Pariwisata Bojonegoro 2025 Mengekor Agenda Geopark, Swastanisasi Wisata Temui Kendala

Teksas Wonocolo - Bojonegoro Raya
HERITAGE: Salah satu sumur minyak tua di Teksas Wonocolo. Dikunjungi Hanif, Adriyanto, dan Pertamina EP Cepu, Selasa (21/1/2025).(Foto: Pemkab Bojonegoro)

Pengembangan pariwisata di Bojonegoro tahun ini lebih tersegmentasi. Tugas disbudpar akan lebih banyak bergerak menyesuaikan agenda geopark. Lain itu, sambil lalu.

BOJONEGORORAYA – Aroma cat masih terasa kala memasuki gedung anyar di Jalan Panglima Sudirman, Bojonegoro. Gedung masih gris di timur SMAN 1 Bojonegoro itu cukup megah. Halamannya luas. Berarsitektur modern. Dominan warna krem dan cokelat.

Dibangun 2024 lalu dengan dana sekitar Rp 4,2 miliar, awal 2025 ini gedung itu belum berisi apalagi berfungsi. Masih nganggur. Tertulis jelas identitas bangunan: Pusat Informasi Geologi Geopark. Kerap kali pengendara melintas menatap seksama bangunan anyar tersebut.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro Budiyanto mengatakan, gedung Pusat Informasi Geologi Geopark itu akan berisi dan berfungsi tahun ini. Pihaknya belum mengetahui organisasi perangkat daerah (OPD) yang akan mengelola.

‘’Mungkin kami (Disbudpar Bojonegoro, red). Mungkin Bappeda Bojonegoro,’’ ujarnya diwawancara Bojonegoro Raya, Rabu (22/1/2025) siang.

Agenda geopark ditopang banyak OPD. Namun, mayornya Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bojonegoro. Disbudpar Bojonegoro menunjang keperluan sektor pariwisata. Kini, gedung itu masih milik Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Cipta Karya (DPKPCK) Bojonegoro.

‘’Gedung itu nanti serupa galeri. Ada display benda geologi hingga studio mini. Menayangkan video geologi. Pokoknya, basisnya edukasi geologi,’’ lanjutnya.

Gedung Geopark - Bojonegoro Raya
SEPI: Gedung Pusat Informasi Geologi Geopark Bojonegoro belum berisi dan berfungsi. (Foto: Yusab Alfa Ziqin/Bojonegoro Raya)

Pejabat asal Desa Banjarsari, Kecamatan Trucuk, Bojonegoro, ini meneruskan, pengisian dan pemfungsian Gedung Pusat Informasi Geologi Geopark di lahan eks Dinas Sosial (Dinsos) Bojonegoro itu akan melibatkan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM).

‘’Tepatnya Badan Geologi Kementerian ESDM. Nanti, badan itulah yang membantu. Kapan mulainya, kami belum tahu. Yang jelas, tahun ini,’’ ujarnya.

Kepala Bappeda Bojonegoro Anwar Muktadlo urung berkomentar perihal Gedung Pusat Informasi Geologi Geopark ini. Hanya, Tadlo pernah menjelaskan, Geopark Bojonegoro dipilih menjadi agenda penting hingga kini. Jika sebelumnya bertaraf nasional, hendak dinaikkan ke level internasional.

Baca Juga :  Disambut Hangat Persaudaraan dan Liris Gamelan di Kampung Samin

‘’Sehingga, Geopark Bojonegoro mendapat pengakuan Unesco,’’ terangnya medio 2024 lalu.

Tadlo pernah mengemukakan, ada beberapa situs geologi jadi bagian Geopark Bojonegoro diupayakan berlevel internasional. Di antaranya Teksas Wonocolo di Desa Wonocolo, Kahyangan Api di Desa Sendangrejo, dan Banyu Kuning di Desa Krondonan.


Situs-situs geologi itu, menurut Tadlo, akan diintegrasikan dengan potensi lain di sekitarnya. Mulai wisata, produk, hingga kebudayaan atau kesenian khas. Dengan begitu, Geopark Bojonegoro lebih komprehensif dan bermultidampak. Pantas diakui Unesco. Istilahnya Unesco Global Geopark (UGGp).

Pengembangan Pariwisata Ikut Agenda Menuju UGGp

OBJEK wisata Waduk Pacal dan Dander Water Park mungkin hanya begitu melulu pada 2025 ini. Tidak ada pengembangan signifikan. Sebab, Disbudpar Bojonegoro selaku pengelola tidak menuju arah sana. Lebih memilih mengekor atau ikut agenda Geopark Bojonegoro menuju UGGp.

Kepala Disbudpar Bojonegoro Budiyanto tidak menampik itu. Pengembangan pariwisata pada 2025 ini memang akan disesuaikan dengan agenda Geopark Bojonegoro menuju UGGp. Sebab, itu juga opsi ideal. Mengingat, Geopark Bojonegoro tidak lepas dari pariwisata.

‘’Objek wisata tidak termasuk geopark, tetap kami kelola. Dirawat dan sebagainya,’’ terangnya kepada Bojonegoro Raya, Rabu (22/1/2025) siang.

Secara umum, pria sebelumnya menjabat Sekretaris Disbudpar Bojonegoro ini belum mengemukakan proyeksi detail pengembangan pariwisata di Bojonegoro pada 2025. Terutama, seperti apa urun pihaknya terhadap eksistensi objek wisata yang dikelola swadaya oleh warga maupun desa.


Pejabat kelahiran 1967 dengan gelar Magister Manajemen itu menyebut, Disbudpar Bojonegoro masih menyinkronkan programnya dengan program Setyo Wahono-Nurul Azizah selaku bupati-wakil bupati (wabup) anyar. Memimpin Bojonegoro mulai tahun ini hingga 2030 mendatang.

Perihal Sungai Bengawan Solo dan Gunung Pandan yang berpotensi dipariwisatakan, Budiyanto mengaku masih memikirkan. Bengawan Solo dan Gunung Pandan memang cukup patut digarap. Namun, ada beberapa kendala.

Baca Juga :  Setyo Wahono Salat Idulfitri di Masjid Kampung Halaman, Nurul Azizah di Masjid Agung Darussalam

‘’Salah satunya, Bengawan Solo dan Gunung Pandan itu aset pihak lain. Bukan murni milik Pemkab Bojonegoro,’’ jelasnya.

Investasi Sektor Pariwisata Terkendala Pakta Kerja Sama

DISBUDPAR Bojonegoro belum yakin melibatkan investor swasta untuk mengelola pariwisata di Bojonegoro. Kepala Disbudpar Bojonegoro Budiyanto menyebut, deretan objek wisata di Bumi Rajekwesi kurang ideal digarap secara investatif. Terutama objek-objek wisata kelolaan Disbudpar Bojonegoro.

‘’Objek-objek wisata kami kelola, modelnya kerja sama. Tidak dengan swasta. Tapi, sesama lembaga,’’ ujarnya kepada Bojonegoro Raya, Rabu (22/1/2025) siang.


Dua objek wisata kelolaannya yang demikian, yakni Kahyangan Api dan Waduk Pacal. Kahyangan Api dikerjasamakan Disbudpar Bojonegoro dengan Perhutani. Sementara Waduk Pacal dikerjasamakan dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo.

‘’Kurang memungkinkan jika objek-objek wisata yang kami kelola secara kerja sama dengan sesama lembaga, kami swastakan,’’ terangnya.

Pakta-pakta kerja sama itu, bisa disebut kendala untuk menswastakan objek wisata ke investor. Namun, Budiyanto mengakui wacana menswastakan objek wisata ini bisa menjadi opsi. Agar, objek wisata bisa terkelola lebih spontan. Tidak perlu menunggu realisasi belanja APBD untuk memenuhi kebutuhan.

‘’Dander Water Park bisa diswastakan. Itu murni milik Pemkab Bojonegoro. Tapi, akan kami pikir dan kaji dulu untuk menswastakan itu,’’ terangnya.

Di era kepemimpinan Setyo Wahono dan Nurul Aziah mendatang, mantan Kepala Bidang Pengembangan Pemasaran dan Budaya Disbudpar Bojonegoro ini menyebut, penswastaan objek wisata mungkin bisa lebih maksimal. Sebab, Setyo Wahono berlatar belakang pengusaha. Mumpuni perihal investasi.

Geopark Harus Digarap, Potensi Pariwisata Lain Jangan Dikesampingkan

BOJONEGORO tidak punya pantai atau dataran tinggi adem nan eksotis. Namun, memiliki bentang geologi memukau. Agenda mengunggulkan Geopark Bojonegoro adalah ejawantah dari penggarapan bentang geologi memukau tersebut. Jadi, memang relevan. Bagus.

Baca Juga :  Festival Budaya Kalang 2025 di Bangilan Tuban: Pengakuan, Pengenalan, dan Pelestarian
ANDALAN: Salah satu sumur minyak tua di Teksas Wonocolo dikunjungi wisatawan. Situs andalan Geopark Bojonegoro. (Foto: Pemkab Bojonegoro)

Hal itu diutarakan Anggota Komisi B DPRD Bojonegoro Lasuri. Dia menambahkan, Geopark Bojonegoro tentu bisa menjadi identitas kabupaten kaya migas ini. Untuk itu, Geopark Bojonegoro harus digarap serius. Tidak boleh setengah-setengah. Apalagi, hanya mengejar label UGGp.

‘’Ke depan, Geopark Bojonegoro harus menjadi wisata primadona di Bojonegoro,’’ tegasnya dihubungi Bojonegoro Raya, Jumat (24/1/2025) pagi.

Ketua DPD Partai Amanat Nasional (PAN) Bojonegoro ini menegaskan, Pemkab Bojonegoro terutama Disbudpar Bojonegoro perlu memiliki mindset visioner tentang Geopark Bojonegoro. Terutama, bagaimana Geopark Bojonegoro bisa meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

‘’Juga bisa meningkatkan PAD (pendapatan asli daerah, red),’’ tutur politikus asal Kecamatan Baureno tersebut.

Lasuri mengharapkan, Pemkab Bojonegoro bisa meraup banyak pendapatan dari Geopark. Sehingga, taman geologi tersebut dapat mengalirkan pendapatan pengganti migas Bojonegoro. Ketika migas itu habis terkuras di masa depan.

‘’Yang juga penting, jangan mengesampingkan potensi pariwisata lain yang tidak beririsan dengan Geopark Bojonegoro,’’ lanjutnya.

Politikus gaek ini menyebut, potensi parwisata nongeologi tetap harus digarap optimal. Disbudpar Bojonegoro tetap perlu mendorong kelompok warga atau desa untuk mengkreasi potensi pariwisata di daerahnya masing-masing.

‘’Potensi-potensi pariwisata nongeologi itu bisa berjalan beriringan. Melengkapi pariwisata yang masuk Geopark Bojonegoro,’’ pungkasnya. (sab/kza)

error: Content is protected !!