Oleh: Ana R. Septiana
Ahli Geologi, Anggota Tim UNESCO Global Geopark (UGGp) Raja Ampat
——————-
DUNIA berutang pada Bojonegoro. Bumi Rajekwesi–sebutan Bojonegoro–merupakan episentrum riset atau penelitian tentang petroleum bagi dunia internasional.
Di Teksas Wonocolo, tepatnya. Unik sekali. Ladang minyak berusia lebih 100 tahun di Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan, Bojonegoro itu merupakan “ruh” Geopark Bojonegoro.
Lebih unik lagi, tumbuh ragam flora dan fauna di Teksas Wonocolo. Tidak gersang. Memperkaya geosite Geopark Bojonegoro yang berada di Antiklin Kawengan–Ledok, Cepu tersebut.
Kali pertama menjejak Teksas Wonocolo, saya sangat kagum. Di geosite itu, saya bisa melihat mutualisme antara geologi, ekologi, histori, dan ekonomi–secara nyata.
Dengan semua itu, Bojonegoro sudah layak menjadi laboratorium internasional perihal petroleum berikut sistem eksploitasinya yang tradisional dan kolektif.
Terlebih, di Teksas Wonocolo ditemukan proses bioremediasi minyak. Yakni, pemulihan lingkungan yang tercemar minyak secara alami. Aktornya organisme dan mikroorganisme.
Peneliti bioremediasi minyak di Teksas Wonocolo itu adalah dosen program studi lingkungan di Universitas Bojonegoro (Unigoro). Namanya Laily Agustina.
Dalam penelitian, Laily Agustina menemukan salah satu aktor bioremediasi minyak di Teksas Wonocolo itu adalah koloni semut. Mereka menyerap-menguraikan logam berat.
Apa yang tersaji di Teksas Wonocolo, tentulah bisa menjadi referensi bagi skeptisisme publik dan peneliti. Bahwa, tidak semua tambang minyak rentan mencemari lingkungan.
Persisnya, tidak semua tambang minyak merampas hak hidup flora dan fauna di sekitarnya. Teksas Wonocolo adalah tepisan dari tuduhan itu. Jadi, sangat patut jadi referensi.
Nah, kepatutan itulah yang mengilhami saya dalam melantangkan kalimat “Dunia berutang pada Bojonegoro”. Betul-betul. Bojonegoro pantas menjadi laboratorium penelitian.
Sebagai anggota Tim UNESCO Global Geopark (UGGp) Raja Ampat, saya optimistis Geopark Bojonegoro menyusul berkelas internasional dan berlabel UGGp pula.
Sebab, Geopark Bojonegoro sudah memiliki cerita cukup lengkap dan kuat. Kaidah geologi, ekologi, histori, dan ekonomi di Geopark Bojonegoro sudah bertali, saling melengkapi.
Pekerjaan rumah (PR) bagi Tim Geopark Bojonegoro hanya menjadikan masyarakat bangga atas karunia geopark ini. Terutama masyarakat lokal dan kalangan milenial.
Bangga terhadap geosite, biosote, dan culturalsite Geopark Bojonegoro harus terus dikampanyekan. Disosialisasikan melalui event dan ragam aktivitas lain yang memungkinkan.
Multidimensi Geopark Bojonegoro sebagai objek wisata, ekonomi, budaya, penelitian, dan anugerah Tuhan harus terus digulirkan. Diperbincangkan. Didiskursuskan.
Agar setiap masyarakat Bojonegoro tidak asing dengan Geopark Bojonegoro. Lebih-lebih ikut menjaga, merawat, dan mengenalkan Geopark Bojonegoro kepada pihak luar.
Akhir kata, saya bangga dengan Geopark Bojonegoro. Selanjutnya anda. (*/kza)

