Kisah Pendidikan dari Dusun Jipangulu (2)

Bersapa Arus, Mengapung tanpa Pelampung

BERTARUH KESELAMATAN: Anak Dusun Jipangulu saat berangkat sekolah, Rabu (22/4/2026) pagi. Menyeberangi Bengawan, tanpa pelampung. (Foto: Lukman Hakim/Bojonegoro Raya)

SUTRISNO menyalakan mesin diesel perahu. Dari seberang, para siswa sudah menunggu. Sutrisno memudikkan perahu. Menjemput para siswa itu. Menyisir arus Bengawan, bolak-balik dari Desa Mendenrejo ke Desa Ngelo.

Sekali waktu, yang dijemputnya hanya satu siswa. Sutrisno tidak mengapa, tetap menjemputnya. Membawa satu siswa itu berangkat sekolah. Jangan sampai satu siswa itu terlambat datang mengikuti jam pembelajaran.

‘’Mau tidak mau, ya tetap saya jemput, meski tekor di solar (bahan bakar mesin perahu, red),” ujarnya saat diwawancara Bojonegoro Raya, Rabu (22/4/2026) pagi.

Menurut dia, ada puluhan anak Desa Ngelo bersekolah di Desa Mendenrejo atau Kecamatan Kradenan, terutama anak Dusun Jipangulu. Mereka jenjang SD, SMP, SMA. Setiap pagi, kumpul di tambangan Dusun Jipangulu.

‘’Terkadang, ada beberapa orang tua mereka ikut menyeberang. Anaknya bersekolah, orang tuanya berjualan di Pasar Menden,’’ imbuhnya.

Pria paruhbaya itu memastikan, kondisi perahunya masih bagus. Layak. Masih aman digunakan untuk menyeberang Bengawan, hilir-mudik dari Desa Ngelo ke Desa Mendenrejo.

Dulu, kenang Sutrisno, dia pernah mendapat bantuan pelampung dari Dinas Perhubungan (Dishub) Bojonegoro. Namun, kini sudah tidak bisa digunakan. Sudah aus. Rusak. Sering terpapar panas matahari.

‘’Saya berharap, mendapat bantuan (pelampung, red) itu lagi,’’ imbuh pengemudi perahu asal Dusun Jipangulu tersebut.

Lebih lanjut, Sutrisno mengemukakan, di tambangan Dusun Jipangulu, ada dua perahu. Satu miliknya, satu lagi punya sejawatnya. Kedua perahu itu beroperasi beda hari. Tidak mengangkut motor, khusus orang saja. Tarifnya Rp 5.000, sekali pulang-pergi.

‘’Untuk beli solar dan perawatan perahu. Tidak ada insentif dari pemerintah desa,’’ ungkap pengemudi perahu di tambangan Dusun Jipangulu sejak 1990-an itu.

Harapan Sutrisno perihal bantuan pelampung, kiranya perlu atensi Pemkab Bojonegoro. Banyak siswa menggunakan perahu Sutrisno itu. Amit-amit jika terjadi celaka, mereka bisa terminimalisir dari petaka.

Baca Juga :  Ke Wisata Edukasi Gerabah, Bicara Soal Warna Produk

Dalam sejarahnya, pernah ada laka perahu di tambangan Jipangulu. Itu beberapa dekade dulu. Sofia Deliana warga Dusun Jipangulu mengatakan, keluarganya menjadi korban.

‘’Saya lupa tahun berapa. Tapi pernah terjadi laka perahu di (tambangan Dusun Jipangulu, red) situ. Perahu terbalik. Kakak saya korbannya. Meninggal dunia,’’ ungkapnya.

Dia berharap, kejadian laka perahu tidak terulang lagi. Dia pun turut berharap, Pemkab Bojonegoro memberi perhatian. Menyumbangkan pelampung untuk anak-anak Dusun Jipangulu. (man/sab/kza)

— Artikel ini bagian dari Majalah Pintar yang diterbitkan Bojonegoro Raya, Sabtu (2/5/2026) lalu. Menepati Hari Pendidikan. Beredar digital, dalam format pdf dan flipbook.

error: Content is protected !!