Kampus Baru UNY Lebih Pantas di Blora Kota, Cepu Sudah Maju

Oleh: Yusab Alfa Ziqin
Jurnalis Bojonegoro Raya, Alumnus UNY

——————-

PEMKAB Blora dan Rektorat Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mungkin sedang mumet. Pendirian kampus baru UNY di Blora yang direncanakan sejak setahun belakangan, baru-baru ini dipergunjingkan lebih lantang oleh publik setempat. Ada yang mendukung. Ada yang menolak.

Terbaru, segelintir mahasiswa Blora menggelar demo adem di depan kompleks Rumah Dinas Bupati Blora, Kamis (15/5/2025). Mereka meminta Pemkab Blora tidak memberi jalan bagi Rektorat UNY untuk membangun kampus baru di Blora. Salah satu alasannya, demi kelestarian alam Blora.

Sebelumnya, sekelompok warga Blora telah menyatakan dukungan terhadap pendirian kampus baru UNY di Blora. Dengan syarat, kampus baru UNY tersebut berlokasi di perkotaan Blora atau Blora Kota. Jangan berlokus di Kecamatan Cepu, Blora—batas Blora dengan Bojonegoro.

Syarat diajukan sekelompok warga Blora itu muncul setelah Pemkab Blora mempertimbangkan kampus baru UNY baiknya didirikan di Cepu, tidak di Blora Kota sebagaimana rencana mula-mula. Layaknya rencana awal Pemkab Blora dengan Rektorat UNY.

Mengutip Suara Merdeka, Bupati Blora Arief Rohman menanggapi polemik pendirian kampus baru UNY ini dengan cukup arif. Dia menyatakan, Pemkab Blora menerima aneka masukan publik. Pemkab dan DPRD Blora akan bertemu dengan Rektorat UNY dalam waktu dekat ini.

Bupati Blora sejak 2021 itu juga mengutarakan, saat ini pendirian kampus baru UNY di Blora masih belum konkret 100 persen. Namun, yang jelas, Pemkab Blora menawarkan empat lokasi untuk kampus baru UNY dimaksud. Yakni, di Blora Kota, Kecamatan Cepu, Jepon, dan Kunduran.

Menurut hemat saya, kampus baru UNY lebih pantas dan tepat berdiri di Blora Kota. Sebab, Blora Kota tampak lebih butuh kampus negeri tersebut. Sejauh ini, lihat, tidak ada yang berkaliber di jantung Blora. Pendidikan, kesehatan, dan perekonomiannya biasa saja.

Baca Juga :  Jipang Provinsi Baru: Makmur dari Minyak Bumi, Penyatu Padangan—Cepu

Kalau ada yang menarik di Blora Kota, mungkin hanya satu. Dan, bagi kalangan tertentu pula. Yakni, adanya sisa-sisa kehidupan Pramoedya Ananta Toer di pojok Jalan Sumbawa—sastrawan Indonesia yang mendunia namun tidak disenangi Pemuda Pancasila (PP) Blora.

Dengan adanya kampus baru UNY, Blora Kota akan lebih ‘’berisi’’. Paling tidak dari segi pendidikan. Segi perekonomian mengikuti. Sebab, para mahasiswa UNY di kampus Blora—yang pasti juga berasal dari kabupaten sekitar Blora—tentu butuh kos, makan, dan nongkrong di Blora Kota.

Lebih dari itu, Blora Kota pasti akan jadi bilangan yang lebih sibuk dan ‘’bergerak’’. Aneka pemikiran dan polah para mahasiswa UNY di kampus Blora yang berasal dari luar Blora, akan sangat berpengaruh pada eskalasi ekonomi, sosial, kultural, dan intelektual di Blora Kota.

Perihal mengapa kampus baru UNY jangan dilokuskan di Cepu, saya menilai itu tidak adil. Sejauh ini, Cepu sudah lebih maju ketimbang Blora Kota—bahkan Blora secara keseluruhan. Kemajuan Cepu, sudah berlangsung sejak era penjajahan Belanda karena buminya yang kaya minyak dan gas (migas).

Kalau mau radikal, Cepu mungkin tidak masalah jika berpisah dari Blora—berdiri sendiri sebagai kota administratif yang lebih otonom semacam Kota Batu, sempalan Malang. Namun, keradikalan itu toh tidak perlu dilakukan. Bisa memunculkan keribetan hingga keributan.

Sampai datangnya Hari Akhir, Cepu tidak mengapa terus berada di bawah hirarki birokrasi Pemkab Blora. Namun, Cepu jangan diberi ‘’beban’’ lagi. Geliat industri migas dan agenda pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Cepu Raya kiranya sudah cukup untuk Cepu berikut masyarakatnya.

Terlebih, di Cepu juga sudah ada Politeknik Energi dan Mineral (PEM) Akademi Migas yang diotoritasi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (KemenESDM). Jadi, secara pendidikan, Cepu pun sudah ideal. Kehidupan ekonomi, sosial, kultural, serta intelektual di Cepu sudah cukup eskalatif dan dinamis.

Baca Juga :  dr. Tomy, Milenial Direktur RS Aisyiyah Bojonegoro, Ubah Mindset dan Kebiasaan Lama

Terakhir, soal pendirian kampus baru UNY di Jepon maupun Kunduran, itu kiranya hanya opsi yang dibuat-buat. Tawaran yang kelewat alternatif. Menurut saya, Jepon dan Kunduran bukan lokus yang ideal untuk kampus. Tapi, cocok juga untuk pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN). (*)

error: Content is protected !!