Oleh: Sholikin Jamik
Ketua Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Masyarakat Madani Bojonegoro
———————
HAJI merupakan ibadah yang menggabungkan tiga hal sekaligus, antara ibadah badaniyah, ibadah maliyah dan ibadah qolbiyah, tentu sangat berat. Tentu, bila ikhlas dalam menjalankan pahalanya, hanya surganya Allah SWT.
Maka, modal utama harus sabar. Dan, sabar yang tidak ada batasnya. Banyak kasus-kasus pelaksanaan ibadah haji yang terjadi bermula karena kurang sabar. Misalnya, ada kasus pasangan suami istri (pasutri) di tanah air baik baik saja, justru di Tanah Suci sering bertengkar karena kurang sabar.
Ada pasutri, suaminya pamit sama istrinya mau menjalankan thawaf sunah. Sang suami meminta istrinya menunggu di tiang yang ditunjuk, dan tidak boleh ke mana-mana(baca: padahal semua tiang sama).
Ternyata, setelah suami selesai thawaf mencari istrinya di tiang lain. Muter-muter. Berkeliling sampai capek tidak bertemu. Padahal, istrinya setia menunggu di tempat tiang yang ditunjuk suaminya.
Setelah capek baru bertemu. Nah, saat bertemu suami mukanya mencekam. Keringat bercucuran. Marah tidak keruan. Menuduh istrinya pindah ke mana-mana. Padahal, istrinya setia menunggu di tiang yang ditunjuk suami. Suami yang keliru arah.
Contoh-contok kecil kerap terjadi. Bahkan, ada juga kasus sepele lainnya. Misalnya, kadang karena masalah air, dan antrean kamar mandi di Arafah. Juga, kamar di Musdzalifah, kamar mandi di Mina. Terkadang masalah tenda. Bahkan, sampai masalah makanan. Hal-hal yang sedikit menyebabkan kita peka dan mudah sekali marah-marah.
Itulah sebabnya sangu sabar, menjadi hal wajib harus dibawa selama beribadah haji. Allah SWT sudah berpesan dalam menjalankan ibadah haji harus menjaga dan Kontrol. Ada beberapa hal perlu menjauh dari perbuatan.
Pertama, rofas. Yakni, bila menemui hal yang tidak sesuai dengan harapan jangan berkata kotor. Kata-kata yang mengandung rangsangan nafsu.
Kedua, fusuk. Kata-kata yang keji atau kata-kata penyesalan dalan menjalankan ibadah haji. Mengumpat eadaan karena tidak sesuai harapan.
Ketiga, jidal. Saat haji terjadi pertengkaran. Tengkar kepada siapa saja. Maklum karena kondisinya panas. Dalam kondisi panas temperatur mudah naik. Orang peka tersinggung sedikit marah, lantaran air, makanan, kendaraan atau saling menunggu, karena kurang sabar.
Berdasar kajian, ada tiga sabar. Pertama, sabar dalam taat. Saat kita pakaian ihram tidak boleh mencukur. Tidak boleh potong kuku, tidak boleh membunuh binatang, dan tidak boleh melakukan hubungan suami-istri.
Sebaliknya, kita harus sabar dalam taat. Sama saat puasa Ramadan biar haus. Lapar kalau belum waktunya mahrib jangan makan. Inilah hakikat sabar dalam taat.
Kedua, sabar dalam meninggalkan maksiat dalam haji. Harus sabar tidak berbuat jidal, fusuq dan rofas.
Ketiga, sabar pada waktu menghadapi ujian. Ketika kita berhaji menemui sesuatu yang tidak sesuai harapan, tentu bermakna ujian.
Konsep Islam terdapat dalam Surat Al-Baqarah ayat 157 menyebutkan: Keutamaan bersabar saat mendapat ujian. (Yaitu) orang-orang yang apabila mendapat musibah, mereka berkata: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).
Kembali pada konsep dasar apabila ada ujian yaitu kita dari Allah dan akan kembali kepada Allah SWT. Nah, saat ada masalah apakah kita kehilangan suasana yang aman (saat mau berangkat tarwiyah, di tenda Mina, di tenda Arafah) kehilangan jabatan, kehilangan harta, kehilangan pangkat, muaranya: sabar.
Harta, jabatan, pangkat, suasana yang tidak enak, semua dari Allah SWT. Dan akan kembali kepada Allah SWT. (*)


