BOJONEGORORAYA — Geopark Nasional Bojonegoro memberi bandul kuat untuk mimpi pengembangan wisata, konservasi alam, keilmuan, dan daya ungkit perekonomian berkelanjutan.
Asa besar itu tentu butuh jejaring geopark. Kolaborasi semua pihak agar Geopark Bojonegoro mendunia dengan mendapat stempel UNESCO Global Geopark (UGGp). Tidak mudah. Namun, Pemkab Bojonegoro optimistis.
‘’Geopark menjadi modal penggerak ekonomi Bojonegoro berkelanjutan. Pemkab konsentrasi menaikkan pergerakan ekonomi agar orang luar bisa masuk (berkunjung) ke Bojonegoro. Geopark bisa menarik minat wisatawan, pengetahuan, riset, edukasi, dan konservasi alam,’’ tutur Bupati Setyo Wahono menerima kedatangan tim asesor atau Tim Penilai Lapangan Geopark Nasional Bojonegoro di rumah dinas, Selasa (11/6) malam.
Setyo Wahono optimistis terhadap ragam situs Geopark Nasional Bojonegoro. Memiliki 16 situs geosite, 3 bioseite, dan 8 cultural site. Namun, dari ragam situs tersebut, tentu Geopark Nasional Bojonegoro memiliki keunikan sendiri. Ikonik.
Geopark Nasional Bojonegoro dengan tema petroleum dan gas, hadir dengan arah segmentasi yang unik. Berbeda dengan geopark lainnya. Bahkan, geopark di Bojonegoro sudah ada sejak zaman Belanda.
‘’Geopark Nasional Bojonegoro ada keunikan. Anugerah dari Allah SWT. Serta, geopark memiliki struktur geologi menarik, seperti struktur antiklin, hingga keragaman hayati,’’ tutur Wahono sapaannya.
Bupati Tekankan Kolaborasi Semua Pihak
Wahono mengatakan, mewujudkan geopark tidak mudah. Tentu butuh beberapa support, kolaborasi semua pihak. Serta, pendampingan oleh tim asesor.
Bupati Bojonegoro itu berharap tim asesor memberi saran dan masukan penyempurnaan Geopark Nasional Bojonegoro agar mulus dalam mengejar pengakuan UNESCO. Terutama setelah geopark Bojonegoro berpredikat nasional sejak 2017 lalu.
General Manager Pusat Informasi Geologi (PIG) Bojonegoro Kusnandaka Tjatur mengatakan, awal mula 2017 menjadi Geopark Nasional Bojonegoro. Hanya, pengembangan lanjutan terkendala Covid-19. Dan, intens kembali pada 2023 ini.
Menurut Kusnandaka, Bupati dan Wabup cukup serius dalam pengembangan Geopark Nasional Bojonegoro. Bahkan, secara payung hukum, pengembangan sesuai dengan rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD).
‘’Termasuk sudah mendapat rekomendasi gubernur Jatim,’’ kata pria juga menjabat asisten dua sekretariat daerah Pemkab Bojonegoro tersebut.
Tim Penilai Lapangan Menelaah Kriteria Geopark
Misi revalidasi atau validasi ulang Geopark Nasional Bojonegoro adalah melihat bersama. Setidaknya, mengungkap: apakah tetap berpegang teguh kriteria sebuah geopark.
‘’Apakah lebih 4 tahun masih mempunyai bau-bau geopark (sejak Geopark Bojonegoro ditetapkan geopark nasional),’’ tutur Hanang Samodra salah satu tim aseror revalidasi saat memberi sambutan.
Menurut Hanang, misi revalidasi ini bersama-sama melihat perkembangan geopark Bojonegoro. Melihat kriteria geopark. Revalidasi ini menjadi jejak awal bahwa nanti sudah siap saat penilaian UNESCO.
‘’Jadi nanti kita sudah siap. (Revalidasi, Red) 90 persen hampir sama dengan UNESCO,’’ tutur Hanang.
Hanang menyampaikan, selain geologi dan biologi, penilaian geopark juga ada hubung kait dengan pemberdayaan ekonomi lokal. Misalnya, usaha mikro kecil menengah (UMKM).
View this post on Instagram
Tim Asesor Tiga Hari Keliling ke Semua Titik Geopark Bojonegoro
Selain Hanang Samodra, tim penilai lapangan atau asesor ini meliputi Mirawati Sudjono serta Meliawati Ang. Bahkan, Meliawati ini baru saja ditetapkan sebagai tim penilai UNESCO.
Adapun tim revalidasi geopark nasional Bojonegoro ini terdiri beberapa pihak. Mulai Komite Geopark Nasional Indonesia (KGNI), Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Bappeda Jatim, hingga Kementerian ESDM, salah satunya Badan Geologi Nasional.
Rabu (11/6/25) pagi validasi mulai dari Pusat Informasi Geologi (PIG) Geopark Bojonegoro. Berlanjut ke Agrobelimbing di Desa Ngringinrejo. Lalu bergeser ke penangkaran rusa di Malo. Serta wisata edukasi gerabah.
Dari Malo, bergeser ke Wonocolo, menilik Teksas Wonocolo dengan jip adventure. Serta, geosite antiklin. Hingga mampir di Rumah Singgah. Lalu, berlanjut ke sentra bubut kayu jati di Kasiman.
Kamis (12/6/25), revalidasi menuju Kedung Lantung di Desa Drenges. Meninjau sentra batik dan geosite di Desa Jono. Lalu, menilis hutan pohon jati di Kecamatan Bubulan. Berlanjut ke Negeri Atas Angin.
Jumat (13/6/25) tim revalidasi meninjau Museum 13 di SDN Panjunan. Lalu, mengunjungi sentra UMKM pembuatan ledre. Berlanjut Kampung Samin dan Kampung Thengul.
Tim bakal melihat pesona UMKM produsen akar jati Margomulyo. Dan, malamnya akan melihat pesona api abadi di Kahyangan Api.
‘’Tim asesor bisa berjalan melewati api. Tapi, tidak bakal kepanasan,’’ tutur Kusnandaka Tjatur dengan senyum. (sab/kza)


