Festival Budaya Kalang 2025 di Bangilan Tuban: Pengakuan, Pengenalan, dan Pelestarian

UNJUK SENI: Salah satu grup hadrah saat bersiap tampil dalam acara Festival Budaya Kalang 2025, Sabtu (9/8/2025) malam. (Foto: Istimewa)

BOJONEGORORAYA – Masyarakat Kalang yang hidup di pegunungan Kendeng Utara pada masa silam, telah termarjinalkan. Asing bagi generasi saat ini. Tidak banyak diketahui apalagi dikenali.

Ada beberapa sebab mengapa masyarakat Kalang bernasib demikian. Di antaranya, masyarakat Kalang dilabeli sebagai sekumpulan makhluk aneh. Setengah siluman. Pandir. Bukan manusia wajar.

Belakangan, label itu hendak dilepas oleh sekelompok pemuda-pemudi asal Tuban yang terhimpun dalam Yayasan Rumah Persinggahan Art Lab. Mereka tidak sependapat dengan label tersebut.

Guna mendukung hal dimaksud, pemuda-pemudi Yayasan Rumah Persinggahan Art Lab melangsungkan penelitian dan mengorkestrasikan hasilnya melalui Festival Budaya Kalang 2025.

Festival itu digelar di Desa/Kecamatan Bangilan, Tuban selama dua hari. Pada Sabtu (9/8/2025) dan Minggu (10/8/2025). Berkolaborasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur.

Selama dua hari, Festival Kalang 2025 menyuguhkan aneka hal dan peristiwa. Dihadiri warga sekitar, peneliti, sejarawan, budayawan, seniman, jurnalis, mahasiswa, pelajar, birokrat, hingga korporat dari Tuban, Bojonegoro, Blora—wilayah Kendeng Utara.Pada hari pertama Festival Kalang 2025, ada peluncuran buku Menelusuri Jejak Peradaban Wong Kalang Kendeng Utara yang disusun Muchammad Nahrus dan Teguh Ugik Widianto.

Buku itu berisi hasil penelitian Yayasan Rumah Persinggahan Art Lab perihal masyarakat Kalang di Kendeng Utara. Memaparkan mitos, legenda, dan hipotesis ilmiah atas masyarakat Kalang.
Lalu, ada pula pertunjukan seni hingga diskusi perihal masyarakat Kalang yang hidup di pegunungan Kendeng Utara. Pada hari kedua, ada jelajah situs kubur masyarakat Kalang di beberapa titik sekitar Kecamatan Bangilan.

Kegiatan jelajah situs kubur masyarakat Kalang di sejumlah titik tersebut untuk memberikan pengalaman empiris kepada para terlibat. Mempertebal kesan, memperuncing pengetahuan.Adapun, dalam diskusi pada hari pertama, ada beberapa hal fundamental yang dibahas. Muaranya menyigi, mengakui, dan menyepakati bahwa masyarakat Kalang merupakan manusia-manusia wajar.

Baca Juga :  Hasil Uji Lab Makanan MBG di SDN Semanding Bojonegoro: Sementara Aman

‘’Kalang merupakan kelas sosial. Manusianya biasa saja. Wajar. Normal. Tidak berekor. Bukan setengah siluman,’’ ujar Ahmad Wahyu Rizkiawan dalam diskusi pada hari pertama tersebut.

Catatan paling tua tentang masyarakat Kalang, kata Rizki sapaannya, tertulis dalam Prasasti Telang dan Prasasti Sangsang yang dirilis Kerajaan Medang pada 903 dan 907 masehi, era Raja Dyah Balitung.

Dalam dua prasasti itu, kata dia, masyarakat Kalang diceritakan sebagai sekelompok orang yang berjasa. Mumpuni dalam keterampilan dunia. Sudah akrab dengan kegiatan spiritual.

‘’Label bahwa Wong Kalang merupakan manusia berekor, muncul belum lama. Belum genap satu abad. Tepatnya pada 1931 lalu,’’ ungkapnya.

Label dimakasud, lanjut etnograf asal Desa Kuncen, Kecamatan Padangan, Bojonegoro itu, ditulis dalam laporan peneliti minyak bumi Belanda yang dirilis di salah satu surat kabar Hindia Belanda.

‘’Tidak lama setelah dirilis, laporan yang narasumbernya dukun Supardi itu dibantah intelektual Tuban bernama Ramli,’’ imbuhnya.
Sejarawan Blora Totok Supriyanto mengemukakan hal serupa. Berdasarkan aneka sumber sejarah, dia memiliki hipotesis bahwa masyarakat Kalang merupakan sekelompok manusia yang piawai perihal minyak bumi.

‘’Persisnya, mereka sudah bisa menemukan, menambang, dan mengolah minyak bumi. Sebuah SDA (Sumber Daya Alam, red) yang melimpah di Kendeng Utara,’’ imbuhnya.

Namun, nasib sial menimpa masyarakat Kalang itu. Mereka disingkirkan dari wilayahnya dan dirusak riwayatnya. Siapa terduga pelakunya? Tidak lain adalah pemerintah kolonial Belanda.

‘’Keberadaan masyarakat Kalang mengganggu konsesi tambang minyak bumi di Kendeng Utara Bojonegoro, Blora, Tuban. Sehingga, mereka dihilangkan dan dirusak citranya,’’ jelas Totok.

Budayawan Tuban Agus Nur Wahidin sependapat bahwa masyarakat Kalang merupakan sekelompok manusia yang terampil, berperadaban maju, dan berada di kelas sosial cukup tinggi.

Baca Juga :  Pelatihan Jurnalistik di SMPN 1 Ngraho: Memahami Berita, Opini, hingga Fotografi

‘’Sebab, di kubur-kubur mereka, kami menemukan beberapa artefak. Mulai manik-manik hingga pecahan keramik,’’ ungkapnya.

Budayawan cum seniman tinggal di Desa/Kecamatan Rengel, Tuban itu menyebut, artefak manik-manik dan pecahan keramik adalah bukti bahwa masyarakat Kalang merupakan masyarakat yang maju dan mapan.

‘’Hidup mereka tidak hanya berkutat soal kebutuhan makan. Tapi, juga soal kreasi dan seni,’’ imbuh Budayawan Tuban kelahiran Banyuwangi, karib disapa Hewod tersebut.

Muchammad Nahrus, penyusun buku Menelusuri Jejak Peradaban Wong Kalang Kendeng Utara, mengatakan hal senada. Sejumlah penyangkalan perihal citra miring masyarakat Kalang, telah ditulis dalam buku yang disusunnya.
Ke depan, mantan jurnalis pelat merah itu berharap ada lebih banyak diskursus serta karya-karya baru tentang masyarakat Kalang.  Semata, agar masyarakat Kalang semakin diketahui, dikenali, disadari, diakui.

‘’Pengetahuan tentang masyarakat Kalang pun menjadi lestari,’’ imbuh pria asal Desa Mulyoagung, Kecamatan Singgahan, Tuban tersebut.

Ketua Panitia Festival Budaya Kalang 2025 itu juga mengutarakan, mendatang akan dibentuk suatu forum berisi para penelisik masyarakat Kalang dari Tuban, Bojonegoro, dan Blora.

‘’Agar, penelisikan masyarakat Kalang di Kendeng Utara bisa lebih komprehensif. Berjejaring. Terpadu. Tidak sektarian,’’ jelasnya.

Lebih dari itu, mewakili para panitia Festival Budaya Kalang 2025, Muchammad Nahrus menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dan mendukung Festival Budaya Kalang 2025.

‘’Segenap tokoh masyarakat, organisasi, komunitas, birokrasi, korporasi, dan seluruh tamu, terima kasih atas partisipasi serta kontribusinya,’’ pungkas ayah satu anak itu. (sab/kza)

error: Content is protected !!