Aksi Veteran Memanggil Berakhir Ricuh, Enam Pendemo Diamankan Polres Bojonegoro

RICUH: Massa aksi Veteran Memanggil saat bersitegang dengan para polisi, Kamis (27/3/2025) sore. (Foto: Rizki Nur Diansyah untuk Bojonegoro Raya)

BOJONEGORORAYA – Aksi demonstrasi bertajuk Veteran Memanggil di depan Gedung DPRD Bojonegoro, Kamis (27/3/2025) sore, berakhir chaos atau ricuh.

Jalan Veteran, Bojonegoro, gaduh. Ada pekik, lolong, dan teriakan umpatan serta makian. Semprotan water canon polisi menyumbar. Sakit.

Asal pangkalnya, massa aksi Veteran Memanggil berkehendak masuk Gedung DPRD Bojonegoro. Namun, dihadang oleh barikade hidup Polres Bojonegoro.

Persinggungan antara massa aksi penolak UU TNI dan barikade hidup polisi inilah yang menimbulkan ricuh. Suasana tidak kondusif sama sekali.

Dalam suasana tersebut, massa aksi melempar pelbagai benda ke barikade hidup polisi. Dibalas polisi dengan semburan water canon.

Massa aksi berhamburan akibat water canon dari truk Brimob Bojonegoro itu. Mereka lari ke utara. Polisi mengejar. Sirine meraung. Water canon tetap disemburkan.

Dalam pengejaran, polisi meringkus beberapa orang pendemo. Sejumlah polisi hilang kendali, melayangkan pukulan dan tendangan kepada pendemo.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Rizki Nur Diansyah (@rizki.nd_)

Koordinator Lapangan aksi Veteran Memanggil Fajar Wicaksono mengatakan, pihaknya menyesalkan represifitas polisi kepada massa aksi.

Fajar mengemukakan, sejumlah massa aksi mengalami luka-luka cukup serius akibat represifitas dilakukan oleh Korps Bhayangkara tersebut.

Selain itu, Fajar menyebut, ada enam orang dari massa aksi yang ditangkap dan diamankan. Dibawa ke Mapolres Bojonegoro.

“Namun, setelah kami ke Mapolres Bojonegoro dan bernegosiasi alot, enam teman kami dilepaskan,” ungkapnya, Kamis (27/3/2025) malam.

Kapolres Bojonegoro Sebut Tidak Ada Pendemo yang Ditangkap dan Diamankan

Sementara itu, Kapolres Bojonegoro AKBP Mario Prahatinto menyatakan, tidak ada massa aksi Veteran Memanggil yang ditangkap dan diamankan.

“Tidak ada (massa aksi yang ditangkap dan diamankan, red),” ujar AKBP Mario, Kamis (27/3/2025) malam.

Baca Juga :  Pariwisata Bojonegoro 2025 Mengekor Agenda Geopark, Swastanisasi Wisata Temui Kendala

Perihal represifitas pihaknya kepada massa aksi, AKBP Mario menyebut, hal itu dilakukan karena terpaksa dan sudah sesuai prosedur.

“Saya melihat, (massa aksi, red) tidak hanya mahasiswa. Jadi terpaksa dipukul mundur,” jelasnya. (sab/kza)

error: Content is protected !!