Geopark Bojonegoro yang Nyeleneh, Pengeboran Minyak Terdangkal di Dunia

Oleh: Khorij Zaenal Assrori*
Jurnalis Bojonegoro Raya

——————

BUKAN Saudi Arabia. Bukan Iran atau Qatar. Juga, bukan pula Venezuela. Tapi, inilah Bojonegoro. Sebuah kabupaten di Jawa Timur, yang memiliki sistem perminyakan yang unik. Langka. Nyeleneh, (aneh).

Sistem perminyakan terdangkal di dunia. Berbeda. Aneh. Terunik di dunia. Dan, sistem minyak tidak bisa dijumpai di negara-negara lumbung energi atau minyak dan gas (migas).

Arab Saudi, Iran, Qatar, boleh menyandang status negara kaya akan migas. Tapi, negara-negara Timur Tengah yang tajir (kaya) tersebut tidak memiliki sistem perminyakan seperti di Bojonegoro.

Hanya di Bojonegoro, pengeboran sumur minyak cukup dengan kedalaman 100-200 meter. Dalam. Tapi, bagi sepak terjang perminyakan, kedalaman 100-200 meter itu paling dangkal. Terdangkal, dekat permukaan tanah atau puncak lipatan bumi.

Padahal, umumnya pengeboran minyak kedalamannya sampai 1.000 hingga 3.000 meter. Atau setara 3 kilometer. Jarak terpaut jauh. Inilah mengapa, sistem perminyakan yang unik. Berbeda. Aneh. Istilah Jawa: Nyeleneh.

Bukan tiba-tiba. Bukan dadakan. Tapi, sistem minyak tersebut karena pergerakan geologi. Ada fenomena alam yang dahsyat bagi tlatah Rajekwesi. Anugerah alam. Berkah untuk Bojonegoro, dan dunia.

Keunikan inilah menjadi Bojonegoro jadi cermin edukasi tentang perminyakan, bebatuan, dan geologi. Struktur bebatuan yang berbeda di dataran  lainnya.

Sistem perminyakan yang unik ini menjadi salah satu daya tarik tema dalam Geopark Bojonegoro. Dan, menariknya saat ini berlangsung validasi UNESCO Global Geopark (UGGp).

Dua asesor UNESCO asal Jerman dan Cina, saat ini menapaki di tlatah Bojonegoro. Andreas Josef Schuller dan Lie Yue, tampak terperana. Hari pertama kunjungan validasi lapangan, melihat dan menjelajah Teksas Wonocolo.

Teksas Wonocolo ini potret sistem minyak terdangkal di dunia. Terkesima melihat proses menimba minyak dengan menara atau jagak kayu jati. Tali seling  mengular dengan bantuan mesin penggerak diesel atau bekas mesin truk.

Baca Juga :  Agrowisata Kebun Belimbing Dikunjungi Perdana, Pesan Soal Penataan Pedagang

Andreas Josef Schuller dan Li Yue, mengakui di negaranya tidak ada sistem pengambilan minyak sedemikian ini. Sedangkal ini. Sesederhana ini. Lantung atau minyak muntah dari besi timba yang memanjang seperti jarum besar.

Sistem Minyak Terdangkal di Jagat Raya

Bojonegoro memang tidak memiliki gunung dengan hawa dingin. Tidak memiliki hutan pinus yang meneduhkan. Namun, anugerah alam Bojonegoro ini menyimpan kandungan minyak dan gas (migas) yang luar biasa.

Identitas pengeboran minyak terdangkal di dunia karena memiliki lapisan batuan reservoir penghasil hidrokarbon yang berada pada kedalaman sangat ekstrem. Yakni, rata-rata hanya 100-200 meter di bawah permukaan tanah. Fenomena ini karena ada proses geologi yang kuat.

Merujuk penelitian Eko Wibowo dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jogjakarta, wilayah penambangan tradisional minyak tua di Teksas Wonocolo berada di jalur Pegunungan Kendeng.

Ada aktivitas tektonik lokal yang sangat aktif di masa purba. Lapisan kulit bumi di daerah ini tertekan dan melipat ke atas membentuk struktur Antiklin Kawengan. Lipatan bumi ini naik hingga mencapai ketinggian sekitar 450 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Rujukan lain, terkait lapisan minyak berada di atas permukaan laut. Ini terjadi karena dorongan vertikal tektonik yang mengangkat formasi batuan pembawa minyak (Formasi Wonocolo) yang semula terkubur jauh di dalam Rahim bumi mencuat naik ke atas.

Eko Wibowo menjelaskan, puncak lipatan mengalami erosi selama jutaan tahun. Kantong-kantong minyak purba menjadi tersingkap.

Pengeboran sedalam 100-200 meter dari puncak bukit secara absolut yang memastikan posisi reservoir minyak secara teknis bertengger di atas permukaan laut modern.

Sebuah keajaiban yang tidak ditemukan di ladang-ladang minyak di negara lain. Sebuah anugerah alam yang hanya terjadi di Bumi Rajekwesi, sebutan Bojonegoro. Langka dan nyeleneh-kan.

Baca Juga :  Revalidasi Geopark Bojonegoro Berlangsung Pekan Ini, Prasyarat Diakui UNESCO

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat bahwa struktur petroleum system di Bojnonegoro sangat unik dan langka. Lapisan batuan penutup (seal rock) di atas reservoir sangat tipis.

Juga, banyaknya patahan alami mikro yang membuat hidrokarbon cair bergerak bermigrasi ke lapisan batuan paling atas dengan cepat. Kejadian alami inilah, masyarakat lokal di Kecamatan Kedewan sekitarnya, mampu menambang minyak mentah secara tradisional dengan tiang kayu jati.

Bojonegoro Laut Purba Terdangkal di Dunia

Bumi Rajekwesi atau Bojonegoro memang tidak memiliki pantai atau laut. Tidak memiliki gelombang atau ombak. Namun, jangan kecil hati. Ternyata, kawasan Bojonegoro ini memiliki identitas kabupaten dengan laut purba terdangkal di dunia.

Tidak heran, di Bojonegoro, banyak temuan fosil-fosil hewan laut purba. Misalnya, di Desa Jono, Kecamatan Temayang, banyak temuan fosil gigi hiu. Orisinil.

Temuan gigi hiu ini menjadi koleksi-koleksi museum. Termasuk menjadi salah satu koleksi yang bisa dilihat secara langsung di Pusat Informasi Geologi (PIG) Bojonegoro di Jalan Panglima Sudirman.

Juga, di kawasan Kedewan sekitar Teksas Wonocolo, ada temuan fosil udang laut. Hingga fosil kerang.

Ada alasan kuat atas identitas Bojonegoro sebagai laut purba terdangkal. Lini masa jutaan tahun lalu sekitar 2-10 juta tahun lalu periode Miosen hingga Pliosen wilayah ini merupakan bagian Zona Kendeng. Berupa cekungan laut dalam, yang kini terangkat menjadi daratan.

Proses geologi purba memakan waktu jutaan tahun tersebut menjadi berkah bagi Bojonegoro. Hasilnya, Bojonegoro kaya akan sumber kandungan minyak dan gas. Lumbung energi.

Dalam penjelasan, Pemkab Bojonegoro, laut purba terdangkal ini karena terjadi kekuatan tektonik masif melipat dasar laut. Hingga terangkat ke daratan (Antiklin Kawengan).

Baca Juga :  Dunia Berutang pada Bojonegoro, Episentrum Penelitian Petroleum

Lipatan tektonik ini memicu material-material purba seharusnya terkubur ribuan meter di dalam bumi, justru naik dan tersingkap dan mendekat ke permukaan tanah.

Korelasi laut purba inilah yang memicu Bojonegoro mendapat identitas sebagai pengeboran minyak terdangkal di jagat raya.

Sebuah keajaiban alam dari Sang Maha Kuasa. Sebuah fenomena alam dari Tuhan. Harus merawatnya. Menjaganya untuk lingkungan dan manusia.

Namun, di sisi lain industrialisasi minyak dan gas (migas) di Bumi Rajekwesi begitu masif. Besi-besi menjulang tinggi. Pipa-pipa mengular. Mengucurkan energi. Menelurkan dana bagi hasil (DBH) migas triliunan. Pada waktunya, nanti kandungan energi ini akan habis. Semoga kita tidak nyeleneh? (*)

error: Content is protected !!