BOJONEGORORAYA — Masyarakat Samin di Dusun Jepang, Desa/Kecamatan Margomulyo, merayakan tradisi saban bulan Sura. Dikemas dalam Festival Samin #10.
Minggu (14/6/2026), mereka menggelar tradisi Gemblang atau gembelake sanak kadang. Mengumpulkan saudara, kerabat, sahabat, dan handai taulan dalam satu kebersamaan.
Dalam tradisi itu, masyarakat Samin berbagi makanan antarsesama. Sebagai bentuk atau wujud rasa syukur atas rezeki dan hasil bumi yang diperoleh selama masa panen.
Berlanjut Jumat (19/6/2026) pagi, masyarakat Samin menghelat Gumbregan di perempatan Dusun Jepang. Dalam tradisi itu, masyarakat Samin garebeg makanan. Melahapnya bersama.
Malam harinya, masyarakat Samin menguluk doa dalam tradisi Umbul Donga. Tradisi itu berlangsung di kediaman mendiang tokoh Samin yakni almarhum Mbah Harjo Kardi.
Menutup Umbul Donga tersebut, ada pagelaran Wayang Thengul di Balai Budaya Samin. Itu pertunjukan wayang nonkulit. Khas Bojonegoro. Persisnya, khas Kecamatan Margomulyo.
Keesokan harinya, ada Ngangsu Kawruh Samin. Digelar di Balai Budaya Samin. Dihadiri masyarakat Samin dan khalayak luas. Mulai birokrat, pegiat seni budaya, akademisi, hingga mahasiswa.
Kesenian Oklik khas Bojonegoro menjadi pembuka acara membedah ajaran dan nilai-nilai luhur masyarakat Samin tersebut. Suasana pun meriah, edukatif, dan kontemplatif.
Dalam Ngangsu Kawruh Samin, Tokoh Samin Bambang Sutrisno mengemukakan, tema Festival Samin yang kesepuluh atau satu dekade ini Sabare Dieling-eling, Trokale Dikuati.
Tema tersebut merupakan suatu refleksi keteguhan batin wong Samin. Bagaimana wong Samin perlu senantiasa berjuang menghindari keburukan. Dan, bersikeras dalam kebaikan.
Generasi kelima dari Samin Surosentiko tersebut menandaskan, sejauh ini ajaran Samin tetap lestari di Dusun Jepang. Terutama, lima pitutur luhur Samin yang sudah masyhur itu.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur Sadari hadir dalam Ngangsu Kawruh Samin tersebut. Dia datang jauh dari Surabaya.
Dalam acara itu, Sadari menyampaikan, Disbudpar Jawa Timur mengapresiasi masyarakat Samin. Telah ajeg dalam menjalankan dan melestarikan berbagai ajaran serta tradisi Samin.
‘’Disbudpar Jawa Timur menyambut baik kegiatan (Festival Samin, red) ini,” ujarnya.
Sekretaris Disbudpar Bojonegoro, Lukiswati menyampaikan hal senada. Pihaknya sangat mengapresiasi masyarakat Samin atas terselenggaranya Festival Samin.
Mantan Sekretaris Disdik Bojonegoro ini menyampaikan, Festival Samin merupakan cara apik untuk merawat identitas budaya dan menjaga kearifan lokal masyarakat Samin.
‘’Sekaligus, menghormati para leluhur Samin yang telah mewariskan ajaran-ajaran luar biasa,” imbuhnya.
Lukiswati juga mengapresiasi nilai-nilai luhur dan ajaran Samin yang tetap lestari dan diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Menurutnya, itulah keistimewaan masyarakat Samin.
Dalam waktu dekat, lanjut Lukiswati, suatu tim dari UNESCO akan datang ke Bojonegoro. Mengasesmen Geopark Bojonegoro menuju UNESCO Global Geopark (UGGp).
Kampung Samin yang merupakan salah satu culturalsite Geopark Bojonegoro, kata dia, tentu akan diasesmen pula. Hatta, tim dari UNESCO akan menilik Kampung Samin.
“Mudah-mudahan, hasilnya baik. Dapat memperkenalkan budaya Samin secara lebih luas,” harapnya. (sab/kza)

