SMPN 2 Gondang berdiam di pedalaman. Dekat Gunung Pandan. Menahan sekian kebutuhan. Menyatu dengan alam.
——————
DARI kejauhan, Gunung Pandan berdiri gagah. Sekujur tubuhnya hijau diselimuti hutan dan lanskap perkebunan. Indah dipandang, enak di mata. Setiap waktu, angin berdesir turun dari gunung itu.
Sekitar 4 kilometer (km) di utara Gunung Pandan, ada lembah dimukimi masyarakat. Rumah-rumah dibangun berderet dan mengelompok. Jalannya beraspal, sebagian lagi berpaving.
Lembah itu ialah Dusun Tadahan. Bagian dari Desa Krondonan, Kecamatan Gondang, Bojonegoro. Masyarakatnya mayoritas petani hutan atau pesanggem jagung dan bawang merah.
Di ujung barat dusun tersebut, berdiam SMPN 2 Gondang. Gedungnya berdiri di lereng bukit kecil—batas geografis lembah Dusun Tadahan sisi barat. Namanya Bukit Tampakan.
Hanya sedikit rumah di dekat SMPN 2 Gondang. Tersebar di sisi utara dan timur. Di selatan dan barat, ada terasering sawah, kebun jagung dan bawah merah. Serta, sungai dangkal bertabur batu.
Nun jauh di selatan lagi, tampak gugusan perbukitan Gunung Pandan. SMPN 2 Gondang kiranya layak menjadi SMP dengan panorama terindah. Lain dengan SMP-SMP di perkotaan.
Rabu (22/4/2026) pagi, SMPN 2 Gondang diselimuti sepi. Siswa-siswinya hikmat di dalam kelas. Mereka menatap gawai, mengerjakan soal-soal asesmen tengah semester (ATS).
Wakil Kepala (Waka) Kesiswaan SMPN 2 Gondang Joko Wicaksono mengemukakan, ATS atau ujian tengah semester (UTS) secara online itu diikuti seluruh siswa-siswinya.
‘’Total, ada 131 siswa-siswi di sini. Kelas 7, 8, 9,’’ ujarnya saat ditemui Bojonegoro Raya di sekolahnya, Rabu (22/4/2026) pagi.
Sebanyak 131 siswa-siswi tersebut tersebar di enam kelas. Kelas 7, 8, dan 9, masing-masing dua kelas. Mereka anak-anak dari empat desa di sekitar SMPN 2 Gondang.
Meliputi Desa Krondonan dan Pragelan, Kecamatan Gondang. Serta, Desa Deling dan Klino, Kecamatan Sekar. Paling banyak, siswa-siswi SMPN 2 Gondang berasal dari Desa Krondonan.
‘’Mereka semua anak baik. Mayoritas dari keluarga petani atau pesanggem,’’ imbuh Joko Wicaksono.
Dengan latar belakang keluarga atau lingkungan demikian, Joko Wicaksono mengatakan, siswa-siswi SMPN 2 Gondang amat akrab dengan alam. Dekat dengan hutan, pertanian, perkebunan.
‘’Maka itu, sekolah ini mengusung tema sekolah alam. Pembelajarannya tidak jauh dari alam,’’ imbuhnya.
Guru Bahasa Indonesia SMPN 2 Gondang Prawoto menyampaikan hal senada. Dia menambahkan, sekolah alam bukan sekadar tema atau label sekolahnya. Tapi, sudah melesap dalam kurikulum.
‘’Ada implementasinya,’’ ujarnya saat ditemui Bojonegoro Raya di perkotaan Bojonegoro, Kamis (23/4/2026) malam.
Beragam pengetahuan, rangsangan, hingga tindakan untuk melestarikan alam serta menjaga lingkungan sekitar, diselipkan dalam setiap pembelajaran di SMPN 2 Gondang.
‘’Istilahnya kokurikuler,’’ jelas mantan Waka Kurikulum SMPN 2 Gondang itu.
Saban materi atau soal-soal disuguhkan ke siswa-siswi SMPN 2 Gondang acap dimodifikasi. Agar, mengandung semangat mencintai alam serta lingkungan sekitar.
‘’Tempat, budaya, atau hal lain di sekitar, kami nukil sebagai objek atau subjek dalam materi dan soal-soal,’’ imbuhnya.
Dengan begitu, pembelajaran di SMPN 2 Gondang berlangsung lebih kontekstual. Memiliki relevansi dengan alam, lingkungan, dan kehidupan sehari-hari para siswa-siswi.
‘’Itu akan membuat mereka selalu ingat alam dan lingkungan. Punya ghirah untuk menjaganya,’’ tutur Prawoto.
Guru SMPN 2 Gondang asal Desa Kuniran, Kecamatan Purwosari, Bojonegoro itu meneruskan, siswa-siswinya juga aktif mengikuti kegiatan pelestarian alam dan lingkungan secara riil.
‘’Di antaranya, menanam dan merawat pohon. Di dalam lingkungan sekolah, maupun di luar sekolah,’’ tutur alumnus IKIP PGRI Bojonegoro tersebut.
Secara sosial, guru SMPN 2 Gondang sejak 2011 itu menambahkan, siswa-siswinya juga lekat dengan masyarakat setempat. Setiap ada Nyadran atau Sedekah Bumi, selalu ikut.
‘’Sekolah kami juga tidak ada kantin. Siswa-siswi kami jajannya di rumah warga. Di sekitar sekolah,’’ ungkapnya.
Perihal program makan bergizi gratis (MBG), lanjut Prawoto, SMPN 2 Gondang belum dijatah. Siswa-siswi di sekolahnya belum pernah menyantap menu MBG. Sama sekali.
‘’Setiap hari, mobil pengantar menu MBG hanya lewat depan sekolah. Tidak masuk ke sekolah kami,’’ terangnya. (sab/kza)
— Artikel ini bagian dari Majalah Pintar yang diterbitkan Bojonegoro Raya, Sabtu (2/5/2026) lalu. Menepati Hari Pendidikan. Beredar digital, dalam format pdf dan flipbook.

