BOJONEGORORAYA – Waduk Sonorejo terus bersolek. Menawarkan langgam panorama alam. Memukau mata. Terutama, di kala senja.
Waduk gandeng di Desa Sonorejo, Kecamatan Padangan itu disebut-sebut sebagai Telaga Sarangan versi Bojonegoro.
Sudah banyak UMKM lokal tumbuh bersama Waduk Sonorejo. Menjadi ceruk baru bagi peningkatan pendapatan desa dan masyarakatnya.
Kepala Desa Sonorejo Sundoko mengatakan, Waduk Sonorejo dikembangkan melalui project pariwisata Pesona Waduk Sonorejo (PWS).
‘’Dimulai sekitar tiga tahun lalu. Sejak 2023,’’ ujarnya saat dihubungi Bojonegoro Raya, Selasa (10/2/2026) siang.
Sejak saat itu, lanjut Sundoko, Pemerintah Desa (Pemdes) Sonorejo dan masyarakat gugur gunung merias Waduk Sonorejo sebagai objek wisata.
Secara bertahap, ada penambahan aneka fasilitas. Mulai taman, hingga foodcourt atau pujasera di tepi Waduk Sonorejo.
‘’Saat ini ada 30 stand UMKM di tepi Waduk Sonorejo. Asongan 60-an. Menjajakan ragam kulineran,’’ imbuhnya.
Puluhan pedagang itu, kata Sundoko, sebagian besar merupakan warga Desa Sonorejo. Sisanya warga wilayah sekitar. Termasuk dari Cepu, Blora.
“Ke depan, kami rencanakan ada wahana perahu wisata di Waduk Sonorejo. Juga jogging track di tepinya,’’ ungkapnya.
Perihal jumlah pengunjung Waduk Sonorejo, Sundoko mengatakan, sejauh ini sangat melegakan. Setiap pekan, mencapai ribuan.
‘’Senin sampai Jumat sekitar 1.000-an pengunjung. Sabtu dan Minggu 2.000-an pengunjung,’’ klaimnya.
Sundoko mengenang, sebelum menjadi objek wisata, Waduk Sonorejo hanya lumbung irigasi. Sumber air bagi sawah dan tegalan di sekitar.
Dengan menjadi objek wisata, kini Waduk Sonorejo telah berdampak lebih luas. Mencakup rekreasi dan ekonomi. Tidak sekadar irigasi lagi.
“Kini ada pendapatan untuk karang taruna dan desa. Masyarakat merasakan dampak positifnya,” terangnya.
Sundoko optimistis, project pariwisata PWS akan lebih sukses. Terutama, jika izin tertulis dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo sudah terbit.
Sebab, dengan terbitnya izin BBWS, pengelolaan Waduk Sonorejo bisa lebih optimal. Dapat dimodali anggaran atau dana desa.
‘’Lahan Waduk Sonorejo itu milik BBWS. Bekas Solo Valley. Sementara, kami mengelolanya secara swadaya,’’ pungkasnya. (man/sab)

