Ledre, Gulungan Warisan Perempuan (Seri 4)

Sedu-Sedan Agen Ledre Padangan, Banyak Tantangan

MASIH BERTAHAN: Agus Ayub, agen Ledre Super saat ditemui di tokonya, Sabtu (27/9/2026) sore. (Foto: Yusab Alfa Ziqin/Bojonegoro Raya)
MASIH BERTAHAN: Agus Ayub, agen Ledre Super saat ditemui di tokonya, Sabtu (27/9/2026) sore. (Foto: Yusab Alfa Ziqin/Bojonegoro Raya)

AGEN ledre berdiri di tengah. Di antara produsen dan pelanggan. Bisa dikata, agen ini perantara. Namun, tidak sekadarnya. Agen juga berpeluh. Harus punya modal membeli ledre dari produsen. Harus cakap menyortir, mengemas, dan gigih memasarkan ledre.

Hal ini diutarakan Agus Ayub. Dia salah satu agen ledre di Desa Padangan, Kecamatan Padangan. Cukup ternama. Punya toko ledre sekaligus warung makan Moro Tresno. Lokasinya tidak jauh dari perempatan Padangan, di tepi Jalan Raya Bojonegoro—Ngawi.

‘’Dari produsen, kami membeli atau menerima ledre jadi. Tapi, belum dikemasi,’’ ujarnya saat ditemui Bojonegoro Raya di Toko Moro Tresno, Sabtu (26/9/2026) sore.

Agus Ayub mengemukakan, selama ini, seluruh ledre yang dibelinya berasal dari Kecamatan Purwosari. Mayoritas dari Desa Gapluk. Para pembuat ledre di desa tersebut menyetorkan ledre kepadanya sekitar empat atau lima hari sekali.

‘’Ada banyak produsen ledre dari Desa Gapluk yang rutin menyetorkan ledrenya ke sini,’’ imbuh agen ledre memakai merek Ledre Super itu.

Berapa jumlah produsen ledre dari Desa Gapluk yang rutin menyetorkan ledre kepadanya, pria akrab disapa Agus ini tidak menghitung. Karena, jumlahnya tidak tetap. Datang dan pergi. Tidak pasti. Pun, dia juga tidak mengikat para produsen ledre tersebut.

’’Siapa saja (produsen ledre, red) yang butuh, monggo. Niat kami membantu. Membeli dan memasarkan ledre-ledre produksinya,’’ tutur Agus.

Yang jelas, tandas pria kelahiran 1964 ini, dia hanya menerima ledre berkualitas. Baik ledre original maupun rasa-rasa. Karena itu, setiap ada kiriman ledre, pihaknya wajib menjajal lantas menyortir ledre yang dikirim.

‘’Kami selalu cash kalau membeli ledre dari produsen. Tunai. Bayarnya di awal. Jadi, laku atau tidak laku, sudah risiko kami,’’ imbuhnya.

Baca Juga :  Mempertahankan Ledre di Pecinan Padangan, Tetap Pakai Anglo dan Arang

Karena tidak terlibat langsung dalam proses produksi ledre, lanjut Agus, kreativitas mengemas dan ketelatenan memasarkan ledre adalah hal penting yang harus ditanggung agen. Terkini, pihaknya punya sembilan kemasan. Semuanya boks.

‘’Perbedaan kemasan terletak pada varian rasa. Kami punya sembilan varian rasa. Harganya mulai Rp 20.000. Paling laris rasa original dan premium,’’ jelasnya.

Agus mengemukakan, sejauh ini masih bertahan menjual ledre secara offline. Selain di toko sendiri, dia juga menitipkan ledre di sejumlah toko dan swalayan di perkotaan Bojonegoro serta Cepu, Blora. Tidak ada Indomaret atau Alfamart.

‘’Pernah coba masuk, mereka (Indomart atau Alfamart, red) tidak mau. Dan, kiranya, hasilnya tidak menjanjikan juga,’’ imbuhnya.

Soal penjualan secara online melalui aplikasi marketplace seperti Shoppe atau melalui media sosial, Agus kurang berminat. Menurut dia, rumit. Selain itu, penjualan secara online juga harus menaikkan harga. Sebab, banyak potongannya.

‘’Yang menjual online biar para reseller (pengecer, red) saja,’’ ujarnya sembari tertawa.

Ditanya berapa omzet usaha ledrenya per bulan, Agus tidak menjawab terang. Dia hanya mengatakan, penjualan ledre stabil atau bisa dikatakan cenderung sepi di hari-hari biasa. Baru laris jelang lebaran atau musim liburan akhir tahun.

‘’Kalau memungkinkan, kami berharap ada insentif pajak dari pemerintah. Usaha ini kan juga membantu pemerintah mengeksiskan jajanan khas,’’ pungkasnya.

Sabar juga agen ledre di Desa Padangan. Memasarkan ledre dengan merek Ledre Ny. Sabar. Ditemui Bojonegoro Raya di rumahnya pada Jumat (26/9/2026) malam, Sabar mengemukakan, ledre dipasarkan olehnya berasal dari Desa Gapluk, Kecamatan Purwosari.

‘’Ada sekitar 20 produsen ledre di Desa Gapluk yang rutin menyetor ke sini,’’ ungkap Sabar kepada Bojonegoro Raya, Jumat (26/9/2026) malam itu.

Baca Juga :  Limolasan di Situs Wura-Wari, Meneguk lagi Amrtasanjiwani

Pria berusia 60 tahun ini meneruskan, banyak tantangan menjadi agen ledre. Di antaranya, harus siap modal, wajib pintar memilih ledre berkualitas, perlu inovatif membuat kemasan, dan tidak boleh lelah membuka atau memperluas pasar.

‘’Kami punya lima kemasan sekarang. Boks semua. Perbedaannya di ukuran. Kecil, tanggung, besar. Juga tingkat ketebalan,’’ jelasnya.

Namun, kata Sabar, tantangan paling berat baginya adalah soal pasar ledre. Bukan ihwal membeli, menyeleksi, atau mengemas ledre.  Sebab, sebagus-bagusnya kualitas atau kemasan ledre, akan percuma saja jika pasarnya lesu.

‘’Ledre masih menjadi jajanan musiman. Penjualannya sangat dipengaruhi musim liburan. Terutama, libur lebaran dan akhir tahun,’’ tuturnya.

Pada masa-masa liburan tersebut, ledre menjadi salah satu jajanan yang paling dicari orang ketika mampir Kecamatan Padangan atau Bojonegoro. Permintaan ledre pun melonjak berkali lipat dibandingkan hari-hari biasa.

“Saat liburan, kami bisa jual sampai 1.000 boks ledre. Tapi, kalau seperti saat ini, 300 boks per bulan sudah bagus,” ungkapnya.

Menurut Sabar, penjualan ledre juga membutuhkan dukungan lebih kuat dari Pemkab Bojonegoro. Bukan hanya berupa promosi pada saat festival atau event birokrasi. Tapi harus juga soal membuka jejaring pemasaran yang luas, kontraktual, dan berkelanjutan.

‘’Pertemukan kami dengan pusat oleh-oleh, pelaku pariwisata, atau jaringan ritel di Bojonegoro dan luar Bojonegoro. Bantu kami bekerja sama,’’ harapnya.

Soal penjualan online, Sabar melanjutkan, dia sudah melakukan melalui ragam media sosial. Dengan cara tersebut, ledre merek Ledre Ny. Sabar cukup diminati. Banyak dibeli. Sudah melanglang ke sejumlah pulau di Indonesia. Bukan Jawa saja.

“Makin jauh ledre dikirim, makin besar kebutuhan kami terhadap kemasan yang kuat. Itu salah satu tantangan dalam penjualan online ini,’’ pungkasnya.

Baca Juga :  Ledre Perlu Kemasan Lebih 'Manis' dan Berbahasa Inggris

Sebagaimana diketahui, ledre memang rapuh. Jika kemasannya tidak bagus atau kuat, ledre bisa remuk di tengah jalan ketika dikirim ke tempat jauh. Dan, kemasan bagus atau kuat itu mewajibkan agen untuk mengeluarkan biaya lebih.

Untuk diketahui pula, selain Agus Ayub dan Sabar, ada beberapa agen ledre lain di Kecamatan Padangan. Mayoritas berlokasi di Pecinan Padangan dan sekitar perempatan Padangan. Misalnya Ny. Seger, Ny. Alim Yuwono. Ny. Arifin, dan Ny. Khusnul Machfoer. (riz/sab/kza)