garam Rizal Takhris membenarkan hal itu. Namun, dia mengakui, penyerapan tembakau Bojonegoro tahun ini memang tidak melalui skema kemitraan dengan petani.

Melainkan, lanjut Rizal Takhris, penyerapan dilakukan melalui suplier atau pengepul tembakau di Bojonegoro yang telah menjalin kerja sama dengan Gudang Garam.

Ditanya terkait rencana DKPP Bojonegoro menggandeng Gudang Garam sebagai mitra untuk menyerap tembakau Bojonegoro, Rizal Takhris belum berani memutuskan.

Sebab, manajemen Gudang Garam belum pernah bermitra langsung dengan pemerintah daerah. Jamaknya melalui suplier di daerah. ‘’Kami akan lihat terlebih dahulu tahun depan,” katanya.

Dan lagi, menurut dia, tembakau beredar dalam pasar bebas. Perusahaan mana pun bisa membeli tembakau dari mana pun atau siapa pun. Tidak harus melalui skema kemitraan.

Adapun, Rizal Takhris mengungkap, selama ini Gudang Garam hanya menyerap tembakau Bojonegoro jenis virginia. Tahun ini, sekitar 3.000 ton. Ditutup per 15 September 2026.(man/sab)