Oleh: Puguh Andhi Setiawan
Peneliti di Tourism Research Center and Laboratory UPN Veteran Jawa Timur
——————
Pembangunan pariwisata di Bojonegoro dalam beberapa tahun terakhir tampak bergerak dengan satu narasi besar: geopark. Menawarkan prestise, legitimasi internasional, dan kebanggaan simbolik atas kekayaan geologi daerah.
Namun, fokus dominan pada geopark berisiko menutup mata terhadap potensi wisata lain yang tumbuh dari denyut kehidupan desa. Salah satu contoh nyata potensi wisata luput dari perhatian tersebut ada di Desa Klino.
Desa Klino berada di Kecamatan Sekar, wilayah Bojonegoro selatan. Kekayaan alamnya layak dikembangkan sebagai ekowisata unggulan. Desa Klino, bukan sekadar desa agraris biasa.
Lanskap perbukitan hijau, keberadaan Gunung Pandan sebagai penanda ekologis dan kultural, serta keragaman komoditas pertanian, merupakan modal kuat ekowisata Desa Klino.
Sayangnya, beragam potensi di desa kaki Gunung Pandan itu belum terartikulasikan secara serius. Tidak tersentuh maksimal dalam kebijakan dan perencanaan pembangunan pariwisata daerah.
Gunung Pandan, misalnya, bukan hanya menawarkan panorama alam asri, tetapi juga potensi wisata minat khusus seperti treking, edukasi lingkungan, hingga orkestrasi budaya lokal.
Dalam perspektif ekowisata, lanskap semacam itu bukan sekadar objek visual, melainkan ruang belajar. Mempertemukan manusia dengan alam secara bertanggung jawab.
Namun, hingga kini, Gunung Pandan berserta desa di kakinya lebih sering dipandang sebagai latar belakang geografis. Bukan sebagai aset ekowisata yang strategis.
Desa Klino memiliki kekuatan besar pada sektor agrowisata. Punya durian, rambutan, bawang merah, alpukat, jeruk, kelengkeng, dan aneka komoditas hortikultura lainnya.
Keragaman itu peluang besar untuk pengembangan agrowisata berbasis pengalaman di Desa Klino. Misalnya, wisata petik buah, edukasi pertanian berkelanjutan, hingga wisata kuliner lokal.
Dalam konteks pariwisata modern, pengalaman semacam itulah yang dicari wisatawan, terutama mereka yang sudah jenuh dengan destinasi artifisial dan massal.
Di sinilah perspektif ekowisata relevan. Avenzora (2008; 2015) menegaskan, ekowisata bukan sekadar wisata alam. Melainkan, pariwisata yang menempatkan konservasi, edukasi, dan kesejahteraan masyarakat lokal sebagai pilar utama.
Ekowisata, menurut Avenzora, harus berbasis pada keunikan lokal, dikelola secara partisipatif, dan berorientasi pada keberlanjutan jangka panjang. Bukan sekadar mengejar jumlah kunjungan.
Jika menggunakan kacamata ini, Desa Klino memiliki hampir seluruh prasyarat dasar ekowisata. Alamnya terjaga, ekonomi selaras dengan lingkungan, ada pengetahuan lokal yang dapat diatraksikan dan diedukasikan.
Yang belum hadir adalah keberpihakan kebijakan dan keseriusan perencanaan. Desa-desa seperti Klino tertinggal dalam peta prioritas pembangunan pariwisata. Tidak menjadi bagian dari gencarnya promosi geopark.
Geopark sering dipahami sebagai proyek besar membutuhkan investasi tinggi, infrastruktur masif, dan branding berskala luas. Pendekatan top-down lebih dominan, potensi wisata desa yang organik dan inklusif, terabaikan.
Padahal, ekowisata sebagai potensi desa justru lebih sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan dan pemerataan ekonomi lokal. Ketergantungan berlebihan pada geopark juga menyimpan risiko lain.
Ketika narasi pariwisata daerah terlalu tersentral pada satu konsep, daya lenting pariwisata akan melemah. Sebaliknya, diversifikasi destinasi akan memperkuat struktur pariwisata daerah secara keseluruhan.
Bojonegoro tidak seharusnya hanya dikenal karena geopark, tetapi juga karena desa-desa mampu menghadirkan pengalaman ekowisata autentik. Ekowisata di Desa Klino tidak harus dimulai dengan proyek besar.
Justru, sesuai gagasan Avenzora, pengembangan sebaiknya dimulai dari penguatan kapasitas masyarakat, pemetaan potensi lokal, dan penyusunan model pengelolaan yang adaptif.
Kelembagaan desa, kelompok tani, dan pemuda lokal dapat menjadi aktor utama. Sementara, pemerintah daerah berperan sebagai fasilitator, bukan sekadar regulator.
Lebih jauh, Desa Klino dapat menjadi laboratorium hidup bagi pengembangan ekowisata berbasis agroekologi. Wisatawan tidak hanya menikmati pemandangan atau hasil panen.
Tetapi, wisatawan berkunjung di Desa Klino juga bisa belajar tentang sistem pertanian lokal, siklus musim, hingga kearifan masyarakat dalam mengelola alam.
Model semacam ini sejalan dengan tuntutan pariwisata pascapandemi yang lebih menekankan kualitas pengalaman, kesehatan lingkungan, dan nilai-nilai keberlanjutan.
Sudah saatnya Bojonegoro meninjau ulang arah kebijakan pariwisatanya. Geopark tetap penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya lensa dalam melihat potensi daerah.
Desa Klino adalah pengingat bahwa di balik euforia proyek besar, terdapat potensi desa yang tumbuh perlahan namun kokoh. Mengabaikannya tidak saja mengesampingkan peluang ekonomi, tetapi juga mengabaikan mandat pembangunan adil dan berkelanjutan.
Jika ekowisata dipahami sebagaimana ditegaskan Avenzora sebagai instrumen konservasi, edukasi, dan pemberdayaan, maka Desa Klino layak mendapat tempat dalam agenda strategis pariwisata Bojonegoro.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Desa Klino memiliki potensi, melainkan apakah kita memiliki keberanian untuk menggeser fokus, mendengar suara desa, dan membangun pariwisata dari akar rumput.
Tanpa langkah itu, Desa Klino akan terus menjadi potensi yang terabaikan, sementara Bojonegoro kehilangan kesempatan emas menampilkan wajah pariwisata yang lebih manusiawi, berkelanjutan, dan berkeadilan. (*)

