Jelang Penilaian UNESCO, KNGI dan BRIN Tinjau Geopark Bojonegoro

PENGAMATAN: Rudy Suhendar (memegang kertas) saat melihat Teksas Wonocolo, tinjau kesiapan Geopark Bojonegoro. (Foto: Dinkominfo Bojonegoro)

BOJONEGORORAYA – Tidak lama lagi, waktu yang menentukan Geopark Bojonegoro menjadi UNESCO Global Geopark (UGGp), segera tiba.

Tim penilai atau asesor dari UNESCO akan datang ke Bojonegoro untuk keperluan tersebut. Meninjau dan mengkaji kepatutan Geopark Bojonegoro sebagai UGGp.

Menyambut itu, sejumlah peneliti dari Komite Nasional Geopark Indonesia (KNGI) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) datang ke Bojonegoro, Kamis (18/6/2026).

Didampingi beberapa individu dari Badan Pengelola (BP) Geopark Bojonegoro, mereka melihat kesiapan Geopark Bojonegoro. Dimulai dari Gedung Pusat Informasi Geologi (PIG) Bojonegoro.

Setelahnya, berlanjut ke biosite Agrowisata Belimbing di Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu  dan Museum 13 di Desa Panjunan, Kecamatan Kalitidu.

Kemudian, mereka bergeser lagi ke Rumah Singgah Wonocolo, Teksas Wonocolo, dan Hipostratotipe Formasi Wonocolo-Hargomulyo. Ketiganya di Kecamatan Wonocolo.

Di setiap titik biosite, geosite, dan culturalsite Geopark Bojonegoro tersebut, dilakukan simulasi pemaparan selayaknya di hadapan tim penilai atau asesor dari UNESCO kelak.

Para pengelola dan pemandu Geopark Bojonegoro menjadi fokus simulasi itu. Mereka menjelaskan nilai geologi, hayati, dan budaya situs secara lengkap, runut, mudah dipahami.

Rudy Suhendar dari KNGI memberikan sejumlah masukan dalam agenda tersebut. Salah satunya, Dewan Pakar KNGI itu berpesan, keunikan Geopark Bojonegoro perlu lebih ditonjolkan.

Geopark Bojonegoro, kata eks Kepala Badan Geologi Nasional Kementerian ESDM ini, memiliki karakter yang khas berkat cekungan minyak dan gas (migas).

‘’(Cekungan migas, red) Itu menjadi kekuatan (Geopark Bojonegoro, red). Perlu lebih ditampilkan dalam setiap penjelasan kepada pengunjung maupun asesor,” ujarnya.

Hanang Samodra dari BRIN memberikan penguatan materi dan strategi interpretasi situs Geopark Bojonegoro. Dia menekankan, narasi situs geopark harus mengait tiga aspek sekaligus.

Baca Juga :  Festival Geopark Bojonegoro: Orkestrasi Kekayaan Geologi, Wisata, dan Seni--Budaya

‘’Yakni geologi, hayati, dan budaya,’’ tandas peneliti utama di Pusat Riset Sumber Daya Geologi BRIN tersebut.

Ketiga aspek tersebut, kata Hanang Samodra, harus saling terhubung dalam satu narasi. Sehingga, tersaji pemahaman utuh dan komprehensif atas suatu situs Geopark Bojonegoro.

Untuk diketahui, pada 2017 lalu, Geopark Bojonegoro terdiri dari 16 situs. Serampung revalidasi dari KNGI dan Badan Geologi Nasional 2025 lalu, situs Geopark Bojonegoro menjadi 21.

Sebanyak 21 situs Geopark Bojonegoro termutakhir tersebut bisa dilihat di sini. Wujudnya semakin beragam. Tersebar di berbagai kecamatan. (sab/kza)

error: Content is protected !!