Keterkaitan Situs Geopark Bojonegoro Utara dan Selatan Perlu Lebih Ditonjolkan

20/06/2026
SITUS DI SELATAN: KNGI dan BRIN saat meninjau Kedung Lantung, Jumat (19/6/2026). Sumber minyak bumi di Desa Drenges. (Foto: Dinkominfo Bojonegoro)

BOJONEGORORAYA – Secara umum, Geopark Bojonegoro telah siap menjalani penilaian atau asesmen dari UNESCO mendatang. Namun, ada beberapa hal yang perlu lebih ditonjolkan.

Salah satunya, hubungan atau keterkaitan antarsitus Geopark Bojonegoro di wilayah utara dan selatan. Relasi antarsitus di dua bentang wilayah tersebut, perlu lebih diperkuat.

Hal itu diutarakan Rudy Suhendar saat tinjauan lapangan Komite Geopark Nasional Indonesia (KNGI) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Kayangan Api, Jumat (19/6/2026) malam.

Salah satu Dewan Pakar KNGI itu menuturkan, situs Geopark Bojonegoro di utara dan selatan harus dinarasikan jadi satu kesatuan sistem petroleum yang terhubung.

Misalnya, apa keterkaitan antara ladang minyak bumi di Kecamatan Wonocolo dan sumber minyak bumi di Kedung Lantung, Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras.

‘’Buat satu penampang untuk menghubungkannya. Sebagai satu sistem petroleum,” ujarnya, Jumat (19/6/2026) malam.

Rudy Suhendar menyebut, Kedung Lantung sama seperti Teksas Wonocolo. Keduanya punya arti penting bagi Geopark Bojonegoro. Hanya lanskapnya yang berbeda.

Secara umum, eks Kepala Badan Geologi Nasional ini mengatakan, seluruh situs Geopark Bojonegoro yang ditinjau, telah siap. Cukup matang menghadapi asesmen UNESCO.

‘’Hanya perlu pemolesan sedikit di panel informasi. Grafis dan narasinya diperjelas. Juga penyampaian verbalnya,’’ imbuhnya.

Sementara, Hanang Samodra dari BRIN menegaskan, petroleum system yang diusung Geopark Bojonegoro sebagai tema, adalah modal utama. Mesti diutamakan dalam setiap narasinya.

‘’Sehingga, kalau orang mencari geopark yang bicara minyak bumi, akan teringat Bojonegoro,” tegasnya.

Hanang sapaannya menambahkan, keterhubungan lain yang perlu diperhatikan ialah hubungan geosite dan biosite. Misalnya, hubungan hutan jati Gondang dengan tanah karst Bojonegoro.

Terkait bunga Anggrek Larat Hijau yang diklaim peneliti Universitas Bojonegoro (Unigoro) sebagai anggrek endemik hutan Jati Bojonegoro, peneliti utama BRIN itu agak menyangsikan.

Baca Juga :  Revalidasi Geopark, Disbudpar Bojonegoro Pastikan Kesiapan Lokasi Kunjungan

Dia meminta, klaim tersebut dikaji lebih mendalam. Sebab, ada kemungkinan Dendrobrium Capra itu juga ditemukan di hutan Wonogiri, Gunung Kidul, dan Nusa Tenggara. (man/sab)

error: Content is protected !!