BOJONEGORORAYA – Program anyar untuk pengembangan peternakan domba-kambing bakal dijajal di Bojonegoro. Peternakan domba-kambing skala kecil di desa-desa, akan diperbesar. Membentuk klaster-klaster. Dapat modal, pendampingan, dan pasar yang tetap serta berkelanjutan.
Program pengembangan model klaster itu digagas korporasi peternakan domba-kambing asal Bojonegoro. Yakni, PT Yusuf Mamlaka Mubarokah (YMM). Bekerja sama dengan Bank Jawa Barat (Bank BJB) serta Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI).
Kamis (6/2/2025) siang, sosialiasi program pengembangan model baru tersebut digelar PT YMM dan Bank BJB di rumah produksi pakan ternak PT YMM. Lokasinya di Desa Ngulanan, Kecamatan Dander, Bojonegoro. Diikuti sekitar 30 peternak domba-kambing dari wilayah sekitar.
Dalam sosialisasi itu, Manajer Sentra UMKM Regional 5 Bank BJB Cabang Surabaya Foura Deviyanti mengatakan, program pengembangan klaster ini termasuk program kredit usaha rakyat (KUR). Setiap peternak domba-kambing skala kecil disuntik modal hingga Rp 100 juta.
“Temponya satu tahun untuk penggemukan atau dua tahun untuk pembiakkan. Perihal besaran bunga, maksimal enam persen per tahun,” ujarnya, Kamis (6/2/2025) siang.
Lihat postingan ini di Instagram
Olla sapaannya meneruskan, modal hingga Rp 100 juta itu tidak diterimakan berupa uang tunai. Para peternak menerimanya dalam bentuk domba atau kambing siap kawin berikut pakan, obat, dan vitaminnya. Akan disediakan PT YMM selaku mitra Bank BJB dalam program ini.
“PT YMM juga yang akan mengawal program ini. Memberi pendampingan, pakan, dan fasilitasi kesehatan ternak secara rutin. Selain itu, PT YMM sebagai offtaker (pembeli, red) pula,” teranganya.
Jadi, lanjut Olla, para peternak domba-kambing dalam program ini tidak perlu bingung soal pasar atau penjualan. Sebab, domba-kambing yang dipelihara berikut anak-anaknya dalam program ini, sudah pasti dibeli PT YMM selaku offtaker.
“Domba atau kambing indukan dan anak-anakanya, menjadi hak peternak. Tapi, peternak wajib menjualnya ke PT YMM. Kewajiban itu mengikat dua tahun. Selama berlangsungnya program,” imbuhnya.

Olla menandaskan, hasil penjualan domba-kambing indukan maupun anak-anaknya ke PT YMM itu, nantinya digunakan para peternak untuk membayar KUR. Adapun, pembayaran tersebut dikoordinir oleh PT YMM selaku offtaker dalam program ini.
“Syarat menerima program ini seperti syarat KUR pada umumnya. Hanya saja, diprioritaskan untuk para peternak domba-kambing. Yang sudah punya kandang sendiri. Meskipun kecil,” imbuhnya.
Dia optimistis, program akan direalisasikan sebentar lagi ini bisa mendatangkan manfaat bagi para peternak domba-kambing. Terutama, jika mereka memelihara domba-kambing secara baik, benar, dan jujur. Sesuai kesepakatan dengan PT YMM dan Bank BJB.
Manajer UMKM Bank BJB Cabang Surabaya Bambang Setiyowargo mengemukakan hal serupa. Dia menambahkan, program pengembangan model klaster ini sudah berlangsung lancar dan menguntungkan peternak domba-kambing di beberapa daerah di Jawa Timur (Jatim).
“Di antaranya Malang, Jember, Jombang, Kediri, dan Nganjuk. Jadi, di Bojonegoro harapan kami juga bisa lancar dan menguntungkan juga,” tutur pria asal Purworejo, Jateng tersebut.

Direktur PT YMM Yanuar Kriswanto berterima kasih atas kerja sama pihaknya dengan Bank BJB dalam program pengembangan klaster peternakan domba-kambing ini. Dia menyebut, program ini beda. Lain dari program-program pengembangan yang sudah-sudah.
“Program pengembangan ini merupakan solusi untuk membuat peternakan domba-kambing yang masif dan berkelanjutan di Bojonegoro. Kami siap sekaligus optimis,” terang Yanuar.
Pria yang juga Ketua HPDKI Bojonegoro itu meneruskan, program pengembangan yang akan direalisasikan tidak lama lagi ini mula-mula akan disasarkan untuk 30 peternak domba-kambing. Tersebar di empat desa di Bojonegoro.
“Ke depan, kami memproyeksi setiap desa di Bojonegoro terjaring program ini. Supaya domba-kambing melimpah. Bojonegoro menjadi produsen domba-kambing terbesar di Jatim,” tuturnya. (sab/kza)


