BOJONEGORORAYA – Sekitar 100 petani muda dari berbagai kecamatan se-Bojonegoro, berkumpul di Agrowisata Kebun Belimbing, Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro. Senin (30/6/2025) pagi.
Mereka mengikuti acara Jagongan Petani Milenial part 2 yang diinisiasi oleh PT Asri Dharma Sejahtera (ADS), salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemkab Bojonegoro yang sehat dan profitable.
Tentu, sekitar 100 petani muda tersebut tidak sekadar berkumpul di Jagongan Petani Milenial part 2. Namun, mereka juga mendapat banyak pengetahuan untuk memecahkan masalah petani plus pertanian saat ini.
Sekitar 100 petani muda itu juga mendapat kesempatan langka. Yakni, ngobrol langsung dengan Bupati Bojonegoro Setyo Wahono yang hadir di tengah acara. Membuat suasana Jagongan Petani Milenial part 2 lebih guyub, semakin gayeng.

Adapun, pemateri Jagongan Petani Milenial part 2 adalah Dekan Institut Pertanian Bogor (IPB) Suryo Wiyono, Owner Laskar Buah Muhadi, dan Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro Zaenal Fanani.
Didapuk sebagai pembicara pertama, Suryo Wiyono mengemukakan banyak hal. Cukup panjang lebar. Salah satu konsennya, mengungkapkan aneka hal terkait pemberantasan hama serta penyakit tanaman secara alami dan efektif.
Akademisi bergelar profesor itu juga menyampaikan ragam hal terkait jenis dan kesuburan tanah. Salah satunya, dia menyebut, 70 persen tanah di Bojonegoro ini berjenis grumusol. Cenderung kering.
‘’Butuh penambahan bahan organik untuk lebih subur. Kadar Ph idealnya 5,5—6,5,’’ jelas profesor asal Desa Tinawun, Kecamatan Malo, Bojonegoro tersebut.
Bahan organik untuk menyuburkan tanah, kata profesor lulusan Goettingen University, Jerman ini, bisa berasal dari aneka jenis sumber. Mulai fermentasi tanaman hingga kotoran dan urin hewan.
‘’Penerapan teknologi dan ilmu biologi sangat penting untuk pertanian saat ini. Itu kunci pertanian yang produktif namun efektif,’’ imbuhnya.
Lebih dari itu, Suryo Wiyono menyatakan, yang paling krusial, saat ini Indonesia butuh petani generasi baru. Sebab, mayoritas petani kini berusia di atas 55 tahun. Sedikit yang muda.
‘’Jagongan Petani Milenial ini bagus. Menjadi salah satu cara untuk membentuk petani generasi baru itu,’’ tutur profesor kelahiran 1969 ini.
Muhadi yang menjadi pembicara kedua, mengemukakan banyak hal pula. Owner Laskar Buah yang juga anggota DPRD Bojonegoro itu mengambil konsen perihal agroindustri di Bojonegoro. Terutama, ihwal pemasaran.
‘’Stok buah di Bojonegoro terbatas. Belum banyak. Ini jadi peluang bagi para petani milenial di Bojonegoro untuk menggarap pertanian buah,’’ ujarnya.
Pemilik lebih dari 100 toko buah di Jawa Timur dan Jawa Tengah itu menilai, pertanian buah lebih prospek ketimbang padi. Itu karena, buah hanya sekali tanam. Panennya berkali, berkelanjutan.
‘’Laskar Buah siap membeli buah dari petani Bojonegoro. Yang penting, buahnya harus berkualitas dan jumlahnya juga banyak,’’ tandas Muhadi.

Lebih lanjut, politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menyampaikan, para generasi jangan sampai berkecil hati dalam menjadi petani. Justru, harus berbangga. Percaya diri.
‘’Bangun mindset petani adalah pengusaha. Gayanya harus seperti pebisnis. Dan, jangan lupa bangun organisasi untuk terus berkembang,’’ tegasnya.
Menurut Muhadi, pengusaha sangat keren. Pengusaha itu membantu pemerintah. Menyerap tenaga kerja. Mengurangi kemiskinan. Mampu mengubah taraf hidup setiap masyarakat yang terlibat.
Zaenal Fanani yang menjadi pembicara ketiga, menyampaikan materi seputar kebijakan Pemkab Bojonegoro terhadap pertanian. Dia juga menyebut agroindustri yang diutarakan Muhadi itu memang bagus.
‘’Agroindustri jadi target di masa mendatang. Sesuai visi Bojonegoro, yaitu Sentra Agroindustri dan Energi Negeri,’’ terangnya.
Agroindustri, kata Zaenal, merupakan potensi Bojonegoro yang luar biasa. Banyak lahan kosong di Bojonegoro yang ideal untuk agroindustri itu. Terutama di hutan dan tepi-tepi hutan.
‘’Pemkab Bojonegoro sudah bekerja sama dengan Perhutani. Jadi, lahan-lahan di hutan dan di tepi-tepi hutan sudah mudah apabila dimanfaatkan,’’ imbuhnya.
Sedapat mungkin, lanjut Zaenal, Pemkab Bojonegoro melalui DKPP Bojonegoro, akan memfasilitasi keperluan pertanian atau agroindustri. Terutama, pertanian atau agroindustri yang dilakukan para generasi muda.
‘’Jumlah petani Bojonegoro semakin sedikit. Sudah tua. Butuh generasi muda. Kami akan mendukung itu. Agar pertanian kita tetap tergarap optimal,’’ jelasnya.
Usai pemaparan materi oleh Zaenal Fanani inilah, Bupati Bojonegoro Setyo Wahono hadir dan bergabung. Saat mendapat kesempatan bicara, Wahono menyampaikan berbagai hal terkait pertanian Bojonegoro.
Kepada seluruh pembicara dan peserta, Wahono juga berbagi unek-unek sebagai bupati maupun petani. Salah satunya, Wahono meminta Suryo Wiyono untuk membantu optimalisasi pertanian di Bojonegoro selatan dan utara.
‘’Pertanian di Bojonegoro selatan dan utara berbeda karakternya. Kami butuh kajian dan solusi dari akademisi agar keduanya sama-sama maksimal,’’ tuturnya.
Khusus kepada Muhadi, Bupati Bojonegoro sejak Februari 2025 itu meminta agar memperbanyak serapan buah hasil petani Bojonegoro. Pendeknya, meminta Muhadi memprioritaskan pembeliaan buah asal Bojonegoro.
‘’Laskar Buah itu kan offtaker buah paling besar di Bojonegoro. Tolong diprioritaskan buah asal Bojonegoro,’’ pinta Wahono.
Lebih lanjut, Wahono menyampaikan terima kasih kepada PT ADS yang telah menginisiasi Jagongan Petani Milenial. Menurut dia, acara itu sangat bagus. Jadi wadah untuk edukasi dan saling sharing bagi para petani muda.
‘’Generasi muda mari bertani. Harus terus semangat. Demi kemandirian pangan kita. Untuk Bojonegoro yang bahagia, makmur, dan membanggakan,’’ imbuhnya.
Sementara itu, Direktur PT ADS Muhammad Kundori juga menyampaikan terima kasih kepada Bupati Bojonegoro Setyo Wahono dan seluruh pihak yang terlibat Jagongan Petani Milenial part 2.

Dia menyebut, Jagongan Petani Milenial part 2 maupun part 1 di Desa Kenep, Kecamatan Balen, Bojonegoro pada Mei 2025 lalu merupakan wujud dukungan PT ADS terhadap keberlanjutan pertanian Bojonegoro.
‘’Jagongan Petani Milenial ini sesuai petunjuk, arahan, dan dukungan Pak Bupati. Mendukung pertanian Bojonegoro lebih produktif, maju, berkelanjutan,’’ jelasnya.
Kundori berharap, para peserta Jagongan Petani Milenial benar-benar menyesap ilmu dan pengalaman yang didapat. Mengimplementasikannya secara nyata dalam aktivitas pertanian yang dilakukan. (sab/kza)


